Tradisi Lama Khas Buton “Posuo Primadona Festival Budaya Tua Buton 2015”

Tradisi Lama Khas Buton “Posuo Primadona Festival Budaya Tua Buton 2015”
Pemkab Buton baru saja sukses menggelar Festival Budaya Tua 2015. Jika dua kali penyelenggaran sebelumnya menonjolkan Pedole-dole dan Pekande-kandea. Tahun ini, selain dua tradisi lama khas Buton itu juga ada Posuo yang menjadi promadonanya. 

Di puncak acaranya, 500-an gadis keluar rumah setelah melaksanakan Posuo atau pingitan selamat 4 hari. Mereka keluar rumah dan berkumpul di Baruga, rumah adat orang buton di Pasarwajo, Ibukota Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Di rumah panggung dari kayu itu, mereka melakukan ritual pelepasan, sebelum akhirnya berjalan sekitar 1 Km menuju Lapangan Banabungi yang menjadi pusat acara.

Setelah dipinggit beberapa hari, dalam sebuah ruangan atau kamar secara berkelompok, tidak boleh terkena sinar matahari dan kilit mereka dibaluri luluran dari bahan-abaahn alami lokal, membuat kulit wajah para gadis putih cerah berseri.

Kecantikan mereka semakin menonjol karena mengenakan Kombo, pakaian adat tradisional Buton dengan tata rias lebih dari biasanya. Ditambah dengan sejumlah aksesoris etnik seperti kalung, gelang, anting, dan hiasan kepala yang makin membuat mereka terlihat cantik, beda dibanding sebelum dipingit.

Di sana, para gadis pun bertemu dengan masyarakat yang berdatangan termasuk sejumlah wisatawan nusantara dan mancanegara. Ada yang berkenalan dan kemudian berlanjut ke pertemanan lebih dekat dan bahkan mungkin ke jenjang yang lebih serius. Karena sebenarnya setelah dipingit, para gadis itu sudah siap disanding.

Tika, salah satu gadis Buton mengaku senang bisa ikutan Posuo secara massal untuk kali pertama ini. “Lebih seru dan ternyata menyenangkan bisa ikutan tradisi tua Buton ini,” akunya.

Bupati Buton Samsu Umar Abdul Samiun dalam sambutannya mengatakan tradisi Posuo menjadi promadona dalam Festival Budaya Tua Buton tahun ini. Hal ini dilakukan agar masyarakat Buton dapat terus melestarikan budaya tua tersebut. “Ini adalah tradisi memingit gadis Buton yang telah mengalami haid pertama. Semua gadis Buton harus dipingit 4 hari sebelum bisa dilamar dan menikah dengan pria idaman,” ungkapnya.

Menurut Samsu Umar jika tradisi tua ini dilaksanakan perorangan, biayanya akan lebih mahal. Sekali Posuo bisa menghabiskan Rp 40-50 juta per orang. Karena itu banyak orangtua yang tidak melakukan Posuo pada anak gadisnya karena ketidaktersediaan dana, padahal menurut adat, Posuo itu harus dilakukan.

Untuk mengangkat kembali tradisi Posuo, Pemkab Buton berusaha memberikan bantuan kepada masyarakat Buton yang memiliki putri untuk dipingit massal lewat festival ini. “Kalau Posuo dilakukan beramai-ramai, biayanya akan jauh lebih murah. Dari puluhan juta rupiah bisa jadi Rp 1,4 juta per orang. Sehingga masyarakat Buton tidak terlalu terbebani dalam melaksanakan adat tua satu ini,” terangnya.

Kadisbudpar Kabupaten Buton Abdul Zainuddin Napa menjelaskan Festival Budaya Tua Buton 2015 yang berlangsung 6 hari, diisi sekitar lima rangkaian kegiatan yakni pameran, menyambut Sail Tomini, Pedole-dole atau imunisasi khas orang Buton sebanyak 1.000 bayi, Pekande-kandea atau makan bersama dengan menyediakan 2.000 talang yang berisi aneka makanan dan penganan khas Buton, dan Posuo atau pingitan yang berjumlah 500 gadis lebih. 

Zainuddin Napa mengaku Festival Budaya Tua Buton yang digagas Pemkab Buton menjadi kalender daerah yang diselenggarakan setiap tahun dan diharapkan akan menjadi agenda Nasional. Sapai tahun ini, Fetival Budaya Tua Buton sudah dilaksanakan tiga kali berturut-turut setiap tahun.
Pada festival pertama 2013 lalu, Pemkab Buton berhasil mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) No: 6105/MURI/VIII/2013 yang dianugrahkan kepada Bupati Buton atas pemrakarsa dan penyajian pesta adat Pekande-kandea dengan jumlah 1090 talang.
Pada festival kedua tahun 2014, Pemkab Buton kembali meraih penghargaan rekor MURI dengan No : 6592/R.MURI/VIII/2014 yang ditandatangani langsung ketua umum MURI Dr (HC) Jaya Suprana dan diserahkan oleh Senior Manager Museum Rekor Dunia Indonesia, Paulus Pangka SH. Penghargaan tersebut diraih Pemkab Buton atas penyajian talang sebanyak 2009 dan berhasil memecahkan rekor jumlah talang tahun sebelumnya.
Festival ke tiga tahun ini selain berhasil menyedot puluhan ribu pengunjung, juga menarik minat para turis asing dari rombongan Sail Tomini. Para pelayar mancanegara itu menggunakan kapal layar yang kemudian bersandar di Teluk Banabungi. Ada yang berasal dari Belgia, Irlandia, Belanda, Inggris, Australia, dan Amerika.
Usai sukses menggelar Festival Budaya Tua Buton 2015, lanjut Zainuddin Pemkab Buton akan mempersiapkan Visit Buton 2016 dan menargetkan diri menjadi tuan rumah Sail Indonesia 2017 mendatang.

adji kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)/image zonasultra.com