Sejarah Kebun Teh Kajoe Aro dan Riwayatmu kini…..

Sejarah Kebun Teh Kajoe Aro dan Riwayatmu kini…..

Pasca Kerinci dikuasai Belanda melalui perlawanan gigih para hulubalang dan segenap pejuang dan rakyat alam Kerinci tahun 1902-1906. Para pejuang yang dipimpin Panglima Perang Depati Parbo dari Lolo wilayah Gunung Raya, H.Ismail. Bilal Sengak panglima perang Pulau tengah, dengan gagah berani bertempur menghadapi serdadu Belanda. Namun jatuhnya Pulau Tengah ke tangan Belanda melalui pertempuran sengit dan paling lama dalam sejarah perjuangan alam Kerinci, maka lambat laun alam Kerinci terintegrasi ke dalam lingkaran administrasi ciptaan Belanda, bumi Kerinci berhasil diduduki Belanda melalui proses yang tidak mudah.

Catatan sejarah mengungkapkan alam Kerinci baru dapat dimasuki dan diduduki penjajahan Belanda pada tahun 1906 melalui pertempuran hebat dari akhir tahun 1902 -1903 hingga awal tahun 1906, dengan demikian alam Kerinci hanya dijajah Belanda tidak lebih dari 40 tahun. Walau hanya 40 Tahun dijajah Belanda dan 3,5tahun dijajah Bangsa

Jepang, namun penderitaan yang dialami oleh rakyat Kerinci sangat berat, Belanda dan Jepang dalam tindakannya tidak ubahnya ”Setali Tiga Uang”. kedatangan Jepang tidak ubahnya “Jatuh dari Mulut Harimau masuk ke mulut Buaya”, mereka menghisap darah rakyat melalui kerja paksa dan pungutan Pajak yang menyengsarakan rakyat alam Kerinci.

Setelah pertempuran 1903-1906 nyaris tidak terjadi perlawanan berarti dari rakyat di alam Kerinci, perlawanan hanya dalam bentuk letu­pan letupan dan perlawanan kecil secara sporadis di beberapa dusun, para pejuang dengan senjata rakitan tradisional dikalahkan oleh senjata modern milik kaum penjajah. Dalam kurun waktu 1906-1920-an hanya sempat terjadi peristiwa penembakan pemimpin Belanda oleh H.Bakri Depati Simpan Negeri pada tahun 1914, dan pada peristiwa itu H.Bakri gugur dalam penyergapan dan serangan dahsyat yang dilakukan oleh serdadu Belanda. H.Bakri gugur sebagai suhada di areal persawahan (Tanah Munggok) tidak jauh dari kediamannya.

Pegunungan Bukit Barisan yang membentang dari Utara ke Selatan Pulau Sumatera bagian Barat, bertitik pusat di daerah Kerisedenan Suma­tera Barat, Propinsi Sumatera Tengah, pada masa pendudukan Kolonial Belanda sampai tahun 1958 Kerinci termasuk wilayah Sumatera Barat.

Setelah diduduki Belanda sejak 1903, Kerinci dipertahankan sebagai daerah otonom, dalam arti tidak termasuk bagian dari Sumatera Barat dan bukan juga bagian dari Jambi sebagaimana yang dikenal saat ini.

Tahun 1921, Kerinci ditetapkan sebagai bagian dari Afdeling (setingkat Kewedanaan) dalam Keresidenan Sumatera Barat Unit pemerintahannya lebih sederhana, hanya ada tiga daerah onderafdeling (Kecamatan) yakni (I) Painan dan Batang Kapas, ( ii ) Balai Selasa dan Inderapura, (iii) Kerinci, dalam tahun 1929 afdelling Painan dihapuskan dan digabungkan menjadi Kerinci hal ini membuat hubungan emosional Kerinci lebih dekat dengan Sumatera Barat daripada ke Jambi, hubungan emosional ini terjadi jauh sebelum kedatangan Belanda,Pada masa Jepang dan Perang Kemerdekaan sampai tahun 1958 tetap berstatus sebagai bagian dari daerah administrasi Sumatera Barat.Pada masa itu (1942 –195 ) Kerinci merupakan salah satu kewedaan dalam Kabupaten Pesisir Selatan-Kerinci ( PSK).Ketiga daerah Sumatera Tengah di mekarkan menjadi tiga Propinsi pada tahun 1958 masing masing Propinsi Sumatera Barat, Propinsi Jambi dan Propinsi Riau, Kerinci menjadi daerah yang berstatus Kabupaten dan merupakan bagian dari Propinsi Jambi dengan ibukota Kabupaten Kerinci di Sungai Penuh..

