SIMFes 2012, Kota Sawahlunto dihadiri Musisi Lima Benua

SIMFes 2012, Kota Sawahlunto dihadiri Musisi Lima Benua

Untuk ketiga kalinya, Kota Sawahlunto kembali menggelar pagelaran music etnik bertaraf internasitional. Pagelaran music yang bertajuk Sawahlunto International Musik Etnic Festival atau yang lebih dikenal dengan SIMFes ini, selalu menjadi acara yang ditunggu tunggu pada saat perayaan Hari Jadi Kota Sawahlunto yang jatuh pada tanggal 1 Desember.

Untuk ari jadinya  ke-124 yang jatuh pada tanggal 1 Desember 2012 lalu, Kota Arang ini kembali member gebrakan dalam SIMFes, dengan menampilkan musisi-musisi dari 7 (tujuh) negara dari 5 (lima) benua. Ini merupakan impian Pemerintah Kota Sawahlunto untuk mencoba menghadirkan musisi-musisi etnik dari lima benua yang ada di dunia. Adapun negara-negara yang ambil bagian dalam pertunjukan seni music tradisi ini adalah musisi dari Jerman, India, Swiss, Amerika, Senegal, Australia, dan Malaysia. Untuk penyelenggaraannya SIMFes sendiri berlangsung pada tanggal 1 s/d 3 Desember 2012 lalu

Suara merdu khas India Moushumi Bhowmik  dengan melantunkan dendang kesedihan. Suara penyanyi perempuan Bengali, India itu membuat hening penonton. Ia melantunkan lagu dalam bahasa bengali tentang kekhawatiran seorang perempuan muda yang sedang hamil tentang nasib calon anaknya.

Nyanyian Moushumi yang diiringi petikan dotara Satyaki Banerjee memukau penonton di  Sawahlunto Internasional Musik Festival (SIMFes) 2012 pada malam terakhir festival, Senin, 3 Desember 2012.

Suasana pentas di lapangan terbuka di kawasan Silo, bekas areal proses batubara, memperkuat kesan kota lama. Tiga bangunan raksasa beton bekas penyimpanan batubara di samping pentas terlihat samar menjulang ke langit. Ketiga silo tersebut mengisyaratkan betapa kokoh nya kota ini dengan adanya batubara.

Moushumi juga mendendangkan lagu lain tentang sejarah Hindu dan Islam di India. Moushumi, kelahiran 1964 adalah artis dan pencipta lagu berbahasa Benggali yang populer dengan beberapa album.

Selain Moushumi Bhowmik dan Satyaki Banerjee (India), juga tampil Ndokounate (Senegal), Kenny Endo (Hawaii, USA), grup  musik Cajun Roosters (Jerman), Bernhard A’Batschelet (Swiss), Kim Sanders dan Ron Reeves (Australia).

Dari dalam negeri tampil Taufik Adam Minstrel, Altajaru, Krontjong Toegoe, Muhamad Halim, dan tiga grup dari ISI Padangpanjang.

Ndokounate memukau penonton dengan lagu dan petikan “kora”-nya. Ia yang seorang muslim menyapa penonton dengan “Assalamualaikum” dan menyuguhkan sebuah lagu bertajuk “Insya Allah”.

“Apakah kamu ingin membayar saya?” sapanya bergurau kepada penonton yang masuk dengan gratis.

Berbeda dengan malam pertama dan kedua di mana para musisi tampil sendiri atau dengan grup mereka, malam terakhir itu para musisi banyak tampil kolaborasi dengan musisi negara lain. Memunculkan perpaduan musik enik dari berbagai negara.

Kenny Endo, musisi dari Amerika Serikat menggebrak pentas dengan pertunjukan “kabuki” pada malam pertama. Pria keturunan Jepang kelahiran di Los Angeles yang biasa bermain musik di Hawai memperlihatkan kepiawaiannya menabuh “oteko” dan “kotzumi”, diselingi “shinobue”.

Pada malam terakhir Endo berkolaborasi dengan Bernhard A’Batschelet (flute), Muhammad Halim (saluang), dan Taufik Adam (gendang). Musik jepang berpadu dengan eropa dan minangkabau (Indonesia).

Grup  musik Cajun Roosters menggebrak panggung dengan musik terdengar country mengiringi empat lagu. Cajun Roosters adalah grup musik terkenal di Eropa. Tampil empat personil, Chris Hall dan kawan-kawan memperlihatkan kepiawaian menggunakan alat musik. Beberapa berganti memainkan guitar, scrubboard, biola, dan akordeon.simfest

Tak kalah memukau adalah penampilan Kim Sanders dan Ron Reeves. Diiringin gendang  Reeves, Sanders memainkan seruling, kemudian alat musik yang “sulit” bagpipes.

Penampilan musisi dari Jakarta dan Padangpanjang tak kalah memukau penonton. Tiupan saluang dan serunai Muhammad Halim menempatkan posisi alat musik tradisional Minangkabau (Sumatra Barat) tak kalah dari alat-alat musik tradisional dari negara lain.

Penampilan musik dan nyanyi “Galuik Tangkelek” (Gelut  Sandal Kayu) dari ISI Padangpanjang memberikan warna yang menarik. “Tangkelek” adalah sandal dari kayu khas Minangkabau yang menimbulkan suara musik dari permainan kaki sekelompok pemusik.

Kroncong Toegoe dari Jakarta melengkapi acara dengan warna musik keroncong yang variatif dan modern. Grup Kroncong Toegoe selalu tampil setiap tahun SIMFes meski grup lain selalu diundang berbeda.

Impian Walikota Sawahlunto, Ir. Amran Nur untuk mewujudkan hadirnya musisi-musisi etnik dari lima benua-pun terwujud. Ia berharap, SIMFes dapat mengangkat nama Sawahlunto di dunia international sekaligus sebagai ajang promosi untuk menarik wisatawan berkunjung ke Kota Arang ini.

“Festival ini sebagai pelengkap untuk pengakuan bahwa Sawahlunto bisa menjadi tujuan wisata heritage dan budaya yang penting di Indonesia,” ujarnya. (Adrial-Dari berbagai sumber)