Suasana Ramadhan Menjadi Sebuah Keunikan di Banda aceh

Suasana Ramadhan Menjadi Sebuah Keunikan di Banda aceh

Suasana bulan Ramadan di Aceh berbeda dengan bulan-bulan lain. Selama puasa, siang hari terasa lowong dan sepi. Sedangkan sore hari, semua ramai dan tumpah ruah di jalan.

Pantauan detikTravel, hari kedua Ramadan suasana pusat keramaian seperti pertokoan masih sepi hingga siang hari, Selasa (7/6/2016). Jalanan juga sepi dari lalu lalang pengendara atau pejalan kaki. Warga mulai ramai “menyerbu” pasar pada sore hari untuk membeli berbagai jajanan berbuka.

Lapak pedagang aneka menu berbuka terlihat di pinggir-pinggir jalan di Aceh. Di sana, minuman seperti air tebu, air kelapa, dan berbagai minuman dan makanan disediakan. Harganya pun masih terjangkau untuk semua kalangan. Pedagang mulai menjajakan barang dagangan mereka mulai pukul 16.00 WIB sore.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal, mengatakan, jika suasana Ramadan seperti ini masih dipertahankan akan menjadi sebuah keunikan dan dapat menarik wisatawan. Hingga tahun ini, suasana Ramadan masih sangat terasa di Tanah Rencong.

“Jika budaya ini bisa dipertahankan ini juga bisa menjadi sesuatu yang menarik bisa jadi destinasi wisata seperti orang datang ke Bali untuk perayaan Nyepi. Maka datang ke sini (Aceh) untuk Ramadan dan Hari Raya,” kata Illiza kepada wartawan, minggu lalu.

Suasana yang dibangun di Aceh hingga saat ini yaitu suasana Ramadan. Menurut Illiza, dibeberapa daerah di Indonesia para pedagang bebas membuka warung seperti hari-hari biasa sehingga tidak ada perbedaan antara puasa dengan bulan-bulan lain.

“Kalau kita ke tempat lain mungkin tidak tahu suasana Ramadan atau bukan karena orang makan di mana-mana. Dan jangan sampai terjadi seperti itu di daerah yang menerapkan syariat Islam,” jelasnya.

Sedangkan untuk non Muslim yang tinggal di Banda Aceh, diperbolehkan berjualan tapi dengan syarat tidak terlihat oleh umum. Biasanya, pemilik warung non Muslim menutup pintu warung dengan tirai sehingga jika ada orang makan di dalam tidak terlihat ke luar. Mereka juga diminta untuk menghormati umat Islam yang melaksanakan puasa Ramadan.

“Kita juga sudah mengeluarkan seruan bersama terkait pedagang makanan dan minuman. Para pedagang boleh buka warung mulai pukul 16.00 WIB,” ungkap Illiza.

travel.detik.com/Image bujangmasjid.blogspot.com