Pengelolaan Kota Pusaka Bengkulu

Oleh:

H. AHMAD KANEDI, SH, MH.

PEMERINTAH KOTA BENGKULU

2011

PENDAHULUAN

  1. Bengkulu Kota Pusaka

Istilah Kota Pusaka di Kota Bengkulu belum terasa begitu akrab sebutannya di bandingkan dengan istilah Bengkulu Kota Semarak atau Bengkulu Bumi  Putri Gading Cempaka, kedua istilah tersebut sudah sangat akrab dan dikenal oleh masyarakat Kota Bengkulu sejak tiga dasa warsa terakhir, karena kedua istilah tersebut telah dicantumkan kedalam Peraturan Daerah Kota Bengkulu yang setiap saat dibacakan di berbagai tempat upacara di Kota Bengkulu.

Kata Semarak  merupakan singkatan dari Sejuk, Meriah, Aman, Rapi dan Kenangan dan Putri Gading Cempaka merupakan nama salah seorang Putri Raja Bengkulu yang konon ceritanya merupakan salah seorang Putri Tercantik di Jagat Bumi Andalas, sehingga mengundang kedatangan seorang Putra Raja Aceh yang sengaja datang ke Bengkulu untuk melamar Putri Gading Cempaka, namun sayang perkawinan itu tidak pernah terjadi dan mengakibatkan terjadinya perang antara Pasukan Kerajaan Aceh melawan “Anak Dalam Muaro” saudara laki-laki dari Putri Gading Cempaka.

Istilah Kota Semarak maupun Bumi Putri Gading Cempaka, secara faktual mengandung makna PUSAKA, karena kesemuanya itu adalah aktualisasi dari Cipta, Rasa dan Karsa para pendahulu masyarakat Kota Bengkulu.

Bengkulu Kota Pusaka baru mulai diperkenalkan semenjak Kota Bengkulu tergabung dalam keanggotaan jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), kurang lebih sekitar 3 tahun yang lalu. Proses pengenalan atau sosialisasi istilah Kota Pusaka ini dilakukan secara perlahan-lahan dan terus menerus, sehingga telinga masyarakat Kota Bengkulu akrab dengan istilah tersebut dan terpatri dalam sanubari setiap insan yang berada di Kota Bengkulu.

Sejarah Kota Bengkulu yang tidak terlepas dari sejarah nasional Indonesia yang diawali masuknya bangsa-bangsa eropa untuk mencari dan berdagang rempah-rempah sebagai salah satu komoditas perdagangan dunia yang paling menguntungkan disaat itu. Pedagang Inggris yang dilengkapi dengan bala tentaranya mendarat di Kota Bengkulu pada awal abad 16, bahkan jauh sebelum itu sudah ada suku bangsa lain yang mendarat di Kota Bengkulu sekedar untuk singgah sebentar untuk melakukan transaksi dagang dan ada diantaranya yang menetap dan berasimilasi dengan masyarakat Kota Bengkulu Asli.

Konsekuensi kedatangan bangsa asing yang kemudian berasimilasi dengan masyarakat setempat, telah melahirkan berbagai Pusaka Budaya, baik Pusaka yang berwujud benda, maupun Pusaka yang tidak berwujud benda, selain dari Pusaka Alam Kota Bengkulu yang memang sudah terkenal indah sejak dahulu kala.

 

  1. Pusaka

Kota Bengkulu memiliki Pusaka Alam, Pusaka Budaya dan Pusaka Saujana yang sejak berabad-abad yang lalu sudah dikenal di dunia Internasional, hal ini terbukti dari banyaknya tulisan dari penulis asing yang membahas tentang Bengkulu (Bengcoolen).