Ketika Kerinci masih menjadi bagian dari Sumatera Barat,Kerinci pada masa itu merupakan daerah yang paling subur tanahnya di se­luruh kepulauan nusantara,dalam hal makanan daerah ini sejak awal telah mampu mencukupi kebutuhan sendiri, dan penduduknya sering menyebutkan daerahnya dengan istilah “God’s Own Country”. Kesuburan lahan di kawasan Sumatera Barat khususnya di alam Kerinci disebabkan karena lahan di daerah ini permukaann tanahnya diselimuti oleh bahan pegunungan (Vulkanische Materiaal) yang menyelimuti permukaan lahan lahanya yang berbukit bukit.

Bahan alam berupa tanah alluvial, granite dan andesit yang me­nyelimuti dataran tingginya di daerah Pegunungan Kerinci Utara dan Kerinci Selatan menyebabkan tanah di kawasan ini sangat cocok untuk ditanami aneka tanaman perkebunan untuk eksport seperti teh, kopi, kina, dll. Disamping itu semua jenis sayur mayur dapat tumbuh dan hidup dengan subur di dataran tinggi alam Kerinci.

Curah hujan yang cukup dan teratur disepanjang tahun di daerah pegunungan ini menyebabkan sangat sedikit perbedaan antara musim kering dengan musim basah, kondisi keadaan alam yang subur, sejuk damai dan indah serta menawan ini mendorong banyak pihak yang berusaha untuk mengolah alam Kerinci yang termasuk ”Regentype ke VIII” perubahan iklim/musim di daerah pegunungan Kerinci Utara yang terjadi pada bulan April, Oktober, dan November setiap tahun memungkinkan daerah ini menjadi penghasil dan pemasok utama hasil bumi yang berlimpah, menurut kalangan ahli pertanian dunia, alam Kerinci memiliki lahan/tanah yang mengandung kadar mineral-reserve yang sangat tinggi.

Sebelum tahun 1924, hampir seluruh tanah “erfpacht perceel” di daerah Sumatera Barat termasuk Kerinci dilakukan penanaman Kopi, pada awal tahun 1924 dilakukan penggantian tanaman kopi, karena pada saat itu harga kopi dipasaran internasional kurang memuaskan dan pada saat itu terjadi serangan penyakit yang menyerang tanaman kopi. Keadaan tersebut menyebabkan munculnya penanaman teh dan kina di daerah Keresidenan Sumatera Barat, sebenarnya jauh sebelumnya yakni tahun 1903 telah dilakukan penanaman teh di Pulau Sumatera di daerah Akar Gadang ( 1903 ) dan Kebun Kina di Kebun Taluk Gunung (1907), namun usaha perkebunan tersebut belum dilakukan secara optimal. Penanaman secara besar-besaran mulai dilakukan setelah tahun 1924. Khusus untuk perkebunan teh di wilayah Keresidenan Sumatera Barat mencapai 5.473.925 hektar dan lahan kopi seluas 831 hektar yang merupakan lahan “erfpacht”. Untuk hasil perkebunan teh pada saat itu cukup menggembirakan dibandingkan dengan jenis tanaman perkebunan lainnya.

Pada masa Kolonial Belanda di alam Kerinci terdapat pusat Onderneming dengan 3 lokasi perkebunan yang dibangun oleh Belanda yakni Kopi di kawasan Batang Merangin (1928), Kina dan teh di Pulau

Sangkar dan Kayu Aro. Di wilayah Kerinci pada masa penjajahan Belanda pusat perkebunan teh, kina dan kopi berada dalam 1 wilayah kedepatian Rencong Telang(Pulau Sangkar) yang wilayah adatnya sampai ke Kebun Baru, hal ini ditandai dengan pemberian kompensasi oleh Belanda kepada masyarakat adat berupa jembatan Beton/semen di lubuk sahap(jembatan ini rubuh tahun 1930) dan satu buah jembatan gantung yang selesai dibangun tahun 1932.

Untuk mewujudkan pembangunan kebun Kopi, kina dan teh pada tiga lokasi onderneming tersebut, Belanda mendatangkan tenaga kerja (Koeli Kontrak) dari pulau Jawa. Usaha perkebunan Kopi Belanda membuka lahan perkebunan di kawasan Pematang Lingkung Batang Merangin, bedeng 4,5,6,7,8 dan bedeng 12.untuk Kina/Teh diban­gun pemukiman di kebun baru dan kebun lima, sementara untuk teh di wilayah Kebun Baru-Pulau Sangkar pembangunan dihentikan dan dibangun di kawasan Kayu aro di kaki Gunung Kerinci dengan pusat di kawasan Bedeng VIII, Sungai Jambu, Kersik Tuo hingga ke kaki gunung Kerinci

