Menengok Kembali Tempat Wisata Sejarah Saksi Bisu Kekejaman G30S PKI

Setiap tanggal 30 September diperingati sebagai sejarah kelam bagi bangsa Indonesia. Peristiwa Gerakan 30 September atau disingkat G30S didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang merenggut tujuh nyawa perwira militer Indonesia serta Ade Irma Suryani, putri dari Jendral Abdul Haris Nasution.

Untuk mengenang perjuangan bangsa Indonesia melawan PKI, didirikanlah monumen atau museum agar sejarah kelam ini tak terulang kembali. Museum dan monumen ini didirikan di beberapa daerah di Indonesia yang memiliki latar sejarah sebagai tempat pembantaian dan pembunuhan yang dilakukan oleh PKI.

Berikut museum dan monumen Sejarah yang menggambarkan aksi pembantaian PKI di Indonesia:

1. Museum Lubang Buaya
Tempat wisata sejaran museum Lubang Buaya atau museum Pancasila terletak di Kelurahan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Di atas tanah seluas 14,6 Ha dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1 Oktober 1973, museum tersebut merupakan saksi bisu lokasi pembuangan jenazah jendral dan perwira TNI AD yang merupakan korban G30 S PKI.

Di dalam kompleks Museum Lubang buaya terdapat diorama rumah-rumah dengaan patung-patung yang menggambarkan peristiwa naas yang terjadi pada saat itu. Selain rumah dan patung diorama museum lubang buaya juga memamerkan berbagai kendaraan yang digunakan saat peristiwa G-30 S PKI.

2. Museum Abdul Haris Nasution
Museum abdul Haris Nasution terletak di Jl. Teuku Umar No.40 Gondangdia, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat. Museum ini dulunya merupakan tempat tinggal Jendral Besar Abdul Haris Nasution dan keluarga. Setelah beliau wafat pada tahun 2000 silam, rumah tersebut kemudian pada 3 Desember 2008 menjadi situs museum pahlawan nasional. Hal tersebut dilatar belakangi rumah Jendral AH Nasution merupakan saksi bisu peritiwa G30S PKI yang menargertkan para petinggi Angkatan Darat termasuk Jendral AH Nasution.

Di kawasan tersebut kita dapat melihat barang-barang pibadi milik Jendral AH Nasution seperti perabotan rumah tangga, koleksi buku hingga pakaian. Pada bagian dapur rumah Jendral Naustion juga terdapat diorama patung-patung yang menggambarkan pasukan mengarahkan senjata ke arah ibu Nasution yang sedang mengendong Ade Irma Nasution. Dikomplek tersebut juga dilengkapi ruang teater yang memutarkan rekaman bersejarah pengangkatan jenazah dan pemakaman para pahlawan Revolusi.

3. Monumen Kresek Madiun

Sebelum peristiwa G30S PKI di Jakarta, tragedi kelam oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) terjadi di Madiun pada tahun 1948. Peristiwa yang juga disebut Madiun Affair 1948 ini dilatar belakangi pemberontakan PKI, pada saat itu dipimpin oleh Musso dan Amir Syarifuddin.

Monumen Kresek resmi disahkan Pemerintah Kabupaten Madiun pada 1987 sebagai lokasi wisata sejarah untuk mengingat perlawanan terhadap aksi pembantaian yang dilakukan PKI di Madiun pada 1948. Monumen yang terletak di Desa Kresek, kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun ini memiliki luas mencapai 2 hektar, dapat diakses menggunakan kendaraan pribadi dengan waktu tempuh 10 menit dari pusat kota Madiun atau sekitar 8Km ke arah timur dari kota Madiun. Dulunya area monumen ini adalah bekas rumah warga yang dijadikan PKIS sebagai ajang pembantaian

Di atas monumen terdapat dua patung setinggi 3,5 meter yang menggambarkan seorang yang tengah berdiri dengan memegang golok dan terlihat akan memenggal kepala lelaki tua yang sedang berjongkok. Kedua patung tersebut menggambarkan kekejaman pasukan Musso. Selain dua patung tersebut, monumen Kresek juga memiliki relief yang berisi cerita keganasan dan berbagai pembantaian yang dilakukan PKI pada saat itu. Monumen Kresek juga dilengkapi dengan pendopo tempat istirahat serta taman yang ditumbuhi oleh tanaman langka.

jakpusnews.pikiran-rakyat.com