Mengenal Masjid Agung Semarang, Bertahun-tahun Jadi Saksi Sejarah Semarang

SEMARANG – Masjid Agung Semarang (MAS) atau Masjid Kauman Semarang merupakan sebuah masjid yang bersejarah di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Masjid itu juga merupakan satu di antara tempat peribadatan yang tertua di ibu kota Jawa Tengah.

Beragam peristiwa dari zaman kerajaan, penjajahan, kemerdekaan, bangunan masjid itu selalu jadi saksi potret sejarah diantara semua peristiwa hingga bagian dari berdirinya Kota Semarang.

Berdasarkan sejumlah catatan yang dipercaya kebenarannya, Masjid Agung Semarang didirikan pertama kali pada pertengahan abad XVI Masehi (1575 M).

Masjid tersebut pun menjadi salah satu masjid di Kota Semarang yang selalu ramai dikunjungi setiap pengunjung dari berbagai daerah.

Jika sebelumnya masih berstatus sengketa dan setelah menunggu sekian lama, Masjid Agung Semarang akhirnya kini telah memiliki sertifikat wakaf dan kejelasan administrasi.

Sertifikat wakaf telah diberikan oleh Kantor Badan Pertanahan (BPN) Kota Semarang kepada Masjid Agung Semarang pada Kamis (24/9/2020) lalu.

Penyerahan sertifikat sendiri dilakukan oleh Kepala BPN Kota Semarang Sigit Rachmawan kepada Adhi H Ali Mufiz selaku pengurus masjid di dalam MAS.

Disaksikan juga oleh Ketua Yayasan Badan Pengelola MAS KH Khammad Maksum Turmudzi AlHafidz dan Ketua Takmir KH Hanief Ismail.

Sigit Rachmawan mengatakan bahwa penerbitan sertifikat wakaf tersebut merupakan bagian dari program Kementerian ATR/BPN.

“Ini salah satunya sertifikat wakaf yang kami serahkan langsung.

Jadi sertifikat wakaf di Kota Semarang mulai akhir 2018 sampai sekarang itu kami menerbitkan 1200 bidang tanah dan yang sudah kami serahkan 900-an,” ungkap Sigit kepada Tribunjateng.com.

Di sisi lain, pihak MAS tentu merasa senang dan bersyukur usai menerima sertifikat wakaf tersebut.

“Memang sebelumnya yang (bangunan) bagian luar sudah (bersertifikat) justru yang ruang utama yang belum.

Alhamdulillah, tentunya kami sangat bersyukur sekali,” tutur KH Hanief Ismail.

Melansir Tribunjatengwiki.com, berdirinya Masjid Agung Semarang tidak terlepas dari pengaruh Walisongo yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, yakni sekitar abad ke-15 Masehi atau pada masa pemerintahan kesulatanan Demak.

Berawal seorang dari Demak bernama Made Pandan dengan nama asli Maulana Ibnu Abdul Salam diutus oleh Sunan Kalijaga menyiarkan agama Islam di sebelah barat kerajaan Demak, yakni Pulau Tirang yang jadi jujukan.

Made Pandan kemudian membuka hutan sebagai tempat penyiaran agama Islam, yang kemudian hutan tersebut tumbuh subur dan banyak kedatangan orang dari berbagai penjuru untuk belajar agama Islam.

Di tengah keseburan dan keramaian minat datang orang belajar agama Islam yang tinggi, tumbuh pohon asam namun tumbuhnya tidak merata atau renggang.

Dalam bahasa Jawa istilah tersebut ialah ‘Asam dan Arang’ yang kemudian jadi cikal bakal daerah tersebut dinamakan Semarang.

Untuk menunjang kegiatan penyiaran agama Islam dan berbagai kegiatan lain, Made Pandan mendirikan tempat peribadatan yang jadi awal berdirinya Masjid Agung Semarang dan terletak di kawasan Mugas (Semarang Selatan).

Atas jasa memajukan dan memakmurkan daerah tersebut, Made Pandan diberikan gelar oleh warga setempat yakni Ki Ageng Pandan Arang.

Sepak terjang Made Pandan yang semakin berhasil memajukan dan mendirikan Semarang, akhirnya menggugah Sultan Hadiwijaya dari Pajang dan Sunan Kalijaga.