Usaha perluasan perkebunan teh mengalami hambatan karena adanya “Thee Aanplane Ordonnantie, Stbld, 1933 No 22 yang dimaksud untuk mempertahankan harga teh dipasaran dunia, akan tetapi usaha perkebunan teh yang berada di Keresidenan Sumatera Barat tidak terlalu terpengaruh dengan adanya ordonnansi terebut. Dari seluruh areal perekebunan teh yang berada di dalam wilayah Keresidenan Sumatera Barat pada waktu itu rata rata areal perkebunan tersebut mencapai 660 Hektar, sementara di Pulau Jawa hanya mencapai 350 Hektar, hasil olahan Teh di Sumatera Barat mencapai 450 Ton, dipulau Jawa saat itu hanya mencapai 165 Ton

Pada masa itu di Keresidenan Sumatera Barat terdapat 15 buah Perkebunan teh, 5 buah diantaranya mencapai produksi kelas I, 3 buah kelas II, 4 buah kebun mencapai kelas III, satu buah kebun mencapai kelas IV dan dua buah kebun mencapai Kelas V.

Nama nama perkebunan teh dan hasil produksi teh yang dicapai pada masa itu masing masing adalah:

1. Kebun Bukit Malinggang seluas 1.720 Hektar kelas produksi kelas III

2. Kebun Danau Gedang seluas 2.500 Hektar,Kelas Produksi kelas I

3. Kebun Halaban seluas 1.615 Hektar,Kelas Produksi Kelas III

4. Kayu Aro,seluas 2.525 Hektar,Kelas Produksi Kelas I

5. Kebun Pecconina seluas 2.024 Hektar,kelas Produksi Kelas II

6. Kebun Sako Dua seluas 2.825 Hektar ,Kelas Produksi kelas I

7. Kebun Tanang Talu seluas 982 Hektar,Kelas Produksi Kelas V.

Sejak tahun 1934 seluruh kebun kebun teh di Keresidenan Sumatera termasuk kebun Teh Kayu Aro telah mampu berproduksi, namun ada beberapa kebun yang diistirahatkan karena kekurangan ”Cultuur-tech­nis ” pada masa pendudukan Belanda, penderitaan rakyat di seantero alam Kerinci benar benar berada dibawah tekanan. Belanda disamping melakukan pemungutan pajak juga melakukan kerja paksa antara lain kerja paksa membuka ruas jalan Sungai Penuh – Tapan, Sungai Penuh arah ke Solok -Sumatera Barat, Sungai Penuh menuju arah ke Bangko dan menggali Banjir Kanal/sungai buatan di Danau Kerinci. Dalam kerja paksa ini puluhan bahkan ratusan rakyat Kerinci meninggal dunia karena kurang gizi karena diperlakukan secara tidak wajar

Pihak Pemerintah Belanda disamping menguasai alam Kerinci dan memungut pajak terhadap rakyat juga merintis dan membuka areal perkebunan teh di alam Kerinci, dan secara historis awalnya perkebunan teh yang dikembangkan oleh perusahaan Belanda yaitu NV. HVA (Namlodse Venotchhhaaf Handle Veriniging Amsterdam) pada tahun 1925. Sebelumnya usaha pembukaan lahan perkebunan teh dilaksanakan di kawasan yang belokasi di Kebun Baru Kecamatan Gunung Raya. Kebun ini dihentikan penanamannya karena ketersediaan lahan yang kurang memadai, dilain pihak dikawasan ini pada zaman penjajahan Belanda merupakan kawasan hutan lebat yang merupakan daerah tangkapan air dan hulu sungai Lempur yang dimanfaatkan penduduk untuk kebutuhan hidup dan untuk mengairi lahan persawahan masyarakat.

Pada saat itu para pemimpin Adat di Lekuk 50 Tumbi Gunung Raya melarang keras pihak perusahaan Belanda untuk membuka lahan perkebunan di kawasan itu.

Dengan pertimbangan yang matang akhirnya pihak Belanda memindahkan ke kawasan hutan di dataran tinggi yang sekarang dikenal sebagai perkebunan teh PTP.N6 Kebun Kayu Aro dikaki gunung Kerinci yang saat ini disebut dengan wilayah Kecamatan Kayu Aro yang memiliki iklim sejuk/dingin dengan ketinggian 1.400 s/d 1.700 meter diatas permukaan laut.

Untuk mengolah lahan perkebunan teh tersebut, pihak Belanda mendatangkan para pekerja (Koeli Kontrak) dari para pekerja peker­bunan yang berada di Pulau Jawa, sebagian besar didatangkan dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pada masa selanjutnya setelah kemerdekaan Indonesia diraih dan perusahaan perkebunan diambil alih oleh Indonesia para pekerja perkebunan dari Pulau Jawa itu tetap menetap di Kayu Aro dan melanjutkan pekerjaan sebagai pekerja di areal perkebunan dan Pabrik Teh Kayu Aro.

