Ombilin Coal Heritage of Sawahlunto

Ombilin Coal Heritage of Sawahlunto

Jakarta – Penetapan pertambangan batu bara era kolonial Belanda, Ombilin, di Sawahlunto, Sumatera Barat (Sumbar), sebagai warisan dunia kategori budaya Ombilin Coal Heritage of Sawahlunto oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) sudah lebih dari satu tahun berlalu.

Namun, pengukuhan dalam sidang ke-43 Komite Warisan Dunia UNESCO PBB di Pusat Kongres Baku, Azerbaijan, pada 6 Juli 2019 lalu itu belum menampakkan progres yang maju dalam perkembangan destinasi wisata di Indonesia, khususnya di Sumbar, dan terkesan jalan di tempat.

“Persoalan jauhnya perjalan sampai 3.5 jam dari bandara ke Sawahlunto mesti dipecahkan. Harus ada solusi, seperti rest area wisatawan atau turis untuk beristirahat. Ini yang menjadi masalah yang mesti dipecahkan, sehingga wisatawan mencapai destinasi, dia tidak boring. Persoalan jalur Bandara ke Sawahlunto harus dipecahkan,” kata Pemerhati heritage tourism, Asfarinal kepada rri.co.id,  Jum’at (7/8/2020).

Asfarinal mengatakan, hal kedua yang harus dilakukan pemerintah Kota Sawahlunto adalah menghidupkan kembali salah satu ikon destinasi kota tambang Sawahlunto, yakni Mak Itam, yakni lokomotif uap di era ahun 50-an.

“Namanya barang tua, tentu perawatan juga ekstra. Pada saat pengganti walikota setelah Pak Amran (eks Walikota Sawahlunto, red), Mak Itam bukan menjadi primadona lagi, ini yang menjadi masalah. Ke Sawahlunto mesti ada daya tarik luar biasa, salah satunya Mak Itam,” sebut pria yang akrab disapa Nanang ini.

Selain itu, kata Nanang, pemerintah harus mencari instrumen lain untuk menghidupkan Sawahlunto. Seperti atraksi khas daerah, Sawahlunto Internasional Music Festival (SIMFest) yang tahun lalu terhenti. Hal itu dibuat sebagai pendukung museum yang ada di sana.

“Salah satu keunggulan sejagat yang disyaratkan UNESCO sebetulnya kota tambang, kalau tidak ada instrumen yang menghidupinya, maka akan betul-betul menjadi kota mati. Sepertinya Sawahlunto saat ini kesulitan mencarikan formula yang pas,” ujar alumni jurusan Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Yang tidak kalah penting, kata Nanang, adalah bagaimana pengembangan penawaran kuliner, serta souvernir khas Sawahlunto. Menurut Nanang, Sawahlunto sadar tinggalan dari tambang, baik dari bangunan bekas tambang, maupun objek bekas tambang bisa dijual, namun kurang kreatif dalam memanfaatkan keunggulan itu.

“Wisata tidak lepas dari objek yang dituju, kedua kuliner dan souvernir. Trik-trik dagang yang membuat orang tertarik ke Sawahlunto. Sawahlunto punya keunggulan, bekas kota tambang, tapi dalam menarik wisatawan tentu harus ada formula ajaib dan kreatif yang ditawarkan pada wisatawan. Modal besarnya sudah ada, tinggal menjual treatment yang menjadi daya tarik,” ucapnya.

“Padahal di Sawahlunto punya songket Silungkang, punya Goedang Ransoem yang dapat dijadikan museum. Namun jangan pula museum itu berjalan satu arah. Harus ada berbagai kreatif pendukungnya, seperti berbagai macam atraksi. Narasi-narasi itu yang mesti dipertajam,” tambahnya.

Nanang menyebut, tentu untuk mewujudkan hal itu tidak mudah, karena membutuhkan anggaran besar. Untuk itu pemerintah Sawahlunto ataupun Sumbar, bahkan pemerintah pusat harus bekerjasama. Anggaran besar harus dikucurkan untuk Sawahlunto.

“Ini bukan hanya persoalan Sawahlunto, namun sudah lintas sektoral, lintas kementerian. Pemerintah Sawahlunto harus jemput bola ke pusat mengait anggaran,” ucapnya.

“Negara juga harus sadar bahwa ditetapkannya Sawahlunto sebagai warisan dunia oleh UNESCO, bahwa kehadirannya bukan mewakili Sawahlunto saja, tapi mewakili Indonesia. Sawahlunto sudah membawa bendera merah-putih,” pungkas Penggiat dari Ruang Kreatif Kota Pusaka ini.

Diketahui, peninggalan tambang batu bara Ombilin Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, resmi sebagai salah satu dari warisan budaya dunia ke-5 milik Indonesia. Pengakuan ini dicetuskan dalam sidang ke-43 Komite Warisan Dunia UNESCO PBB di Baku, Azerbaijan, Sabtu, (6/7/2019) lalu.

Awalnya, Kota Sawahlunto dimasukkan ke daftar sementara warisan dunia kategori budaya sejak 2015. Setelah itu, proses pengumpulan data, penyusunan dokumen pendukung, dan diskusi panjang para ahli serta akademisi dari dalam dan luar negeri makin intensif dilakukan.

Sampai akhirnya muncul usulan agar memperluas tema nominasi untuk memperkuat Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value).

Perluasan tema nominasi ini berimplikasi pada perluasan wilayah nominasi dengan menggabungkan beberapa kota atau kabupaten, yaitu Kota Padang, Kota Padang Panjang, Kota Solok, Kabupaten Solok, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kabupaten Tanah Datar di Sumbar ke dalam satu wilayah nominasi, yaitu ‘Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto’.

Diketahui juga, ada keunikan pada tambang Ombilin, yang mana menunjukkan adanya pertukaran informasi dan teknologi lokal dengan teknologi Eropa terkait dengan eksplorasi batu bara di masa akhir abad ke-19 sampai masa awal abad ke-20 di dunia, khususnya di Asia Tenggara.

Sebelumnya, Indonesia sudah memiliki empat warisan dunia kategori alam yakni Taman Nasional Komodo (1991), Taman Nasional Lorentz (1999), Hutan Tropis Sumatera (2004), dan Taman Nasional Ujung Kulon (1991).

Selain itu, Indonesia punya empat warisan dunia kategori budaya, yaitu Candi Borobudur (1991), Candi Prambanan (1991), Situs Sangiran ( 1996), dan sistem Subak di Bali (2012).

rri.co.id/Images news.detik.com