UNESCO Akui I La Galigo Warisan Dunia

UNESCO Akui I La Galigo Warisan Dunia

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan karya sastra asli Bugis I La Galigo sebagai salah satu memory of the world (MOW) atau warisan budaya dunia.

Jalan Panjang sebuah Naskah

LA Galigo kembali ke Luwu. Saweri Gading, sang ayah yang telah bersumpah tak mau kembali ke kampung halaman, hatinya luluh. Seluruh keluarga akhirnya reuni di Luwu. Itulah bagian akhir naskah yang ditulis Rhoda Grauer. “Saya baru tahu penutupan epik La Galigo demikian,” kata Andi Anton Pangeran, pemuka adat dari Palopo, Luwu.

Memang jarang kisah lengkap La Galigo diketahui orang, bahkan pemuka-pemuka Bugis sendiri. Itu karena epik tersebut tertulis dalam bahasa Bugis kuno, semacam Sanskertanya Jawa. Terjemahan La Galigo ke dalam bahasa Indonesia pun baru dua jilid. Satu terbitan PT Jembatan, satu Universitas Hassanudin. Dan itu pun masih bercerita seputar kehidupan Saweri Gading, belum La Galigo.

Bagaimana Rhoda Grauer bisa menangkap ending cerita, padahal ia tak memahami Bugis kuno? Awalnya ia berkenalan dengan Mohammad Salim. Ahli lontar itu dijumpainya saat ia membuat film dokumenter tentang bissu. Lelaki kelahiran Sidrap 67 tahun lalu itu pernah mendapat kesempatan untuk meneliti naskah La Galigo yang ada di Universitas Leiden, Belanda. Pada zaman kolonial, seorang wanita bangsawan Sulawesi, Arung Pancana Toa, menyalin ulang kisah La Galigo. Salinannya ada 12 jilid, dan itu “diselamatkan” Dr. B.F. Matthes ke Leiden.

Menurut Salim, teks naskah kini sudah kabur. Untung, sudah ada mikrofilmnya. “Keunikan La Galigo itu kalimatnya tidak punya spasi, tapi kalimatnya selalu berpatokan pada lima kata, seperti Sa-we-ri-ga-ding, I-la-ga-li-go,” tutur Salim. Itulah sebabnya ia enak dinyanyikan. “Dulu nenek saya tiap hari selalu “mengaji” La Galigo.” Oleh KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal Leiden) ia mendapat tugas menerjemahkan 12 jilid itu. Dirampungkannya selama lima tahun dua bulan. “Ada 3.000 halaman ketik tangan, kertas itu saya tumpuk tingginya satu setengah meter,” katanya.

Untuk membuat skenario, Grauer mengundang Mohammad Salim ke rumahnya di Desa Balas, Banjarangkan, Klungkung. Salim datang membawa berkoper-koper kertas terjemahannya itu. “Ibu Rhoda belajar selama 10 hari dari pukul 7 sampai 10 malam.” Salim menjelaskan poin-poin penting La Galigo, seorang penerjemah menyampaikannya dalam bahasa Inggris ke Grauer.

Grauer, wanita asal Poughkeepsie, New York, itu sangat hati-hati. Tapi Bob menginginkan fokus yang jelas. Itu membuat Grauer banyak melakukan revisi, menghilangkan adegan yang membingungkan. Grauer membuat naskah sekronologis dan sesederhana mungkin. “Saya tak ingin membuat tafsir atas La Galigo, sebab tidak seperti mitologi, ia belum begitu dikenal,” katanya.

Sesungguhnya La Galigo punya banyak versi. Salim sendiri mengibaratkan kisah La Galigo bak batang pohon. Di tengah membentuk cabang dan ranting ke kiri dan kanan, dan ada ranting yang bisa melenting masuk kembali ke batang. Pokok pohon atau batang itu adalah 12 jilid salinan Arung Pancana Toa. Sedangkan lainnya adalah cerita-cerita carangan. Kehidupan pemuda La Galigo sendiri justru banyak pada teks carangan itu.

Carangan yang lisan tak kalah banyak. Tiap daerah di Sulawesi Selatan bisa memiliki versinya sendiri. Misalnya ada kisah lisan Saweri Gading selama tujuh tahun berada di Mekkah. Di sana Saweri bertemu dengan Nabi Muhammad. Saweri sakti, menantang, tapi kalah. “Saweri Gading menyusun telur bertumpuk tegak seperti pohon, tapi Nabi mengambil satu per satu telur di tengah, tanpa menjatuhkan susunan,” kata Salim. Andi Anton ingat, di rumahnya di Luwu, ibunya memiliki kotak yang berisi teks La Galigo. “Teks itu diteliti Dr. Gilbert Hamonic dari Prancis dan ternyata isinya menggabungkan tasawuf Islam dengan kisah La Galigo,” kata Andi.

Pernah, atas biaya Ford Foundation, Salim menyuruk ke desa-desa Sulawesi memburu teks-teks carangan ini, sambil membawa genset karena banyak tempat yang tidak ada listrik.” Di Pare-pare, ada sebuah teks disimpan dalam sebuah kotak yang tak pernah dibuka, tapi tiap malam jumat dipotongkan kambing,” tutur Salim. “Saya membayangkan ratusan tahun lalu di berbagai rumah di pedesaan Sulawesi, seorang penembang dalam ruang gelap-gulita menyanyikan I La Galigo. Para pendengar terpesona, dan setelah pulang menambah sendiri-sendiri cerita itu,” tambah Grauer.

Memang masuk akal bila kemudian La Galigo adalah epos terpanjang di dunia. Baik Salim maupun Grauer mengharapkan pementasan La Galigo oleh Wilson dapat menjadi sebuah surat undangan kepada siapa pun di dunia untuk berkelana lebih jauh ke dalam kekayaan dan misteri La Galigo.

 

Sumber : jendelasastra.com