Sebelumnya saat Belanda meninggalkan Kerinci, kebun dan pabrik teh diambil oleh Jepang pada tahun 1942, dan pada waktu itu Jepang merekrut 40 KK “Koeli Kontrak” yang bekerja di Kayu Aro untuk dipekerjakan sebagai ”Koeli “ di daerah Kebun Baru Kecamatan Gunung Raya, para “Koeli-Koeli Kontrak” yang awalnya dipekerjakan oleh Belanda diambil alih Jepang untuk menanam tanaman Holtikultura, Kopi ,Rami, Jagung dan Padi. Hingga saat ini keturunan para “Koeli Koeli Kontrak“ masih hidup menetap dan berbaur dengan penduduk lokal di Kecamatan Gunung Raya dan penduduk lokal Pulau Sangkar Kecamatan Batang Merangin.

Generasi ke 3 dan ke 4 warga Kerinci bekas pekerja kontrak yang bekerja di perkebunan bekas milik perusahaan Belanda saat ini mereka secara emosional telah menyatu dengan masyarakat setempat. Tidak terdapat perbedaan yang mencolok antara komunitas masyarakat asal pulau Jawa dengan orang orang suku Kerinci. Beberapa puluh tahun terakhir telah terjadi perkawinan antara keturunan etnis suku Jawa dengan suku Kerinci, mereka telah beradaptasi dengan penduduk asli alam Kerinci, walaupun demikian secara budaya dan bahasa telah terjadi percampuran kebu­dayaan termasuk bahasa. dikalangan generasi muda dan terpelajar anak anak Kerinci keturunan Jawa telah hidup menyatu, orang Jawa di Kayu Aro dan di Kebun Baru fasih berbahasa Kerinci dan mereka mengerti dengan kebudayaan asli masyarakat suku Kerinci,

kehidupan dan suasana tatanan masyarakat di wilayah Kecamatan Kayu Aro, Kecamatan Gu­nung Tujuh yang umumnya didominasi suku Jawa dan penduduk suku Kerinci (sebagian besar asal Kecamatan Siulak) dan masyarakat Kerinci keturunan Minangkabau, Batak dan suku-suku daerah lain di nusantara itu berjalan selaras dan harmonis, dan secara ekonomi masyarakat yang bermukim di wilayah ini secara ekonomi relatif lebih baik dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain. Hal ini mengingat di kawasan ini merupakan kawasan Satelit Agro Bisnis terdepan di alam Kerinci.

Catatan yang dikutip dari ”Mededeelingen van het Bureu voor de Besteur van het Buitenbeziitingan Encylopaedea Bureu” (Batavia: NV “Papyrus “, 1915,hlm 67), mengemukakan data pada tahun 1915 jumlah penduduk di alam Kerinci baru berjumlah 59.886 jiwa dengan rincian 16.489 jiwa Laki laki dan 18.626 jiwa wanita. Dan 24.772 jiwa anak anak. Pada waktu itu dusun yang terpa­dat penduduknya di alam Kernci adalah dusun Semurup yang berpenduduk 11.719 jiwa, diikuti Sandaran Agung 7.326 jiwa dan dusun Sungai Penuh 6.479 jiwa.

Pada tahun 1912 penduduk alam Kerinci mengalami peningkatan, hal ini disebabkan pada tahun itu pemerintahan Belanda yang berkuasa di Indonesia mendatangkan orang-orang suku Jawa untuk dipekerjakan pada perkebunan “Teh Kayoe Aro“ dan perkebunan kopi di Batang Merangin – Tamiai sebagai pekerja/kuli kontrak. Pada tahun yang sama dan 2 tahun setelah itu jumlah Penduduk di alam Kerinci semakin meningkat, Kerajaan Belanda menempatkan pegawai pegawainya se­hingga pada tahun 1915 tercatat beberapa orang kulit putih dan sekitar 80 orang keturunan Cina, pada tahun 1930 jumlah penduduk terus meningkat, terdapat 161 orang Eropah, 974 orang Cina dan 55 orang timur asing lainnya, dan total jumlah penduduk di alam Kerinci pada tahun 1930 telah mencapai 91.759.jiwa.

Pada era Kemerdekaan hingga saat ini antara penduduk Kerinci asal Jawa dengan penduduk lokal Kerinci dan penduduk penduduk pendatang dari Minangkabau, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sunda. dll ber­jalan harmonis, nyaris tidak pernah terjadi gejolak sosial masyarakat di daerah yang heterogen ini, mereka telah melakukan proses adaptasi yang cukup lama dan didorong oleh sosial kultural mereka melakukan pernikahan eksogami.

Secara historis usaha perkebunan Teh Kayu Aro mulai dibuka tahun 1925 sampai dengan tahun 1928 pekerjaan dilak­sanakan oleh NV. H V A. Bibit tanaman teh mulai ditanah tahun 1929 dan mengingat tanaman teh mulai menghasilkan pucuk-pucuk yang berkualitas maka pada tahun 1932 Perusahaan NV. H V A (Namlodse Venotchhaaf Handle Veriniging Amsterdam) mendirikan Pabrik, dan sejak mulai berproduksi kebun teh Kayu Aro menghasilkan jenis Teh hitam (Orthodoks).

