Masjid Agung Pondok Tinggi dan Masjid Raya Rawang

Masjid Agung Pondok Tinggi dan Masjid Raya Rawang

Kebudayaan Islam yang masuk ke Alam Kerinci  (Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci) Propinsi Jambi mempengaruhi berbagai aspek seni seperti seni sastra,seni arsitektur,seni pahat dan lain lain.

Seni Arsitektur (bangunan) yang tumbuh dan berkembang di alam Kerinci ( Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci )menunjukkan adanya perpaduan antara seni tradisional dengan budaya Islam, Masjid mesjid kuno ini menunjukan ciri ciri khusus yang yang berbeda dengan masjid masjid yang  ada di Timur Tengah. Kekhususan gaya arsitektur ini dapat kita lihat pada bentuk atapnya yang bertingkat lebih dari satu,dan  memiliki corak ukiran yang uniek  dan mengandung nilai nilai kearifan lokal yang dipadukan dengan berbagai motive geomtetris dan motive tumbuh tumbuhan menjadi ornamemen yang memiliki nilai seni tinggi dalam bentuk desain ornamental sebagai karya seni  dekorasi Islam yang terdapat hampir di seluruh Negara Negara islam di Dunia termasuk di Alam Kerinci

Diantara peninggalan Arsitektur Islam yang terdapat di Kota Sungai Penuh adalah mssjid Agung Pondok Tinggi Kota Sungai Penuh. Mesjid Agung Pondok Tinggi terletak di Desa Pondok Tinggi, Kecamatan Pondok Tinggi Kota Sungai Penuh, Propinsi Jambi. Secara astronomis berada pada koordinat 01º04’15” LS dan 101º01’32” BT. Masjid . Masjid Agung Pondok Tinggi merupakan salah satu masjid kuno  yang masih berdiri kokoh di Kota Sungai Penuh dengan arsitektur khas nusantara, beratap tumpangdan berkontruksi kayu.

Demikian halnya pada interior masjid berupa dinding-dinding dan tiang kayu yang didominasi dengan ukiran khas Kerinci, motif sulur-suluran, hiasan geometris, dan pada bagian lain dinding juga terdapat ukiran terawangan yang juga berfungsi sebagai fentilasi udara.  Di dalam masjid juga tersimpan sebuah bedug larangan yang cukup panjang lebih dari 5 meter. Menurut adat masyarakat di alam Kerinci fungsinya adalah dibunyikan sebagai sarana komunikasi untuk berkumpul atau menandai peristiwa tertentu.

Mesjid Agung Pondok Tinggi berdenah bujur sangkar dengan ukuran 30 x 30 m dan memiliki atap berbentuk tumpang 3 (tiga). Pada bagian atasnya terdapat mustaka yang puncaknya dihias dengan bulan sabit dan bintang. Dinding masjid terbuat dari kayu dan dihias dengan ukiran motif flora dan mempunyai kisi-kisi yang berfungsi sebagai ventilasi. Pada setiap sudut dinding terdapat hiasan motif sulur-suluran. Sedangkan lantai masjid terbuat dari ubin

Mesjid ini mempunyai 2 buah pintu masuk berdaun ganda yang berhiaskan ukiran motif tumpal dan sulur-suluran. Di dalam masjid terdapat 36 buah tiang kayu berbentuk segi delapan dan berhiaskan ukiran motif tumpal dan sulur-suluran. Tiang-tiang tersebut dikelompokkan menjadi 3, yakni kelompok 1 terdiri atas 4 buah tiang berdiameter 0,90 m yang terletak di tengah-tengah ruang utama masjid. Kelompok 2 terdiri atas 8 buah tiang berdiameter 0,65 m yang mengelilingi tiang kelompok 1. Kelompok 3 terdiri atas 24 buah tiang berdiameter 0,65 m yang mengelilingi tiang kelompok 2.

Mihrab masjid terletak di sebelah barat, berdenah persegi panjang dengan ukuran 3,10 x 2,40 m. Pada bagian depan mihrab terdapat bentuk lengkung yang dihias dengan ukiran motif geometris dan sulur-suluran, serta tempelan tegel keramik.

Keunikan lain dari masjid ini adalah tempat muadzin mengumandangkan adzan terletak di atas tiang utama masjid. Untuk mencapainya dihubungkan dengan tangga berukir motif sulur-suluran dan diakhiri sebuah panggung kecil berbentuk bujur sangkar yang berukuran 2,60 x 2,60 m dikelilingi pagar berhias ukiran motif flora. Panggung kecil inilah yang merupakan tempat muadzin berdiri dan mengumandangkan adzan. Sedangkan bagian mimbar masjid berukuran 2,40 x 2,80 m, dihias dengan ukiran motif sulur-suluran dan atap berbentuk kubah

Mesjid Agung Pondok Tinggi  Kota Sungai Penuh merupakan bangunan rumah ibadah  yang  mengandung nilai nilai seni dan kebudayaan yang sangat tinggi,Mesjid yang dibangun secara gotong royong(swadaya masyarakat) ini dibangun pada hari Rabu tanggal 1 Juni tahun 1874 di prakarsai tokoh tokoh masyarakat,Ulama dan kaum adat di wilayah adat Dusun Pondok Tinggi.

