Semarang Rayakan 610 Tahun Kedatangan Laksamana Cheng Ho

Semarang Rayakan 610 Tahun Kedatangan Laksamana Cheng Ho
Kota Semarang memperingati 610 tahun kedatangan Laksamana Cheng Ho (di sana) dengan menggelar kirab budaya. Perayaan tahun ini juga diikuti dengan diluncurkannya “Jalur Samudera Cheng Ho” sebagai daya tarik destinasi pariwisata di Semarang oleh Menteri Pariwisata, Arief Yahya.
Sebuah kirab budaya digelar pada Kamis (13/8/2015) dengan melibatkan dua kelenteng besar di Semarang, yakni Kelenteng Besar Tay Kak Sie di Gang Lombok dan Kelenteng Agung Sam Poo Kong (Gedung Batu), Simongan. Perayaan ditandai dengan mengarak arca Sam Poo Tay Dijen dari Klenteng Tay Kak Sie ke Klenteng Sam Poo Kong. Puncak perayaan kedatangan Cheng Ho sendiri dirayakan dengan pesta kembang api selama 15 menit tepat pukul 00.00 Kamis dini hari. Sebelumnya pengunjung yang sudah memadati Sam Poo Kong dihibur dengan berbagai pertunjukan tari dan barongsai.
Kirab digelar dari Kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok 62 menuju Kelenteng Sam Poo Kong Gedung Batu di Jalan Simongan, dilaksanakan sejak pukul 5 pagi, Kamis (13/8). Dalam kirab mengusung kio (tandu) kimsin (arca) Sam Poo Tay Djien, tay ciang, prajurit pembawa pusaka lambang kebesaran kerajaan Tiongkok, dilengkapi kuda dan rombongan bhe koen (pengawal kuda dengan wajah diwarnai. Ribuan warga kota dan wisatawan keturunan Tionghoa datang dari berbagai kota di Indonesia menghadiri agenda pariwisata Provinsi Jawa Tengah itu.
Kirab ke Kelenteng Sam Poo Kong sendiri bermakna prosesi pembebasan kesewenangan. Menurut cerita warga, ketika itu Simongan dalam kekuasaan seorang kaya yang menarik biaya tinggi bagi peziarah yang menyulitkan warga Tionghoa yang datang bersembahyang. Untuk mengatasinya, dibuatlah duplikat patung Cheng Ho yang ditaruh di Kelenteng Tay Kak Sie agar mendapat berkahnya, duplikat patung tersebut setiap tahun dibawa ke Sam Poo Kong kemudian kembali ke Tay Kak Sie.
Selama tiga tahun ini, penyelenggaraan perayaan kedatangan Cheng Ho ke Semarang terkendala penanggalan. Dengan diresmikannya paket wisata Jalur Cheng Ho di Klenteng Sam Poo Kong Semarang tersebut diharapkan peringatan kedatangan Cheng Ho bisa dilakukan setiap tahunnya sehingga menjadi agenda wisata tahunan. Kedatangan Cheng Ho itu pada bulan ke 6 tanggal 30 (penanggalan Tiongkok) yang tidak selalu tetap dalam penanggalan Masehi. Selama tiga tahun sebelumnya pananggalan tersebut berbenturan dengan bulan Ramadan sehingga tidak dirayakan secara besar-besaran.
Peluncuran “Jalur Samudera Cheng Ho” di Semarang ditujukan untuk menjadikan kota tersebut sebagai tujuan wisata sejarah dengan beberapa objek wisata peninggalan kebudayaan Tiong Hoa di Indonesia. Semarang sendiri merupakan ‘pusat’ sejarah Cheng Ho di Indonesia dimana ditunjukkan dengan keberadaan Kelenteng Cheng Ho dan keturunan dari anak buah kapal yang menetap di sana.
Semarang memiliki beragam tujuan dan daya tarik pariwisata. Selain Kelenteng Agung Sam Poo Kong dan Patung Laksamana Cheng Ho di dalamnya, ada juga Vihara Budhagaya Watugong, Gereja Blenduk + Kota Lama, Lawangsewu, Taman Margasatwa Semarang, Goa Kreo + Waduk Jatibarang, Kampoeng Wisata Taman Lele, dan Water Blaster. Selain itu, ada pula wisata kuliner seperti Pujasera Simpang Lima, Pujasera Menteri Supeno, Waroeng Semawis Pecinan, dan Pusat oleh-oleh Pandanaran.
Indonesia melalui Kementerian Pariwisata tengah berupaya menggunakan sejarah Muhibah Cheng Ho sebagai branding pariwisata untuk menarik wisatawan asal Tiongkok datang ke Indonesia. Itu karena Indonesia merupakan salah satunegara yang paling sering dikunjungi Cheng Ho pada masa pelayaran (1405 – 1433) dan memiliki peran  penting dalam penyebaran ajaran Islam melalui jalur laut di Nusantara. Setidaknya ada 5 Prinsip Cheng Ho yang dijadikan landasan menjadikannya sebagai dayatarik wisata, yaitu: menunjukkan intensi/maksud secara jelas, kemurahan hati (generosity), hubungan saling menguntungkan, Kesinambungan (sustainability), dan membangun kepercayaan (trust).