Berdasarkan PP.No.19 tahun 1959, perkebunan teh milik Belanda dilakukan nasionalisasi dan diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia. Status organisasi manajemen usaha perkebunan Teh Kayu Aro telah mengalami beberapa kali perubahan sesuai dengan keadaan yang berlaku saat itu. Pada tahun 1959 -1962 unit produksi dikelola PN.Aneka Tanaman VI. Tahun 1963 -1973 kebun Kayu Aro bagian dari PNP Wilayah I Sumatera Utara. Dan mulai 1 Agustus 1974 menjadi salah satu kebun dari PTP VIII yang berkedudukan di Medan Sumatera Utara. Pada tahun 1996 Seluruh PTP yang ada di Indonesia diadakan Konsolidasi, bekas PTP.VIII dan PTP lainnya yang ada di Jambi dan Sumatera Barat menjadi PTP Nusantara 6 ( Persero ).

Saat ini HGU kebun teh Kayu Aro yang berada dikawasan Bedeng VIII memiliki sertifikat HGU nomor 2 tanggal 08 Mei 2002 memiliki total luas lahan tanaman produktif seluas 2.624,69 Hektar dan luas lahan yang belum dan tidak ditanami seluas 389.91hektar meliputi areal pembibitan 6,85hektar, hutan,jurang dan kuburan 220 Hektar, Emplasment / bangunan 106,13 hektar, Jalan dan Jembatan 56,93 Hek­tar. Dengan demikian total luas Hak Guna Usaha yang dikelola PTP.N.6 Kebun Kayu Aro seluas 3.014,60 Hektar.

Sampai dengan tahun 2011 –2012 hasil produksi teh kebun Kayu Aro mencapai 6.087.940 Kg teh kering pada tahun 2011, dan saat ini mengingat tanaman teh yang telah tua maka dilakukan replating (peremajaan) total nilai produksi mengalami penururan, dan tahun 2011 total nilai produksi mencapai 5.703.625 Kg teh kering jenis orthodox dipasarkan di negara Eropa Barat dan Eropa Timur, Negara Rusia dan Negara –negara pecahan Rusia serta Negara Timur Tengah.

PTP.N.6 Kebun Kayu telah memproduksikan teh kering CTC disamping mempertahankan teh kering jenis ortho­dox. Teh hasil produksi kebun Kayu Aro dieksport melalui Pelabuhan eksport via Pelabuhan Belawan, sedangkan pelabuhan Samudera-Teluk Bayur-Sumatera Barat adalah gudang transit dan pelabuhan eksport via Tanjung Periok. Untuk penjualan exsport dan lokal langsung ditangani oleh Kantor Direksi PTP Nusantara 6 melalui kantor pemasaran bersama (KPB) Jakarta dengan menggunakan sistim lelang contoh (auction). Sebagian besar tanaman teh yang ada di kebun kayu Aro rata-rata telah berusia cukup tua dan secara bertahap mulai tahun 2011 hingga tahun 2015 dilakukan peremajaan (replating) dengan melakukan penanaman baru di setiap afedeling dilingkungan PTP. Nusantara 6 Kebun Kayu Aro. Selama 5 tahun telah diprogramkan untuk melakukan Replating seluas 1.707,66 Hektar

Teh Kayu Aro diolah dari pucuk pucuk daun teh pilihan yang dihasilkan oleh kebun Kayu Aro, Kebun dan pabrik yang merupakan “Monumen Sejarah” bangsa yang dibangun oleh perusahaan dari Belanda (NV. HVA) tahun 1925 itu penanamannya menggunakan biji teh hingga saat ini dikenal sebagai “Teh Hitam“ terbaik di Dunia (Internasional Tea Commite), dan hingga saat ini secara rutin Negara Kincir Angin Belanda membeli Teh yang diproduksi dari hasil kebun Kayu Aro-Kerinci Propinsi Jambi,dan catatan dari Belanda menyebutkan sejak zaman Ratu Wihelmina berkuasa pada saat menjajah Indonesia sampai generasi penerusnya Ratu Yuliana dan Ratu Beatrix, mereka sangat menyukai teh asal kebun Kayu Aro Kerinci, mereka tidak mau minum teh lain selain teh Kayu Aro Kerinci. Demikian juga keluarga Kerajaan Inggeris dan Perdana Menteri Inggeris dan orang orang pent­ing di Inggeris mengkonsumi teh produk yang dihasilkan oleh Kebun Kayu Aro.-Kerinci-Jambi