Pusaka Alam, Kota Bengkulu secara geografis terletak memanjang di wilayah bagian tengah Pantai Barat Pulau Sumatera dan menghadap ke Samudera Hindia (Samudera Indonesia) yang terkenal dengan ombak nya yang besar dan angin laut yang kencang. Pengaruh Alam tersebut ternyata telah menjadikan Pantai Bengkulu sebagai suatu Lukisan Alam dengan segala ke indahan panorama pantai nya yang sangat menarik untuk minta disentuh oleh tangan-tangan halus para seniman dan budayawan sehingga menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan suatu harmonisasi kehidupan yang membentuk karakter masyarakat yang unik.

Pantai Panjang sebagai Pusaka Alam yang terbentuk dari proses alam, kemudian di threatment oleh manusia dan menghasilkan Pusaka Saujana yang memukau untuk dinikmati.

Benteng Fort Marlborought terletak di ketinggian dan menyerupai kura-kura dan bersudut lima.

Pusaka Budaya, Kota Bengkulu yang semula berawal dari sebuah Kota Kecil yang masyarakat nya sebagian besar terdiri dari nelayan dan petani, kemudian berkembang sejalan dengan berdatangannya orang-orang dari berbagai daerah (Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Aceh, Bugis, Jawa, Sunda dan lain sebagainya) dan berbagai Negara asing seperti China, India, Inggris, Belanda, Jepang dan Portugis. Proses budaya tersebut berasimilasi dan akulturasi, serta mengalami pasang surut kekuasaan Pemerintahan juga berpengaruh pada eksistensi budaya yang berkembang hingga saat ini.

Pusaka Budaya di Kota Bengkulu terdiri dari Pusaka Budaya Tangible (Berwujud) dan Pusaka Budaya Intangible (Tak berwujud)

Pusaka Budaya Tangible, sebagian kecil masih terpelihara dengan baik di Kota Bengkulu seperti Benteng Pertahanan Inggris Fort Marlborought, Kawasan Pemukimam Pecinan (Kampung China), Makam Panglima Perang Pangeran Diponegoro yaitu Panglima SENTOT ALI BASYAH, Tugu Peringatan Thomas Parr, Tugu Hamilton, Makam Tentara dan masyarakat Inggris di Bengkulu dan masih banyak lagi Pusaka Budaya tangible yang ada di Kota Bengkulu.

Ini adalah kawasan Pecinan (kampung China) di Kota Bengkulu, sebagian sudah direnovasi, dan sebagian masih asli, dulu kawasan ini merupakan pusat perdagangan, namun saat ini kawasan ini menjadi kawasan yang ditinggalkan oleh para pedagang, dan pertokoan hanya di jadikan tempat tinggal atau pemukiman warga.

Pusaka Intangible (Tak berwujud) seperti Seni Musik, Seni Tari, Bahasa, Sangat kental pengaruh dari daerah lain seperti Sumatera Barat dan  Sumatera Selatan, sehingga warna budaya melayu terasa lebih spesifik dengan adanya hasil asimilasi dan akulturasi budaya di Kota Bengkulu. Bahkan salah satu andalan pusaka budaya Kota Bengkulu adalah Tabot.

Tabot yang dikemas dalam bentuk acara Festival Tabot di selenggarakan setiap tanggal 1 sampai dengan 10 Muharram setiap tahunnya. Acara Ritual Tabot juga merupakan hasil asimilasi dan akulturisasi budaya yang di bawa oleh para pekerja yang berasal dari Negeri India dan beragama Islam beraliran syi’ah, guna untuk mengenang wafatnya Cucu Nabi Muhammad s.a.w. Al- Hasan dan Al- Husain bin Ali bin Abi Thalib yang wafat akibat perang di Padang Karbala.

Prosesi Ritual Tabot ini, sampai dengan sekarang masih dilakukan oleh Keluarga Keturuan Sipai yang di sebut keluarga Tabot.

Tarian Kreasi yang bernuansa Tabot oleh Sanggar PUSPA KENCANA Kota Bengkulu

Para Penari Kota Bengkulu mengkolaborasi seni budaya melayu dengan seni  budaya etnik lainnya sehingga mampu tersaji sebagai suatu kemasan Pusaka Budaya yang menarik.

