Mendamba Pasar Tradisional Jadi Pusat Kreasi dan Rekreasi

Mendamba Pasar Tradisional Jadi Pusat Kreasi dan Rekreasi

SOLO – Suara biola yang digesek perlahan mengiringi langkah lima perempuan berkebaya hijau keluar dari Pasar Gede, Minggu (10/7/2016). Sayup-sayup lagu Ilir-ilir didendangkan bersamaan dengan gerakan tubuh para perempuan. Membawa sebuah bakul atau tempat nasi dari anyaman bambu, mereka menari dengan tiga lelaki berkostum merah.

Puluhan pengunjung pasar langsung berkumpul begitu grup musik Kemlaka memulai pentasnya bersama penari Pesona Nusantara di halaman pasar. Beberapa warga mengabadikan pergelaran dengan ponselnya.

Pagi itu Tari Gugur Gunung disajikan sebagai rangkaian acara hari terakhir Festival Pesona Pasar Tradisi. Tarian itu memotret fenomena budaya gotong-royong yang kian menurun di masyarakat. “Mari, gabung dengan pemusik dan penari juga enggak apa-apa,” ujar seorang personel Kemlaka.

Seusai repertoar pembuka, harmoni gamelan dengan ritme bas giliran mengiringi sajian Gugur Gunung. Pentas semakin rancak saat penari melompat dengan memainkan bakul dan sapu lidi. Tepuk tangan menggema saat seorang penari memeragakan adegan salto di akhir pentas. Tomang, 35, seorang pengunjung pasar dari Bali, terlihat antusias menikmati tarian.

“Cukup unik melihat pertunjukan seperti ini di pasar tradisional. Di Bali belum ada,” ujarnya saat ditemui Solopos.com.

Pengunjung pasar tak hanya dimanjakan performa seni. Sejumlah ornamen seperti janur kuning dan payung tradisional bermotif batik membikin warga terpikat. Pentas yang berdampingan dengan aktivitas jual-beli juga menjadi kekhasan tersendiri. Meski tanpa panggung permanen, pentas di Pasar Gede sukses merebut atensi.

Selain Kemlaka dan Pesona Nusantara, pagi itu tampil Tari Paci dari Nusa Tenggara Timur, Tari GRAY oleh Nungky Nurcahyani dan karawitan oleh siswa SDN Gandekan.
Sejak Jumat (8/7/2016) Festival Pesona Pasar Tradisi digelar di tiga pasar tradisional yakni Pasar Gede, Pasar Kembang dan Pasar Triwindu. Puluhan event digelar hampir 24 jam, menyesuaikan aktivitas pasar tradisional.

Direktur Festival Pesona Pasar Tradisi, Heru Prasetya, memang sengaja membarengkan event dengan kegiatan jual-beli. Dia ingin merasakan dinamika acara menyatu dengan atmosfer sosiokultural pasar.

“Jadi kalau event di Pasar Gede, kami bikinnya pagi-siang. Pasar Triwindu siang-sore, Pasar Kembang sore-malam, menyesuaikan jam pasar mereka,” ujarnya.

solopos.com