Pasca Pandemi, Pariwisata Bali Akan Shifting

Pasca Pandemi, Pariwisata Bali Akan Shifting

Kepariwisataan Bali terpuruk selama pandemi Covid-19. Bahkan kondisi tersebut mengakibatkan pertumbuhan perekonomian Pulau Dewata menyentuh level terendah yaitu minus 12,28 persen pada kuartal III-2020.

Berbagai cara dilakukan pemerintah untuk mengembalikan geliat kepariwisataan Pulau Dewata. Salah satunya melalui sertifikat CHSE atau Cleanliness, Health, Safety, dan Environmental Sustainability. CHSE menjadi strategi pemerintah dalam meyakinkan calon wisatawan soal jaminan kesehatan, dan keselamatan.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Suharso Monoarfa menilai, kepariwisataan Bali akan shifting (bergeser) pascapandemi Covid-19.

Pariwisata Pulau Seribu Pura kedepan disebut tidak lagi didominasi mass tourism, melainkan quality tourism.

“Di Bali sebenarnya jauh sudah lebih siap untuk menerima quality tourism. Kalau quality tourism ini sudah dilengkapi dengan protokol kesehatan, itu sudah berjalan dengan baik,” katanya dalam Konferensi Pers Akhir Tahun Kementerian PPN/Bappenas di Ubud, Senin (28/12/2020).

Suharso Monoarfa mengatakan, dalam proses shifting diperlukan sinergitas komprehensif oleh seluruh pihak. Pegiat industri pariwisata diminta merangkul para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Langkah ini untuk menyelaraskan seluruh unsur dalam mempercepat realisasi kepariwisataan berkualitas.

Bappenas kata Suharso Monoarfa tengah menyusun masterplan untuk membantu percepatan pemulihan pariwisata Bali. Masterplan ini fokus pada pembenahan kawasan wisata Ubud.

“Di Ubud itu kita akan membuat sebuah tempat, yang kira-kira di Ubud hampir sama seperti Forbidden City. Jadi nanti Bali akan punya seperti itu, yang terbatas, dan dengan segala macam pertunjukan dunia, di Ubud. Kita sedang buatkan masterplannya,” bebernya.

Dalam pembahasan masterplan itu, Bappenas menggandeng sejumlah tokoh adat di Ubud termasuk Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Gianyar.

Pihaknya menargetkan, masterplan ini dapat rampung pada semester I tahun 2021.

“Sehingga kita bisa lihat bentuknya seperti apa. Masterplan ini menjadi salah satu yang didorong Bappenas dalam rangka membuat Bali menjadi contoh, bagaimana quality tourism itu dipraktekkan. Dan saya kira Bali akan jauh lebih siap,” katanya.

“Jadi kita tidak hanya menjual pantai, tetapi mulai kembali menjual kebudayaan yang lebih terbatas, itu akan kita dorong. Karena kalau kita bisa merawat kebudayan itu, dengan sendirinya pariwisata itu bisa berkembang. Jadi kalau bisa saya katakan, merawat kebudayaan dengan pariwisata,” pungkasnya.

rri.co.id