  1. Pembinaan dan Pengembangan

Sebagai Kota Pusaka, Kota Bengkulu saat ini mulai berbenah diri, dengan memulai melakukan inventarisasi Pusaka yang ada di Kota Bengkulu. Secara teknis Pembinaan dan Pengembangan Bengkulu Kota Pusaka di lakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bengkulu.

Untuk selanjutnya diperlukan adanya kebijakan Pemerintah Daerah agar seluruh Pusaka yang ada dapat terjaga dengan baik, melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan, pemberian insentif, serta menggalakkan aktivitas festival budaya.

  1. Potensi Ekonomi

 

Aktivitas pembinaan dan pengembangan Bengkulu Kota Pusaka akan memakan sumber daya yang cukup besar, namun pembiayaan tersebut akan memiliki efek multiflier terhadap pendapatan masyarakat, dan mampu menunjang investasi sektor pariwisata.

Pembinaan dan pengembangan Pusaka ini memang harus koordinatif dan terencana, jangan justru berakibat  terjadinya kehancuran  pada Pusaka yang lainnya.

 

  1. Heroisme

Kota Bengkulu banyak melahirkan pahlawan nasional yang bergerak dan berjuang di berbagai bidang, Sejarah Bengkulu Kota Pusaka lebih kental lagi setelah Walikota Bengkulu mengangkat kepermukaan tentang peran Putri Bengkulu Ibu Fatmawati Soekarno selaku Penjahit Bendera Pusaka Merah Putih.

Beberapa waktu yang lalu Kota Bengkulu telah mentasbihkan diri sebagai Kota Tempat Merajut Nusantara, dengan salah satu kegiatannya adalah tempat penghasil Duplikat Bendera Pusaka Merah Putih yang di jahit langsung di rumah kediaman Ibu fatmawati Sukarno di Kota Bengkulu.

Duplikat Bendera Pusaka Merah Putih yang resmi adalah Duplikat Bendera Pusaka Merah Putih yang di jahit di rumah kediaman Ibu Fatmawati di Kota Bengkulu yang dilengkapi dengan sertifikat penjaitannya serta dokumentasi asli.

Upacara Pembukaan Merajut Nusantara Dengan menjahit Duplikat Bendera Pusaka merah Putih di Rumah kediaman Ibu fatmawati di Kota Bengkulu.

Panglima Daearah Militer (PANGDAM) II Sriwijaya beserta Istri hadir pada acara Merajut Nusantara Dengan Menjahit Duplikat Bendera Merah Putih di Kota Bengkulu.

Sukmawati Soekarno, salah seorang Putri Ibu Fatmawati,  menjahit duplikat Bendera Pusaka Merah Putih di Kediaman Ibu Fatmawati di Kota Bengkulu.

Ibu Armelly Kanedi, SE, M.Si Ketua Tim Penggerak PKK Kota Bengkulu, menjahit Duplikat Bendera Pusaka Merah Putih di Rumah Kediaman Ibu Fatmawati di Kota Bengkulu.

Surya Paloh memberikan orasi kebangsaan pada saat pelaksanaan acara Murajut Nusantara dengan Menjahit Duplikat Bendera Merah Putih di Kota Bengkulu

Orasi Kebangsaan oleh SURYA PALOH di hadapan para pejabat dan undangan.

  1. Rekomendasi

Berdasarkan hasil pengamatan dan sedikit pengalaman kami, maka kami merekomendasikan agar setiap Kota Pusaka di berikan suatu perlakukan khusus dalam hal suntikan Anggaran Dari Pemerintah Pusat (APBN), sehingga tidak hanya bergantung pada kemampuan APBD yang semakin sesak dan padat.

 

WALIKOTA BENGKULU

 

 

H. AHMAD KANEDI