Muhibah Terbesar dan Misi Perdamaian yang Melegenda
Pelayaran Samudera Cheng Ho dikenal sebagai perjalanan terbesar dalam penjelajahan maritim dunia dimana melibatkan lebih dari 200 kapal (ada yang menyebut hingga 400) yang terangkum dalam 7 kali perjalanan dunia. Dari 7 kali muhibah samudera, armada Cheng Ho singgah di Nusantara sebanyak 5 kali dan itu telah memengaruhi kebudayaan dan sistem politik Kota Bandar yang disinggahinya. Di Nusantara, armada Cheng Ho singgah di Samudera Pasai, Lambri (Aceh Raya), Palembang,  Bangka, Majapahit, Tuban, Gresik, Surabaya, Semarang, Cirebon, dan Demak. Kedatangan armada Cheng Ho ke berbagai tempat tersebut mendorong kemajuan usaha perdagangan dan perekonomian di Nusantara.
Berbeda dengan bahariwan Eropa yang berbekal semangat imperialis, Armada raksasa Cheng Ho tidak berniat menduduki tempat-tempat yang disinggahinya. Cheng Ho tidak menggunakan kekuatan armada lautnya untuk menaklukkan wilayah yang disambanginya. Cheng Ho justru mempraktekkan diplomasi damai ketika melakukan penjelajahan maritim. Cheng Ho yang seorang Muslim dan penganut Konfusianisme memiliki pandangan global dan toleran terhadap bangsa yang berbeda agama dan kebiasaan hidup.
Armada Cheng Ho  membawa misi perdamaian dan persahabatan dalam hubungan antarnegara yang memiliki perbedaan sistem politik. Secara bersamaan Cheng Ho justru berhasil mengenalkan budaya Tiongkok dan mengukuhkan kekuatan maritim Tiongkok pada masa Kekaisaran Dinasti Ming. Selain itu, misi muhibahnya juga ditujukan untuk menyebarkan agama (Islam) serta memberi dukungan bagi imigran Tionghoa agar menjalin hubungan akrab dengan penduduk pribumi dimana sebelumnya banyak pedagang asal Tiongkok yang beragama Islam bermukim di pesisir pantai utara Jawa.
Selain pertukaran diplomasi, Cheng Ho juga berperan penting dalam bidang ekonomi, terutama pariwisata, perdagangan laut, dan mempromosikan kebudayaan Tiongok. Cheng Ho berhasil menyebarluaskan keluhuran budaya Tiongkok tanpa menginvansi kawasan lain. Dalam 5 kali persinggahannya di Nusantara, Cheng Ho mengenalkan teknologi dan kemampuan produksi, gaya hidup masyarakat Tiongkok kepada masyarakat Nusantara. Cheng Ho menanamkan rasa persaudaraan pada setiap daerah yang dikunjunginya seperti membangun tempat peribadatan yang menunjukkan adanya sinkretisme antara Islam, budaya lokal, dan Tionghoa.
Di kota-kota pesisir Nusantara yang disinggahi Cheng Ho ditemukan tempat peribadatan dan menunjukkan sinkretisme antara Islam, budaya lokal, dan kepercayaan Tiongkok. Sebagian penduduk Cirebon memercayai Cheng Ho dan anak buahnya mengajarkan leluhur orang Cirebon bercocok tanam padi. Begitu pula dengan corak batik lasem yang menunjukkan pengaruh kuat motif Tiongkok.
Kisah pelayarannya tidak hanya menorehkan jejak sejarah yang mengagumkan di setiap wilayah yang dilaluinya tetapi juga telah mengilhami ratusan karya ilmiah baik fiksi maupun non-fiksi serta penemuan berbagai teknologi navigasi kelautan dan perkapalan di Eropa. Dari pelayaran luar biasa Cheng Ho dihasilkan buku “Zheng He’s Navigation Map” yang telah mengubah peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Di dalamnya memuat 24 peta navigasi mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan. Karena ekspedisi laut Cheng Ho-lah maka jalur perdagangan Tiongkok dan dunia Timur dan Barat berubah, yaitu tidak sekadar bertumpu pada ‘Jalur Sutera’ antara Beijing dan Bukhara.
Kapal yang ditumpangi Cheng Ho yang disebut “Kapal Pusaka” merupakan kapal terbesar abad ke-15. Panjangnya mencapai 44,4 zhang (138 m) dan lebar 18 zhang (56 m). Lima kali lebih besar daripada kapal Columbus. Menurut sejarawan, JV Mills kapasitas kapal tersebut 2500 ton. Model kapal itu menjadi inspirasi petualang Spanyol dan Portugal. Desainnya megah, tahan terhadap badai, serta dilengkapi teknologi navigasi canggih pada masanya seperti kompas magnetik.
Armada pelayarannya berjumlah 62 kapal besar dengan 225 junk atau kapal berukuran lebih kecil dengan 27.550 orang perwira dan prajurit termasuk di dalamnya ahli astronomi, politikus, pembuat peta, ahli bahasa, ahli geografi, para tabib, juru tulis, dan intelektual agama. Cheng Ho mengorganisir armada dengan rapi meliputi Kapal Pusaka (induk), kapal kuda (untuk mengangkut barang-barang dan kuda), kapal perang, kapal bahan makanan, kapal duduk (kapal komando), serta kapal-kapal pembantu. Awak kapalnya ada yang bertugas di bagian komando, teknis navigasi, militer, dan logistik.
www.indonesia.travel