Mereka sepakat menunjuk Made Pandan sebagai Bupati Semarang yang pertama, tepat pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 954 Hijriyah atau 2 Mei 1547 Masehi, bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dirasa Mugas kurang strategis sebagai pusat pemerintahan, Made Pandan memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah Bubakan bersama Masjid Kauman.
Menurut peta kuno Semarang yang tersimpan di Rijks Archief Belanda, menerangkan jika letak Masjid Kauman berada di sebelah timur laut Kabupaten Semarang yakni sekitar daerah Pedamaran.

Setelah Made Pandan wafat, kedudukan Bupati Semarang dilanjutkan putranya bernama Ki Ageng Pandan Arang II yang terkenal dengan sebutan Sunan Tembayat.

Tiga tahun menduduki pemerintahan, Pandan Arang II mengundurkan diri atas nasihat Sunan Kalijaga untuk lebih fokus melakukan penyebaran agama Islam.

Pemerintahan kemudian dilanjutkan oleh Ki Ageng Pandan Arang III atau Pangeran Mangkubumi I (1553-1586), Pangeran Mangkubumi II (1586-1657), Kyai Mas Tumenggung Tambi (1657-1659), Kyai Tumenggung Wongsorejo (1659-1666), Kyai Mas Tumenggung Prawiroprojo (1666-1670), Kyai Mas Tumenggung Alap-alap (1670-1674).

Pada masa pemerintahan Bupati ke-10, penjajah mulai datang ke Semarang, ketika dipimpin Tumenggung Adipati Suro Hadimenggolo I (1674-1701), dan dilanjutkan Tumenggung Adipati Suro Hadimenggolo II (1743-1751).

Masa pemerintahan Tumenggung Adipati Suro Hadimenggolo II ketika tahun 1741, terjadi peristiwa besar yakni pemberontakan orang-orang Tionghoa kepada pemerintahan Belanda, dipicu persaingan dagang dengan VOC.

Peristiwa besar tersebut dijuluki sebagai Geger Pecinan.

Akibat peristiwa tersebut, Masjid Kauman yang berdekatan dengan kantor VOC di Bubakan yang letaknya tak jauh dari kampung Pecinan, ikut hangus ludes terbakar.

Usaha pembangunan kembali Masjid Kauman akibat peristiwa Geger Pecinan, mulai dilakukan Tumenggung Adipati Suro Hadimenggolo II, berlokasi di sebelah barat Bubakan yang sekarang menjadi kawasan alun-alun Semarang.

Tepatnya di ujung Jalan Kauman, sebelah barat alun-alun arah depan dan sebelah kiri dari pendapa kabupaten yang lazim disebut kanjengan.

Pembangunan dan perbaikan diteruskan Suro Hadimenggolo III (1751-1773), Suro Hadi Menggolo IV, Suro Hadi Menggolo V atau akrab disebut Pangeran Terboyo.

Pucuk pimpinan kembali berubah dari Raden Tumenggung Surohadiningrat, Putro Surohadimenggolo (1841-1855), Mas Ngabehi Reksonegoro (1855-1860), Mas Suryokusumo (1860-1887), Raden Reksodirejo (1887-1891).

Pada masa pemerintahan Raden Tumenggung Purbaningrat, Masjid Kauman kembali terkena musibah yakni sambaran petir yang mengakibatkan kebakaran besar menimpa Masjid Kauman.

Usaha perbaikan dan pemugaran kembali dilakukan pada tahun 1889 tepatnya masa pemerintahan Bupati Cokrodipuro dengan bantuan oleh arsitek asal Belanda yakni Gambier.

Bulan April 1890 Masjid Kauman dapat difungsikan kembali.

Untuk menandai sejarah berdirinya Masjid Agung Semarang, ditulislah sebuah prasasti yang ditulis dalam empat bahasa yakni Arab, Jawa, Belanda, dan Melayu.
Hingga sekarang prasasti tersebut dapat dijumpai di sebuah gapura pintu masuk Masjid Agung Semarang.

Peristiwa besar lain yang dialami Masjid Agung Semarang yakni ketika kemeredekaan Indonesia, masjid ini merupakan satu-satunya masjid yang menyuarakan kemeredekaan RI secara terbuka, beberapa saat setelah diproklamirkan kemerdekaan.

Tepat pada hari Jumat sebelum pelaksanaan Salat Jumat, dr Agus menaiki mimbar dan menyuarakan kemerdekaan RI dihadapan para jamaah Salat Jumat.

jateng.tribunnews.com