MISTISISME DI KOTA ISTANA (Catatan Dari Rakernas Ke-8 JKPI di Siak Sri Indrapura, Riau. Bagian II)

MISTISISME DI KOTA ISTANA  (Catatan Dari Rakernas Ke-8 JKPI di Siak Sri Indrapura, Riau. Bagian II)

Oleh: Rinto Taib, M.Si
(Kepala Museum Rempah & Plt. Kadis Kebudayaan Kota Ternate)

Sembari menghilangkan rasa lelah setelah perjalanan via udara dari Ternate transit Makassar dan Pekanbaru hingga akhirnya meneruskan perjalanan darat menuju ke daerah tujuan Siak.Sekitar dua jam perjalanan dengan dengan kondisi jalan yang mulus tanpa hambatan dan kemacetan melintasi sepanjang jalan yang relatif lengang tersebut maka tibalah kami di hotel yang telah kami pesan sebelumnya. Tidak ada agenda khusus yang mesti kami lakukan setelah tiba di hotel selain mengumpulkan tenaga untuk mempersiapkan diri menghadiri acara Festival Kota Pusaka sebagai rangkaian Rakernas JKPI ke-8 yang digagas oleh JKPI bersama pemerintah Kabupaten Siak sebagai anggota JKPI sekaligus tuan rumah perhelatan akbar ditengah bahaya pandemi covid-19 tersebut.

Setelah merebahkan badan di hotel yang kami menginap, kami keluar sejenak sekedar untuk melihat suasana Siak dimalam hari dan kamipun mendatangi sebuah museum sekaligus menjadi kantor bagi Bidang Kebudayaan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan daerah setempat. Setibanya di museum tersebut meskipun malam namun tetap ramai pada bagian beberapa ruang dari bangunan bersejarah tersebut. Keramaian ini karena gedung tersebut sekaligus dijadikan sebagai Sekretariat Panitia Pelaksana Rakernas ke-8 JKPI tersebut. Menurut catatan sejarahnya, gedung itu adalah Balai Kerapatan Tinggi yang dibangun pada tahun 1886 dimasa berkuasanya Sultan Syarif Hasyim yaitu Sultan Siak ke-XI. Gedung ini terletak di pinggiran sungai Siak yang berhadapan langsung dengan muara Sungai Mempura.

Penulis ketika duduk di replika kursi raja di Balai Kerapatan Tinggi keŕajaan Siak Sri Indrapura

Sambil duduk sesekali berdiri mengitari beberapa bagian ruangan yang terletak di laintai satu yang meski terang benderang dengan penerangan lampu namun sebagai gedung tua yang bersejarah tetap memiliki aura mistis kental bahkan semakin terasa kita semakin mendekat pada beberapa ruangan di bangunan intinya. Ditengah kebingungan seolah isi kepala ini ingin mengungkapkan beberapa pertanyaan kepada orang sekitar khususnya terkait dengan sejarah gedung, peruntukannya dimasa lalu hingga peranannya dimasa kini?, tiba-tiba seorang teman wanita berbisik bahwa dirinya melihat sang raja keluar dari gedung tersebut menghampiri ke sekawanan kami yang tepat berdiri dan duduk di depan teras gedung tua tersebut.

Ruang sidang gedung Balai Kerapatan Tinggi

Yang menarik dari peristiwa dimalam ini adalah sang pengunjung wanita yang turut bersama kami tiba-tiba beralih tempat seolah ingin berusaha menghindar sembari memberi isyarat akan kehadiran alam lain, diapun menuju ke arah saya dan berbisik pula bahwa api rokok yang dia pegang mati seketika akibat sang raja yang dilihatnya meniup api rokoknya. Sungguh kagum sembari keheranan yang luar biasa karena mengalami secara langsung bagaimana aura bangunan tua pada malam hari di bumi Melayu yang kuat dengan peradaban Islamnya hingga kini.

