Narasi Wayang dalam Konteks Kekinian

Narasi Wayang dalam Konteks Kekinian

Malam itu, suasana pendopo Pondok Pesantren Budaya Kaliopak di Piyungan Bantul hangat dan khidmat oleh diskusi “Epos Mahabharata, Lakon-lakon Wayang Jawa dan Filsafat Humaniora Barat: Dibaca Berdampingan”.

Curahan hujan beberapa saat yang membawa gigil dingin pun tidak menjadi momok bagi seluruh peserta yang hadir. Diskusi ini merupakan Sarasehan Bersama, sebuah acara pembuka dari rangkaian kegiatan “Pekan Peringatan 11 Tahun Wayang Pusaka Kemanusiaan Dunia: Pengukuhan UNESCO 2003-2014” yang diselenggarakan oleh Ponpes Kaliopak mulai 1 November hingga 6 Desember nanti.

Diskusi ala jagongan ini mengundang para pembicara terkemuka, seperti Prof. Manu J. Widya Saputra (Filolog Universitas Gadjah Mada), Dr. St. Sunardi (Pengajar Sanata Dharma), Dr. C. Holland Taylor (Peneliti dan Spiritualis Jawa), serta Ki Suharno Cermo Sugondho (Dalang Wayang). Dimoderatori oleh Kyai M. Jadul Maula, pendiri Ponpes Kaliopak sekaligus penggagas acara Pekan Budaya ini, diskusi berjalan selama hampir tiga jam. Pemilihan tema sarasehan berdasarkan pada upaya untuk memahami kontekstualisasi dan relevansi wayang dalam dimensi hidup kekinian.

Kecintaannya pada wayang, membuat seorang St. Sunardi tidak hanya menjadikan wayang sebagai suatu hiburan seni yang dinikmati tiap waktu, nyaris menjadi sebuah rutinitas harian. Melainkan juga sebagai kendaraan reflektif atas kehidupan yang ia lakoni. Berdasarkan pengalamannya menonton pertunjukan wayang atau sekadar mendengarkannya di radio, St. Sunardi menjelaskan bahwa ada tiga tahap proses dalam menikmati wayang. Hal pertama, tahap paling permukaan, adalah menikmati wayang berdasarkan lakonnya. Bila telah melampaui tahap itu dan mampu merasuk lebih dalam, tahap selanjutnya ialah tahap “raos” (rasa) yang artinya tahap untuk memaknai atau “neges”. Hingga di titik akhir sebuah proses penikmatan wayang akan bermuara pada tahap “beber”, dimana nilai-nilai pemaknaan yang telah diperoleh, disebarkan kembali hingga kemudian menjelma sebuah proses penciptaan dan pemaknaan ulang yang terus-menerus.

Menanggapi kisah pengalaman St. Sunardi sebagai penikmat wayang, Manu J. Widya Saputra, filolog UGM yang telah berkeliling banyak negara demi meneliti naskah-naskah wayang (terutama naskah Mahabharata), bercerita bahwa bahasa Sanskerta yang menjadi bahasa awal penulisan wayang merupakan akar bahasa dari bahasa-bahasa Indo-Eropa. Bahasa, dalam kesimpulannya, turut mempengaruhi kesucian atas makna yang dikandungnya. Sebagaimana agama-agama menggunakan bahasa tertentu sebagai medium artikulasinya, wayang pun demikian. Tanpa memakai bahasa Jawa Kuno, wayang tidak lagi menjadi sebuah pertunjukan yang sakral, yakni ketika rentang dunia transenden memiliki ikatannya dengan realitas masa kini. Ini menjadi persoalan, karena penguasaan bahasa Jawa Kuno oleh orang Jawa sendiri justru semakin melemah dari generasi ke generasi. Sehingga tradisi gagasan pengetahuan yang disajikan dalam lakon-lakon wayang menjadi semakin jauh dari pemahaman manusia abad ini.

Pertempuran hidup, dalam konteks ruhaniah, merupakan syarat mutlak bagi perjalanan tiap insan di dunia. Lakon perang Bharatayuda telah menceritakan peristiwa tersebut sebagai takdir yang tidak mungkin dihindari. Kisah Mahabharata sendiri berawal dari cerita pertempuran di padang Kurusetra ini, yang menurut Prof. Manu, di India naskah khusus Bharatayuda telah berevolusi hingga menjadi 24.000 sloka. Pengendalian dan penyucian diri demi memenangkan pergolakan ruhaniah, pada akhirnya menjadi salah satu siasat utama. Jika menyaksikan praktik-praktik kebatinan di Jawa atau ritual sufistik dalam Islam, hal ini menjadi contoh-contoh yang relevan. Holland Taylor, spiritualis Amerika yang kini telah menjadi warga negara Indonesia, mengisahkan bagaimana pada abad 19 Masehi peristiwa Romantic Movement yang berlangsung di Jerman menarik untuk dianalisis. Alih-alih Gerakan Romantik Perancis yang lebih menekankan sisi estetika semata dalam dinamika budaya mereka, di Jerman gerakan ini justru menjelma gerakan spiritualis murni. Schopenhauer, Wagner, Goethe, sedikit dari sekian banyak pemikir dan seniman yang secara langsung maupun tidak tergolong dalam gerakan ini. Fenomena tersebut menurut Holland, membuktikan bahwa gerakan spritualis tidak melulu lahir dan berkembang di dunia Timur, melainkan juga berlangsung di belahan bumi Barat.

Di tanah Jawa, gerakan spiritualitas melalui wayang dapat dikatakan telah berlangsung sejak beratus-ratus tahun lalu dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Ia menggunakan wayang untuk menyebarkan nilai-nilai Islam pada masyarakat Jawa yang kala itu masih beragama Hindu. Kemampuannya dalam mencarang lakon tanpa mengubah aspek moral dan filosofi wayang, menunjukkan bahwa Sunan Kalijaga mampu membuka dimensi baru dari wayang yang tidak hanya menjadi kerangka sistem sosial dan kultural orang Jawa, melainkan juga menjadi sebuah jalan pencarian menuju Tuhan. Dari titik inilah, spiritualitas pun bisa terbangun melalui kedalaman pemaknaan terhadap lakon-lakon pertunjukan wayang.

Di penghujung acara, dalang muda Ki Harno mengungkapkan bagaimana ia dan teman-teman dalang lain berupaya untuk terus melestarikan wayang sebagai akar budaya Jawa. Semata-mata agar keindahan nilai etik dalam tubuhnya tetap menjadi cara pandang dan jalan hidup masyarakat zaman ini, di saat gempuran media informasi dan bentuk hiburan kontemporer semakin merasuki fondasi budaya lokal.

Pada akhirnya, perjalanan diskusi Sarasehan Bersama mampu mengantarkan tiap peserta yang hadir pada narasi pemahaman dan penghayatan yang baru tentang wayang. Diskusi ditutup tepat menjelang tengah malam.

Oleh Sarah Monica

Sumber : nu.or.id