Menjelajahi Suasana Khas Tionghoa Di Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta X

Menjelajahi Suasana Khas Tionghoa Di Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta X

Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) X yang baru saja usai menyisakan banyak kesan di hati masyarakat dan wisatawan Yogyakarta. Festival yang diselenggarakan untuk memperingati perayaan Tahun Baru Imlek 2566 dan Cap Go Meh ini berlangsung sangat meriah dan dinilai lebih kreatif karena memadukan beragam seni budaya Tionghoa dan Jawa.

Salah satu yang istimewa adalah suguhan berbagai macam atraksi budaya dan bazar kuliner yang dilaksanakan di kampung pecinan Ke Tan Than Chuen atau biasa disebut Kampoeng Ketandan. Tujuan dari diadakan Pekan Budaya Tionghoa setelah Tahun Baru Imlek adalah untuk menjembatani perayaan Tahun Baru Tiongkok tersebut dengan Perayaan Cap Go Meh.

Acara yang diadakan sejak tahun 2006 ini digelar oleh Pemerintah Kota Yogyakarta untuk mempertahankan identitas Kampoeng Ketandan. Di tahun ini, PBTY X dibuka dengan parade pawai Liong Batik sepanjang 159,5 meter yang diarak mulai dari Taman Parkir Abu Bakar Ali menuju kawasan Nol Kilometer. Meskipun gerimis, masyarakat dan wisatawan tetap memenuhi sepanjang Jalan Malioboro untuk menikmati penampilan para peserta karnaval.

Selama rangkaian kegiatan dalam sepekan, para pengunjung dimanjakan dengan berbagai macam agenda kegiatan setiap harinya. Selama perayaan, Kampoeng Ketandan disulap dengan pernak-pernik perayaan Imlek dengan dominasi warna merah. Setiap harinya, pengunjung dapat menikmati berbagai hiburan khas budaya Tionghoa mulai pukul 17.00 WIB.

Bazar Kuliner

Sejak memasuki Gapura Kampung Ketandan, pengunjung sudah dimanjakan dengan stand makanan yang berjajar di tepi jalan. Tentu saja, banyak penjaja menawarkan makanan khas masyarakat Tionghoa seperti lontong cap go meh. Perpaduan lontong ayam, telur dengan sambal goreng ampela dan hati, kerupuk udang, dengan taburan bubuk koya menjadi favorit para pengunjung.

Usai menikmati lezatnya lontong cap go meh, lebih nikmat jika ditutup dengan minum wedang kacang. Dominasi rasa manis menyeruak dari wedang yang berisi kacang tanah, beras ketan, santan dan dibubuhi daun pandan ini. Lidah pengunjung juga dimanjakan dengan adanya stand dimsum yang menyajikan berbagai jenis camilan khas Tionghoa ini.

Tak hanya makanan khas negeri Tirai Bambu yang ada di bazar kuliner, makanan tradisional Yogya maupun kerak telor khas Betawi juga ikut menyemarakkan bazar kuliner.

Hiburan

Selama hampir sepekan, masyarakat yang datang ke PBTY X dapat menikmati berbagai macam hiburan gratis bernuansa Tionghoa. Beberapa panggung disediakan untuk acara perlombaan seperti tari-tarian, atraksi naga barongsai, dan pertunjukan komedi yang dibalut dengan guyonan khas Negeri Tiongkok.

Salah satu pertunjukan yang menarik minat massa adalah Wayang Poo Tay Hee, alunan musik dari panggung mini dengan dominasi warna merah mencolok dapat dengan mudah menarik perhatian para pengunjung yang sedang berlalu-lalang di Kampoeng Ketandan.

Wayang yang biasa disebut wayang potehi ini hanya seukuran tangan orang dewasa, tetapi dibalut apik dengan pakaian warna-warni, lengkap dengan hiasan rambut dan riasan khas Tiongkok. Lakon yang dimainkan memiliki cerita tentang Kerajaan Tay Tong Tiow yang melakukan penyerangan ke Kerajaan Pak Hoan Kok. Selama pelaksanaan PBTY X, wayang potehi menghadirkan secara berseri setiap harinya.

Penonton yang menyaksikan menikmati alur cerita yang dimainkan sang dalang dalam dua bahasa yang berbeda, untuk dialog dalang menggunakan bahasa Indonesia, sementara iringan lagunya dibawakan dalam bahasa Tiongkok.

Pementasan wayang potehi ini juga dibagi menjadi dua bagian, pertama adalah pertunjukan sore khusus untuk anak-anak, dan pertunjukan untuk umum di malam hari.

Lelang Perangko Edisi Khusus

Salah satu yang menarik dalam PBTY X kemarin adalah adanya lelang perangko edisi khusus yang dikeluarkan oleh Kantor Pos Indonesia. Pada hari pertama, perangko bergambar shio kambing kayu ditandatangani secara khusus oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Kemudian di hari terakhir panitia melakukan lelang untuk satu set perangko tersebut dengan membuka harga senilai Rp 5 juta.

Perangko tersebut kemudian dimenangkan dengan nilai Rp 101 juta oleh salah seorang tokoh Tionghoa bernama Djawadi. Hasil lelang tersebut kemudian diserahkan kepada Jogja Chinese Art and Culture Centre untuk mendukung kegiatan-kegiatan perkumpulan termasuk rangkaian Cap Go Meh, Peh Cun, dan acara lainnya.

Sumber : travel.kompas.com

Image : kanaljogja.com