Sangiran Salah Satu Warisan Budaya Dunia

Sangiran Salah Satu Warisan Budaya Dunia

Jika saja saat ini dipertanyakan: situs manakah yang sanggup memberi gambaran tentang evolusi manusia, budaya, dan lingkungannya selama lebih dari 1,5 juta tahun tanpa terputus, maka hampir pasti, jawabnya adalah Situs Sangiran. Sejak ditemukan oleh G.H.R. von Koenigswald pada tahun 1934, area situs dengan luas 59,2 kilometer persegi yang terletak di Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar itu, telah mencuatkan kisah yang menggema lantang ke seluruh dunia, sebagai salah satu pusat evolusi manusia di dunia, yang sanggup menorehkan cerita panjang tentang kemanusiaan sejak 1,5 juta tahun yang lalu.

Lapisan-lapisan tanah yang saat ini terbentang, merupakan lembar-lembar kisah masa lalu yang tiada habisnya, karena pada lapisan-lapisan tanah tua yang tersingkap, telah memunculkan bukti-bukti kehidupan masa lalu. Okupasi manusia purba dari takson Homo erectus secara intens telah meninggalkan jejak-jejaknya berupa fosil manusia, fosil binatang, maupun alat-alat batu, dalam lingkungan purba yang terbentuk selama 2 juta tahun terakhir. Kombinasi dari potensi fosil manusia, fosil binatang, artefak dan lingkungan pengendapannya merupakan hal yang unik dan jarang terjadi di tempat lain. Inilah nafas dan arti mendalam dari Situs Sangiran sebagai salah satu situs akbar dalam kajian evolusi manusia, budaya, dan lingkungannya. Sangiran pun kemudian ditetapkan menjadi salah satu Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO pada tahun 1996 dengan nomor C 593, dengan nama The Sangiran Early Man Site.

Dalam rangka pelestarian dan pengembangan Situs Sangiran, maka pada tahun 2004 telah diselesaikan Rencana Induk Pengembangan Sangiran (Master Plan), yang diikuti dengan pembuatan Detail Engineering Design (DED) Pelestarian Situs Sangiran pada tahun 2007, yang antara lain memuat kebijakan-kebijakan pengembangan situs, dengan melibatkan para stake-holders di daerah dan para pakar (termasuk dari kalangan universitas).

Sesuai dengan amanah dari Masterplan dan DED tersebut maka Situs Sangiran akan dibangun dan dikembangkan menjadi empat klaster dengan bangunan museum di masing-masing klaster tersebut. Tiga buah Klaster terletak di Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, yaitu Klaster Krikilan sebagai visitor center, Klaster Bukuran sebagai representasi dari bukti-bukti evolusi manusia purba, dan Klaster Ngebung sebagai representasi sejarah awal penelitian von Konigswald di Sangiran. Satu buah klaster lagi berada di Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, yaitu Klaster Dayu sebagai representasi penelitian tentang budaya manusia purba di Situs Sangiran yang paling mutakhir.

Untuk mendukung pelaksanaan dari rencana pengembangan Situs Sangiran secara terpadu, telah disusun sebuah kesepakatan bersama antara Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Gubernur Jawa Tengah, Bupati Sragen dan Bupati Karanganyar, tentang Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Kawasan Sangiran sebagai Warisan Budaya Dunia. Kesepakatan Bersama tersebut telah ditandatangani bersama pada tanggal 6 April 2009. Penandatanganan tersebut dapat diartikan bahwa semua pihak sepakat untuk bekerja sama dalam pengembangan Situs Sangiran, dengan mengacu pada Masterplan dan DED yang sudah ada, yang antara lain mengatur bahwa Pemerintah Pusat bertanggungjawab melaksanakan kegiatan pembangunan museum beserta isinya, Pemerintah Propinsi bertanggungjawab melaksanakan kegiatan promosi dan pemberdayaan masyarakat, dan Pemerintah Kabupaten bertanggungjawab menyediakan lahan untuk pengembangan dan infra strukturnya.

Dengan selesainya pengembangan seluruh klaster tersebut diharapkan Museum Manusia Purba Sangiran dapat menjadi obyek dan daya tarik wisata unggulan di Jawa Tengah, dan berdampak kepada peningkatan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Sumber : gatra.com