PENGELOLAAN KAMPUNG ADAT DI KOTA TERNATE

Oleh: Rinto Taib
(Dosen IAIN Ternate)

Puluhan Desa Adat dan ribuan Kelurahan Adat di Indonesia saat ini sesungguhnya merupakan potensi terbesar bagi bangsa Indonesia dalam hal pemajuan kebudayaan dan salah satunya adalah di Kelurahan Mado Kecamatan Pulau Hiri Kota Ternate. Beberapa keunggulan dan potensi yang dimiliki tempat ini tidak sekedar membuktikan tentang eksistensi masyarakat adat semata melainkan perannya dalam melakukan berbagai upaya yang diperlukan bagi pewarisan dan pelestarian kebudayaan secara berkelanjutan melalui berbagai alasan keunggulannya antara lain:

Lokasi konservasi burung Moleo

Pertama: masyarakat tempatan saat ini lebih cenderung melakukan pemertahanan terhadap prinsip falsafah yang selaras dengan alam dengan menjadikan alam sebagai objek dan bukan sebaliknya sebagai subjek yang selalu dieksploitasi secara besar-besaran dengan adanya kawasan konservasi satwa endemik seperti burung Maleo (Macrocephalon) serta ketam kenari atau kepiting kenari atau kepiting kelapa (Birgus Latro) secara alamiah;

Kedua: melakukan upaya pelestarian situs sejarah keagamaan masyarakat tempatan dengan menjadikan ritual ziarah keramat sebagai salah satu rutinitas masyarakat pada beberapa kesempatan baik secara personal maupun kolektif. Kesadaran kolektif dalam upaya pelestarian tersebut diawali dengan kerjasama membuka akses jalan transportasi yang memudahkan bagi para peziarah menuju tempat keramat yang berada di dataran tinggi kelurahan tersebut.

Ketiga: besar keinginan masyarakat tempatan untuk mengembalikan bentuk rumah adat yang disebut dalam bahasa Ternate sebagai Fala Soa (rumah adat) untuk tetap menggunakan model dan gaya tradisional sebagai jalan pemertahanan dan keberlanjutan arsitektural.

Keempat: adanya komitmen bersama untuk menjaga dan melestarikan, merawat serta mengembangkan tradisi warisan para leluhur serta adat istiadat dari pengaruh luar. Hal ini ditunjukkan secara nyata melalui kesepakatan bersama untuk menolak pesta-pesta yang lebih dianggap modern dan jauh dari tradisi tempatan.

Kelima: memelihara sistem dan tatanan sosial yang memiliki intensitas meningkat dari waktu ke waktu terkait dengan memelihara wujud akulturasi nilai antar pandangan doktrinal agama dengan tradisi leluhur yang ada lebih dahulu sebelum masuknya agama Islam itu sendiri.

Enam: masih fungsionalnya struktur dan kelembagaan adat sebagai bagian dari kesultanan Ternate yang memiliki sejarah panjang dimasa lalu terutama sejarah awal hingga saat ini. Berbagai gelaran adat baik yang bersifat gelaran seni pertunjukan hingga ritual keagamaan dengan menempatkan perangkat adat sebagai bagian didalamnya masih dipertahankan keberadaannya hingga saat ini.

Mari Tuso sebagai destinasi favorit di Pulau Hiri

Secara universal dapat dipandang bahwa berbagai poin yang telah disebutkan diatas menjadi pendorong bagi tumbuh kembangnya kebudayaan baik pada tatanan masyarakat lokal maupun kebudayaan nasional. Hal ini disebabkan karena keseluruhan yang disebutkan tersebut mengembalikan atau mengembangkan identitas dan ciri khas lokal sebagai pembeda dengan masyarakat kota yang cenderung memudar bahkan telah mengalami kepunahan dalam dimensi-dimensi kebudayaannya. Kearifan lokal dan semangat lokalitas yang dibangun seolah mepertegas eksistensi keberadaan suatu masyarakat adat sekaligus menjadi pengendali atas perubahan sosial akibat globalisasi dan modernitas.

Lokasi konservasi kepiting kenari

Langkah yang diperlukan tentunya adalah dengan memperkuat kelembagaan adat lokal. Politik kebijakan nasional hingga pengaruh globalisasi turut menempatkan masyarakat adat dengan kepentingannya pada posisi yang dilematis ditengah lajunya pembangunan. Lemahnya posisi ini turut berpengaruh pada kemampuan adaptasi terhadap nilai-nilai baru atau perubahan yang datang dari luar. Peran berbagai pihak tentu menjadi penentu keberhasilan bersama mewujudkan tatanan nilai budaya yang adaptif dan solutif atas segala dampak perubahan.

Suasana Sosialisasi Kampong Adat Mado Madadi di Pulau Hiri

Sebagaimana dapat dianggap sebagai salah satu solusi yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan Kota Ternate dengan semangat pemajuan kebudayaan melaksanakan kegiatan pengelolaan Kampung Adat di Kelurahan Mado Kecamatan Pulau Hiri pada Sabtu (21/11) kemarin. Kegiatan ini dilaksanakan dengan menghadirkan para narasumber Rinto Taib, MSi (Plt. Kepala Dinas Kebudayaan & Penulis), Dr. Aji Deni (akademisi UMMU), Usman Nomay, MPd (akademisi IAIN) dengan ulasan yang berbeda mulai dari Kebijakan Pemerintah Daerah, Peran dan Partisipasi Publik hingga Pewarisan Peradaban Islam. Selain sebagai sarana memperkuat kelembagaan lokal khususnya dikalangan masyarakat adat, juga sebagai wujud peran pemerintah daerah untuk mendorong masyarakat lokal berinisiasi, berkreasi dan inovatif untuk menghadapi dan menjawab tantangan jaman melalui revitalisasi nilai budaya dan konservasi potensi ekologis masyarakat tempatan.