Sekilas perjuangan pembentukan Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh

Sekilas perjuangan pembentukan Kabupaten  Kerinci dan Kota Sungai Penuh

Catatan sejarah menyebutkan, jauh sebelum daerah Kerinci pernah menjadi bagian dari Ke residenan Jambi, setelah itu pada tahun 1922 Kerinci dipindahkan kedalam kekuasaan Keresidenan Sumatera Barat,setelah dimasukan kedalam Keresidenan Sumatera Barat pada tahun 1927 Kerinci pernah menyuarakan keinginannya agar kembali lagi kedalam Keresidenan Jambi,namun aspirasi rakyat Kerinci pada tahun 1927 itu tidak mendapat tanggapan dari pemerintahan Belanda yang menjajah Jambi saat itu.Ketika  rakyat Riau dan Jambi  mengajukan otonomi daerah tingkat I, rakyat Kerinci kembali menyampaikan keinginannya bersatu dalam Propinsi Jambi (PidatoProf.Idris Jakfar,SH:Sekitar Perjuangan Otonomi Daerah Tingkat II Kabupaten Kerinci: Diterbitkan oleh Pemda Tingkat II Kabupaten Kerinci  10-11-1989 )Alasan dan pertimbangan yang mendorong rakyat Kerinci untuk bergabung dengan Propinsi Jambi antara lain:

  1. Daerah Kerinci,seluruh  Kerinci  Rendah  dan  sebagian  Daerah  Kerinci Tinggi berada dalam Satu   kesatuan  dengan  Keresidenan Jambi.Dengan  demikian maka daerah Kerinci sekarang yang pada  mulanya  merupakan  satu  kesatuan dengan  yang lainnya,menjadi terpisah dari kesatuan Luak nan  XVI  dan  Kerinci Rendah.
  2. Secara historis  pada masa lalu Kerinci mempunyai hubungan persahabatan yang erat dengan Jambi   persahabatan  tersebut  terjalin baik antara Depati  Empat Alam Kerinci dengan Kesultanan Jambi
  3. Daerah  Keresidenan Sumatera Barat mempunyai wilayah yang sangat luas,hal ini telah menyebab   kan  daerah kecil dan terisolir  yang  dinaunginya  seperti daerah Kerinci menjadi kurang mendapat  perhatian
  4. Sehubungan dengan poin 3 diatas, maka bila daerah Kerinci berada dalam Propinsi yang relatif  kecil wilayahnya, diharapkan  gerak  pembangunan  dapat berjalan relatif  lebih   cepat dan aspirasi  rakyat akan mudah disalurkan.

Menurut Profesor.H.Idris Jakfar,SH ( Pidato 10 -11-1989)Perjuangan dalam mengupayakan otonomi daerah ini,secara resmi disuarakan rakyat Kerinci pada tahun 1939 dalam  Minangkabau Raad di Padang oleh tokoh rakyat Kerinci saat itu yakni H.Muchtaruddin dan Sati Depati Anum. Penyampaian aspirasi yang disampaikan oleh tokoh rakyat Kerinci saat itu ditanggapi dengan baik oleh pemerintahan Belanda, pada prinsipnya pemerintah Belanda pada saat itu tidak berkeberatan atas adanya keinginan itu,hanya saja pemerintahan Belanda saat itu menangguhkan untuk mengabulkan aspirasi itu dengan pertimbangan menunggu jalan Jambi – Kerinci selesai di buka, pentingnya jalan tersebut agar memudahkan dalam koordinasi Pemerintahan.

H.Muchtaruddin,Ketua-DPRD-Kerinci-pertama

(H.Muchtaruddin,Ketua DPRD Kerinci pertama)

Alasan yang disampaikan oleh pemerintahan Belanda saat itu dapat diterima dengan baik oleh rakyat Kerinci,dan untuk beberapa tahun lamanya masalah ini tidak muncul kepermukaan,rakyat Kerinci dengan sabar menunggu janji Belanda,tetapi dalam kenyataannya sampai Belanda takluk kepada Jepang (1943) jalan Jambi-Kerinci yang ingin dibuka itu belum kelihatan akan di realisir dan daerah Kerinci tetap  masih berada dalam Keresidenan Sumatera Barat.

Pada masa penjajahan Jepang, rakyat tidak berani menyuarakan masalah ini, karena rakyat takut akan kekejaman Jepang,disamping itu keadaan ekonomi rakyat waktu itu sangat menyedihkan, dan rakyat Kerinci tidak sempat memikirkan hal itu.Setelah terhenti sekian lama, perjuangan ini dimunculkan kembali pada awal tahun 1947 oleh Sati Depati Anum bersama istrinya Supik Bakri

Sambung hal2….