Teh yang dikenal di manca negara terutama dikawasan Eropa Barat, Eropa Timur, Rusia,Timur Tengah ,India dan Srilangka, perkebunan teh Kayu Aro merupakan perkebunan teh tertua di tanah air dan lahan lo­kasi teh Kayu Aro merupakan lahan/hamparan teh terluas di dunia dan letaknya nomor 2 tertinggi di Dunia setelah perkebunan ”Darjeling ” dikaki gunung Himalaya yang ditanam pada ketinggian 4.000 meter.Dpl, dengan luas hamparan kebun teh seluas 500 hektar, meskipun demikian Kebun Teh Darjeling tidak dapat dipetik dan diolah sepanjang tahun karena pada musim dingin kebun teh tertutup lapisan Salju.

Masyarakat Jambi umumnya baru mengkonsumsi teh Kayu Aro sejak beberapa tahun yang lalu, hal ini disebabkan 80 % dari total hasil produksi dieksport ke luar negeri, dan masyarakat Propinsi Jambi jus­tru lebih mengenal Teh kemasan dari luar daerah yang memiliki merek seperti Sariwangi, padahal sebagian teh Sariwangi dan teh Sosro berasal dari Kebun Kayu Aro. ”Teh Kayu Aro“ merupakan sebuah anugerah alam Kerinci yang indah dan terkenal dipasaran dunia, karena teh Kayu Aro memiliki aroma cita rasa yang spesifik, asli tanpa menggunakan zat kimia atau bunga.

Usaha perkebunan Teh yang dikelola oleh PTP.Nusantara 6 unit usaha Kayu Aro secara nasoinal telah memnyumbang devisa bagi negara, akan tetapi dilain pihak pihak perusahaan PTP.N.6 juga telah memberikan konstribusi berupa dana segar kepada Pemerintah Propinsi Jambi dan Pemerintah Kerinci berupa pembayaran pajak PBB,PKB dan asuransi, Pajak pertambahan nilai (PPN) dan PPH badan sesuai dengan keuntungan Perusahaan.

Untuk menunjang program pemban­gunan sub sektor Pariwisata di Propinsi Jambi khususnya pengembangan industri wisata di alam Kerinci, sejak tahun 1998 perkebunan dan pabrik teh yang masih mempertahankan bentuk asli dikembangkan sebagai salah satu kawasan tujuan wisata, perkebunan dan pabrik peninggalan masa kolonial Belanda ini setiap liburan ramai dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara. Kawasan ini merupakan satu kawasan dari jaringan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), pihak perusahaan ikut berperan dengan menjadikan perkebunan dan pabrik pengolahan teh yang ada di dalam kawasan unit usaha Kayu Aro sebagai kawasan agro wisata dan wisata sejarah. Khusus untuk peminat wisata sejarah dapat secara lansung mengunjungi Pabrik yang beraksitektur peninggalan Belanda dan industri pengolahan teh Kayu Aro.

PTP.Nusantara 6 Kebun Kayu Aro telah membangun fasilitas rekreasi bernuansa alami “Aroma Peco“ ditengah-tengah lokasi perkebunan teh dengan melengkapi sarana prasarana wisata alam, dan dari kawasan wisata ini pengunjung dapat menyaksikan indahnya panorama alam Gu­nung Kerinci (3.805.mdpl ) yang menjulang tinggi dengan awan-awan putih yang berarak rapi. Jika cuaca baik pengunjung dapat menyaksikan Gunung Kerinci secara utuh pada pukul 09.00 Wib hingga siang hari, akan tetapi jika cuaca mendung dan hujan, maka Gunung Kerinci ditutupi awan. Gunung Kerinci merupakan salah satu Gunung tertinggi di Pulau Sumatera yang belum pernah marah, sejak zaman Sejarah (Masehi) hingga saat ini Gunung Kerinci masih terlihat bersahabat dengan ling­kungannya, sayangnya beberapa oknum perambah hutan dan oknum petani dengan nekat merambah hingga ke kaki gunung hingga beberapa meter ke arah pinggang Gunung Kerinci.

Gunung Kerinci beberapa kali sempat “batuk”, dan bila ia batuk gunung menimbulkan “Gempa Vulkanik” yang mengeluarkan percikkan api dan hembusan debu vulkanik yang dapat merusak tanaman sayur mayur milik petani. Gunung Kerinci merupakan gunung berapi yang paling ramah dibandingkan gunung gunung berapi aktif lainnya yang ada di dunia, Sepanjang zaman sejarah hingga abad ke XXI, Gunung Kerinci belum pernah menunjukkan sikap tak bersahabat, semburan debu vulkanik dari kawah gunung Kerinci justru menambah kesuburan lahan di sekitar kaki gunung Kerinci, abu Vulkanik menurut para petani hanya merusak jenis tanaman sayur mayur dalam jangka waktu tidak terlalu lama.