Penulis ketika berada dalam kereta kencana kerajaan di Balai Kerapatan Tinggi Siak Sri Indrapura

Seolah ingin memahami lewat rasa, sayapun beranjak pergi meninggalkan orang-orang disekitar menuju sebuah kereta kencana yang dahulu digunakan raja di kerajaan tersebut. Letak kereta disisi kanan teras bangunan yang terawat dengan baik meski tetap membutuhkan pemeliharaan secara maksimal terlebih pada beberapa bagian kereta yang menggunakan atau terbuat dari kayu dan logam sehingga tentunya diperlukan metode konservasi kayu dan logam untuk peninggalan sejarah tersebut. Di sekitar kereta kencana tersebut sayapun merasa terbawa dengan suasana mistis seolah adanya kehadiran alam lain yang semakin terasa begitu menguat. Rasa penasaran semakin menggoda untuk melangkah naik di tangga besi yang dibuat sejak zaman Belanda dan terpelihara dengan baik hingga kini. Sebuah tangga yang nampak tidak jauh berbeda dengan tangga serupa di gedung istana sang raja yang berjumlah dua buah untuk dinaiki maupun sebagai jalan turun pada bagian yang lain yang terbuat dari kayu dengan rupa yang berbeda.

Tangga naik ruang sidang balai kerapatan tinggi berbahan logam dan kayu di gedung Balai Kerapatan Tinggi dan Tangga turun bagi yang divonis bersalah dalam sidang adat di Balai Kerapatan Tinggi Kerajaan Siak Sri Indrapura

Rasa penasaran tersebut memaksa saya untuk menapaki tangga naik ke lantai dua yang mampak sunyi karena tidak ada aktivitas sama sekali dan sekedar digunakan sebagai ruang koleksi untuk museum. Ketika menapaki tangga, kepala terasa semakin membesar entah apa yang terjadi dengan lingkungan karena ketidakmampuan saya untuk melihat kehadiran keberadaan “alam lain” tersebut, namun yang pasti seolah mengisyaratkan bahwa yang demikian adalah sebagai penanda atas adanya kehadiran “mereka” mahluk dimalam itu. Energinya terasa semakin kuat ketika saya memberanikan diri naik hingga ke lantai atas sembari mengitari setiap sudut gedung dilantai atas itu seorang diri.

Replika singgasana Raja yang terbuat dari Kuningan berlapis emas di museum Balai Kerapatan Tinggi

Replika Mahkota Kerajaan Siak Sri Indrapura yang terbuat dari emas dihiasi permata di Museum Kerapatan Tinggi

Setelah turun saya menceritakan kepada orang-orang sekitar tertang suasana hati berada di lantai dua tersebut. Seolah penasaran, seorang teman lainnya memberanikan diri melangkah maju ke tangga tersebut untuk naik ke lantai dua namun apa yang terjadi ketika menaiki tiga anak tangga yang bersangkutan langsung turun kembali dan mengatakan rasa ketakutannya untuk melagkah naik hingga akhirnya dia beralih turun dan gagal ke lantai dua tersebut. Rasa penasaran ini akhirnya terjawab ketika dua hari kemudian. Pada hari itu sayapun leluasa mengelilingi setiap sudut ruangan yang berisikan sejumlah koleksi museum yang terdiri dari duplikat mahkota dan kursi emas sang raja yang saat ini tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Sejumlah foto dan lukisan digantung dan terpajang di lantai dua tersebut serta meja dan kursi yang seolah pernah dipakai oleh sang Sultan ketika memimpin rapat kerajaan bersama para perangkat adatnya.

Tak hanya ditempat ini, masih banyak cerita lain tentang mistisme Islam maupun sejarah keberadaan bangsa Eropa seperti Belanda yang kita temukan pada beberapa destinasi wisata lain seperti Istana Raja (Sultan) hingga Tangsi Belanda yang akan kami ulas pada bagian-bagian selanjutnya.