Meriahnya Pembukaan Festival Kebudayaan Yogyakarta 2019

Yogyakarta – Ribuan warga Yogyakarta tumpah ruah ke jalan dalam pembukaan Festival Kebudayaan Yogyakarta atau FKY 2019 pada Kamis sore, 4 Juli 2019. Masyarakat begitu antusias menyaksikan parade kesenian yang panjangnya sampai puluhan meter.

Festival Kebudayaan Yogyakarta 2019 mengambil tema besar Mulanira yang berarti wiwitan atau asal muasal. Sebanyak 33 kontingen turun dalam parade pembukaan festival yang akan berlangsung pada 4 – 21 Juli 2019, di berbagai titik di Yogyakarta itu.

“Untuk pawai ini diikuti 2000 peserta dan 16 kendaraan hias,” ujar Direktur Kreatif Festival Kebudayaan Yogyakarta 2019, Gintani Swastika kepada Tempo. Peserta parade pembukaan FKY ini berangkat dari dua titik berbeda.

Titik pertama, kontingen dilepas dari Kompleks Kantor Gubernur DI Yogyakarta Kepatihan melintasi Malioboro. Di titik kedua, peserta dilepas dari Alun-alun Pura Pakualaman. Rombongan tersebut kemudian bertemu di kawasan Titik Nol kilometer, tepatnya di depan Gedung Sonobudoyo.

Beragam kreasi kostum peserta pawai mendapat sambutan luar biasa dari wisatawan dan masyarakat. Tak jarang sebagian dari peserta pawai diminta berfoto dengan masyarakat di pinggir jalan meski iring-iringan parade masih berjalan.

Salah satu peserta parade pembukaan Festival Kebudayaan Yogyakarta yang menarik perhatian masyarakat adalah aksi para penari dari Sanggar Seni Rawikara Nari Bahuwarna Wonosari Gunungkidul. Mereka mengenakan kostum bertema flora yang bentuknya menyerupai barong simo dan dadak merak pada reog Ponorogo, namun seluruh ornamennya diganti dedaunan hijau.

Kelompok ini juga menampilkan para perempuan dengan kreasi kostum unik lain dengan ciri khas sayap layaknya kupu-kupu mengepak. Pilihan warna dibuat mencolok seperti kuning emas, biru mengkilap, dan hijau. Ada juga penari yang memakai kostum berbentuk burung dan mengepakkan sayap seolah terbang hingga membuat masyarakat, khususnya anak-anak menyingkir khawatir terkena sayapnya yang terus bergerak.

Kelompok mahasiswa pun tak ketinggalan. Laskar Seni Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta atau UNY menurunkan pasukannya yang berdandan ala kerajaan, lengkap dengan mahkota dengan baju kebesaran. Busana kebesaran berupa lembaran batik berlogo Hobo Keraton yang saat berjalan diiringi empat abdi dalam. Wajah para raja itu seluruhnya dicat putih.

Adapun kelompok Bergodo Nghrowot Girikerto Turi Sleman menampilan deretan prajurit yang mengawal sebuah replika guci tembaga raksasa setinggi sekitar 2 meter yang dililit seekor naga. Sejumlah kendaraan hias turut meramaikan pawai. Dari Bregodo Argo Satrean Kalibawang Kulon Progo misalnya, mengawal seorang putri yang duduk di atas replika burung putih besar. Ada pula kreasi truk yang dibuat penuh mainan kardus asal Gunungkidul.

Pembukaan Festival Kebudayaan Yogyakarta 2019 dilanjutkan dengan lagu ‘Bagimu Negeri’ secara instrumental, juga pertunjukkan komposisi tari kreasi baru yang terinsipirasi dari tembang macapat era Mangkunegara yang liriknya digubah Ki Hajar Dewantara, yaitu ‘Kinanti Sandung’. Gubahan ini kemudian dibawakan oleh 100 penari dari Sanggar Seni Kinanti Sekar.

Gintani mengatakan tagline Festival Kebudayaan Yogyakarta 2019 yakni ruang ragam interaksi sebagai simbol Yogyakarta menjadi pertemuan berbagai unsur kebudayaan di Jawa khususnya, juga Indonesia secara keseluruhan. Dalam perhelatan Festival Kebudayaan Yogyakarta 2019 ini, pihaknya mengacu Peraturan Daerah Keistimewaan (Perdais) Nomor 3 Tahun 2017 untuk menerjemahkan kegiatan kebudayaan yang mengisi festival ini.

“Jika event sebelumnya yang menjadi highlights semata kesenian, sekarang kami perluas makna kebudayaan itu dengan kegiatan berbau sains, ritual, bahasa, hingga kuliner,” ujar Gintani. Agenda Festival Kebudayaan Yogyakarta 2019 akan diadaiakn di berbagai titik. Di antaranya Museum Merapi, Museum Sonobudoyo, juga Museum Ki Hadjar Dewantara di Taman Siswa.

travel.tempo.co/Image impessa.id