Hingga saat ini Gunung Kerinci merupakan objek wisata alam yang paling menjanjikan terutama bagi para petualang dan pendaki gunung dari mancanegara dan dalam negeri, dikawasan gunung Kerinci para pengunjung masih dapat menikmati panorama alam, hamparan kebun teh serta hutan tropis serta menyaksikan Flora dan Fauna langka. Untuk memasuki kawasan Gunung Kerinci hingga menuju kawah dipuncak gunung Kerinci, pengunjung dapat meminta bantuan pemandu dari petugas TNKS atau dari Pemandu lokal masyarakat setempat.

Penulis yang mengunjungi kawasan wisata bersama reporter TV Indosiar ,Trans TV dan SCTV Jakarta secara terpisah menyaksikan berbagai panorama alam di bumi Kerinci. Keindahan alam di kawasan Gunung Kerinci memang indah dan sungguh menawan, para wisatawan yang mengunjungi kawasan ini selain dapat menyaksikan hamparan daun teh bak permadani hijau terhampar luas sejauh mata memandang, mulai dari Siulak Deras hingga ke kawasan wisata Telun Berasap -per­batasan dengan Sumatera Barat, dapat menyaksikan kilauan kemerah merahan pucuk pucuk Casiavera yang tertimpa cahaya mentari pagi, pengunjung juga dapat menikmati harumnya bunga kopi robusta yang berbaris rapi di kebun masyarakat petani alam Kerinci.

 

Kebun Teh Kajoe Aro Riwayatmu kini

Kehadiran kebun teh Kajoe Aro yang dibuka dan dikembangkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada dekade tahu 1920 an membuat bumi Sakti Alam Kerinci menjadi di kenal luas hingga ke Mancanegara.

Menurut Drs.H.Hasani Hamid Mantan Wakil Bupati Kerinci era H.Fauzi Siin, ketika di hubungi melalui telepon seluler 8/1 mengemukakan bahwa berdasarkan informasi yang akurat menyebutkan bahwa masa keemasan Teh Kajoe Aro sejak 15 tahun terakhir mulai memudar, harga Produk Teh di mengalami fluktasi harga bahkan belakangan ini selalu meugi

Dari total jumlah areal kebun teh yang ada phak managemen Direksi PTP.Nusantara 6 akan mengembangkan tanaman kopi seluas 1.000 Hektar, dengan demikian total jumlah lahan yang di peruntukkan untuk kebun teh tinggal hanya seluas 1.600 Hektar lebih.

Kebun teh Kajoe Aro yang merupakan mascot PTP.6 masih tetap dipertahankan dan hanya 1.000 Hektar yang akan mereka kembangkan sebaga kebun kopi.

Kebun teh sebagai Icon/mascot Pariwisata Kabupaten Kerinci tetap akan di pertahankan, akan tetapi perlu diversifikasi lain untuk memperkecil nilai kerugian, dan direksi PTP.N 6 Jambi-Sumbar disamping tetap mempertahankan lebih dari separo total luas kebun teh mereka akan mengalihkan tanaman teh ke tanaman kopi yang nilai jualnya relatif bagus.

Sementara itu Budi Isman,MA Tokoh masyarakat alam Kerinci dan tokoh Entreprenoer Nasional   saat di hubungi wartawan media ini menyebutkan memang di sisi keindahan panorama alam kebun teh akan semakin berkurang manakala kebun teh dialih fungsikan menjadi kebun Kopi, akan tetapi pihak PTP.N 6 sebagai sebuah busines juga harus melihat peluang untuk meningkatkan pendapatan mereka

Kopi menurut Budi Isman merupakan salah satu komuditas yang punya potensi harga baik dan menguntungkan, akan tetapi yang lebih penting bagi saya adalah ketidakmampuan PTP.N.6 membuat nilai tambah dari komuditas mereka seperti teh sehingga membuat mereka menjadi kesulitan sendiri”Kata Budi Isman,MA:”

Ir..Musahar Manager Kebun Teh PTP.N 6 Kebun Kajoe Aro ketika hendak di hubungi   6-7 Januari yang lalu terkesan mengelak untuk di hubungi, dengan berbagai alasan staf SDM/Umum Kebun Teh Kajoe Aro mengemukakan berbagai alasan yang tidak masuk di akal sehat, mereka menyebutkan Ir. Musahar sedang tidak ada di tempat, namun sumber media ini menyebutkan bahwa Ir.Musahar ada di tempat dan berada di kawasan Pabrik pengolahan Teh CTC

Novalino,SH Asisten ADM /Umum PTP.N.6 Kebun Kajoe Aro ketika di hubungi di ruang kerjanya menolak untuk memberikan keteranga kepada wartawan media ini, saya tidak akan memberikanpernyataan apapun sehubungan pengalihan Kebun Teh menjadi kebun Kopi, silahkan anda terlebih dahulu menghubungi direksi atau Direktur Utama PTP.N 6 di Jambi.

