Parade Seni Budaya Surabaya 2020 Digelar Virtual

SURABAYA — Setelah enam bulan dihentikan karena pandemi Covid-19, pergelaran seni dan budaya yang diselenggarakan rutin tiap akhir pekan di Balai Pemuda Surabaya kini mulai kembali dilakukan. Pementasan dilakukan di panggung terbuka tanpa penonton umum dan disiarkan melalui kanal media sosial.

Pementasan kembali pergelaran seni dan budaya dimulai pada Sabtu (19/9/2020) malam di Tugu Pahlawan. Acara bertajuk ”Surabaya Merah Putih” menampilkan peristiwa perobekan bendera tanggal 19 Agustus 1945 di Hotel Yamato yang kini menjadi Hotel Majapahit. Pementasan juga diikuti Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang membacakan puisi berjudul ”Memori Surabaya Merah Putih”.

Risma mengatakan, pementasan kembali pergelaran seni dan budaya dilakukan untuk menggairahkan perekonomian para seniman Surabaya. Selama pandemi, dia mendapat keluhan dari sejumlah seniman yang pendapatannya menurun karena acara-acara berkurang, termasuk pentas seni dan budaya yang rutin digelar Pemkot Surabaya tiap akhir pekan.

Dalam pementasan di Balai Pemuda, seniman mendapat giliran untuk pentas secara bergiliran. Setiap tampil, mereka per grup mendapat bayaran  Rp 1,5 juta dari Pemkot Surabaya dan penonton bisa melihat pertunjukan tanpa dipungut biaya.

”Namun, karena pandemi Covid-19, pentas dihentikan sementara waktu. Sekarang kami telah menemukan konsep pertunjukan yang aman dan sesuai protokol kesehatan,” ujarnya di Surabaya, Minggu (20/9/2020).

Pementasan kini dilakukan di panggung terbuka yang berada di Tugu Pahlawan tanpa penonton umum. Pertunjukan disiarkan secara langsung melalui kanal media sosial agar dapat dinikmati masyarakat tanpa perlu datang ke lokasi dan menimbulkan kerumunan massa. ”Seniman harus tetap berkarya meskipun di era pandemi Covid-19,” ucap Risma.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surabaya Antiek Sugiharti menuturkan, parade seni budaya digelar rutin selama tiga hingga lima kali dalam seminggu. Acara dimulai sekitar pukul 19.00 hingga 21.00.

Bentuk kesenian dan pelaku seni akan berubah setiap pekan sesuai dengan tema. Beberapa kesenian yang ditampilkan, antara lain, adalah ludruk, wayang orang, keroncong, campur sari, dan reog. Mereka menggadeng beberapa kelompok seni, seniman, dan budayawan Surabaya untuk berpartisipasi, seperti Cak Kartolo, Cak Lupus, dan Cak Suro.

”Selain ditampilkan melalui media sosial, pertunjukan akan ditayangkan di televisi agar cakupan penontonnya bisa lebih banyak,” kata Antiek.

Melalui pertunjukan itu, dia berharap masyarakat bisa menghabiskan waktu akhir pekan di rumah. Warga tidak perlu keluar rumah karena bisa menimbulkan kerumunan. Selama di rumah, mereka disuguhi penampilan seni dan budaya.

Risma menambahkan, kerumunan di akhir pekan berpotensi menjadi kluster penularan Covid-19. Oleh sebab itu, pihaknya terus melakukan tes massal di tempat-tempat kerumunan warga, terutama yang diisi oleh anak muda. Mereka biasanya menghabiskan akhir pekan dengan berkumpul bersama teman-teman di kafe dan tepi jalan.

”Sekitar 30 persen pasien Covid-19 di Surabaya adalah anak muda berusia 15-34 tahun. Mereka rentan tertular dan menularkan ke teman atau keluarga,” katanya.

bebas.kompas.id