Saya minta saudara untuk meminta surat rekomendasi kepada Direksi PTP.N 6, setelah itu baru saya akan jelaskan permasalahan kebun Teh yang di alihkan menjadi kebun Kopi.”Kata Novalino dengan nada tidak bersahabat “

Salah seorang karyawan kebun teh ketika dihubungi di lokasi penanaman teh   membenarkan saat ini pihak perusahaan tengah memperluas areal penanaman kopi di sejumlah Afdeling di kawasan Kebun Teh Kajoe Aro, dan secara pribadi sebagai karyawan Kebun Teh Kajoe Aro kami tidak mampuuntuk berbuat banyak, namun harus kami akui dengan sejujurnya pembabatan tanaman Teh di sejumlah afdeling membuat hati kami miris dan menangis, pendapatan kami jauh berkurang karena kebun teh tidak menghasilkan Teh yang maksimal akibat adanya peremajaan disamping pengalihan tanaman teh ke tanaman Kopi, dan untuk diketahui bahwa belakangan ini mesin pabrik pengolahan Teh Ortodok sudah tidak di fungsikan dan terancam menjadi besi tua, perusahaan hanya memproduksi teh CTC dengan jumlah produksi yang terus menurun .dan saat ini pabrik hanya mampu memrproduksi 40 Ton perhari, dan sebelumnya produksi mencapai 100.Ton perhari

BJ Rio Temenggung Aktifis Lingkungan dan Penerima Anugerah Kebudayaan Tingkat Nasional kepada sejumlah wartawan di Sungai Penuh tadi pagi mengemukakan bahwa tindakan Direksi PTP.N.6 yang mengalihkan kebun teh menjadi kebun Kopi perlu kita pertanyakan, apalagi izin alih status pemanfaatan lahan hingga saat ini belum mendapat persetujuan dari Pemerintah dan Rakyat Kerinci.

Dalam waktu dekat saya akan mengirimkan surat pernyataan protes Kepada Bapak Menteri BUMN, Menteri HUTBUN dan Direksi PTP.N.6 Jambi-Sumbar akan meninjau kembali pengalihan tanaman Teh menjadi tanaman Kopi, menurut pendapat saya pengalihan tanaman Teh ke tanaman kopi sangat melukai dan mencederai hati dan perasaan masyarakat Sakti Alam Kerinci dan Masyarakat sepucuk Jambi Sembilan Lurah

Direksi PTP.N.6 kita harapkan agar jangan sekali kali melupakan sejarah, dari masa Kolonial Belanda hingga saat ini statu HGU yang diberikan adalah untuk penanaman Teh bukan untuk kebun Kopi.

Orang Belanda saja masih menghargai orang Kerinci khususnya orag adatsaat mereka akan menanam Teh di Kawasan Gunung Raya pada saat itu, Menurut Tokoh Masyarakat Saat itu Kecamatan Gunung Raya adalah sumber mata air, sehingga Belandapun memindahkan lahan untuk perkebunan Teh Ke Kajoe Aro, dan kok baru sekarang Direksi PTP.N 6 mau mengalihkan Kebun Teh menjad Kebun Kopi.

Meski di satu sisi harga teh cenderung menurun, namun apakah Direksi PTP.N sudah mengkaji dampak untung rugi pembabatan Tanaman Teh dan menggantikan dengan tanaman Kopi? Apakah ada Jaminan harga Kopi akan stabil dimasa depan apakah harga Teh akan turun untuk selamanya? Apalah alih fungsi kebun Teh menjadi Kebun Kopi yang sedang dilaksanakan saat iti tidak akan mengganggu pertumbuhan Indistri Pariwisata yang juga menjadi Primadona Devisa negara?.

Atas nama Lembaga Bina Potensia dan selaku orang yang lahir dan di besarkan di ranouh alam Kincai saya mendesak agar pembabatan Tanaman Teh dan penanaman Kopi di areal HGU Kebun teh di Kajoe Aro agar di hentikan, saya juga berharap agar Pemerintah dan DPRD Kerinci untuk mengkaji secara lebih cermat dan seksama alih fungsi lahan kebun teh menjadi kebun kopi, sebelum semuanya menjadi terlambat   dengan segala kerendahan hati kita mendesak agar Direksi PTP.N 6 Jambi- Sumbar untuk menghentikan penanaman kebun Kopi diareal perkebunan Teh Kajoe Aro,karena tindakan ini sagat melukai dan menciderai hati dan perasaan rakyat Kerinci, apalagi Pemerintah Kabupaten Kerinci belum memberikan rekomendasi dan pesertuan alih status lahan itu ( BJ-Rita).

Oleh: Buhari.R.Temenggung