Mesjid yang memiliki arsitektur uniek dengan ukiran ukiran hasil olah kreatif seniman dn budayawan dusun Pondok Tinggi dibangun dengan tekhnologi sederhana  akan tetapi bercita rasa seni tinggi,pada zamannya Mesjid ini dibangun tanpa menggunakan paku,ssistim pasak merupakan cirri khas bangunan peninggalan abad ke  I9 ini hingga saat ini masih berdiri kokoh dan megah ditengah tengah kota Sungai penuh yang damai dan tentram.

Masjid Agung  Pondok Tinggi masa kini dan masa lalu

 pintu-masjid-dua pintu-masjid

(Pintu masuk mesjid dan tiang tiang gantung penyangga ruangan Masjid Agung Pondok Tinggi)

Penyusun (Budhi.VJ.Rio Temenggung) bersama Reporter Trans TV  yang mengunjungi  situs peninggalan Budaya di Kecamatan Pondok Tinggi mendapat gambaran betapa  Maha Agungnya  karya  kreatif yang dirancang dan dibangun oleh masyarakat dusun pondok tinggi yang saat itu hanya berpenduduk kurang dari 90 – 100 Kepala Keluarga  dan hanya dengan menggunakan peralatan kerja yang masih sungguh sangat  sederhana akan tetapi memiliki jaringan kekerabatan dan memiliki semangat kegotong royongan yang kuat dan menghasilkan karya seni yang bercita rasa tinggi/.

Tidak  seperti kebanyakan mesjid mesjid lainnya, Mesjid Agung Pondok Tinggi tidak memiliki ”Menara” di luar bangunan, akan tetapi menara bangunan terdapat di dalam  bangunan mesjid, Menara di buat sederhana dengan bentuk segi  empat dan di hiasi dengan ukiran bermotif  patma.

Menara Mesjid Agung Pondok Tinggi Kota Sungai Penuh ini sangat uniek, disamping  berada di dalam  ruangan  mesjid, bentuk menara sangat uniek, seolah olah menara tergantung, karena di pasang agak tinggi- berada  diatas  alang  tiang  panjang  lima, dan  untuk  mencapai  menara  menggunakan  anak  anak tangga, pada masa lalu dari  menara inilah Muadzin  mengumandangkan  Azan sebagai  pertanda masuknya waktu untuk mengerjakan shalat wajib. Meski menara ini tidak lagi  di fungsikan untuk tempat mengumandangkan  azan akan tetapi kondisi  menara masih tetap utuh dan di pertahankan dalam bentuk motiv asli..

Di dalam bangunan Masjid terdapat sebuah Beduk ukuran besar, dan di bahagian luar Mesjid terdapat sebuah Beduk dengan ukuran  panjang dan diameter  yang agar kecil dibandingkan Beduk yang berada di dalam mesjid,Masyarakat setempat menyebut Beduk yang besar dengan sebutan”Tabuh Larangan”.Tabuh ini dibuat dari satu batang pohon besar yang utuh sepanjang 7,5 meter dan garis tengah bahagian depan 1,15 meter dan garis tengah bahagian belakang 1,10 meter.Tabuh ini hanya ditabuhkan(di bunyikan) pada saat saat tertentu,misalnya pada saat terjadi marabahaya  seperti kebakaran,gempa bumi,banjir.dll.

Sedangkan beduk yang berada di luar Mesjid masih difungsikan untuk menandakan masuknya waktu shalat wajib. Bentuk beduk kecil ini sama dengan bentuk Tabuh  yang besar yang terdapat di dalam Mesjid, Panjang Beduk  kecil ini adalah 4,25 Meter,garis tengah bahagian Depan 75 Cm, dan garis tengah bahagian belakang 69 Cm. Mesjid Agung Pondok Tinggi  Kota Sungai Penuh  merupakan  sebuah  warisan  kebudayaan  dan  peradaban  bangsa  dan  merupakan sebuah warisan leluhur  yang  mengandung nilai nilai tradisi, relegius dan mengandung nilai nilai sejarah perjuangan.

\           Situs Mesjid Agung ini mengandung nilai nilai seni dan budaya yang sangat tinggi dan mengandung  nilai kearifan lokal, keberadaan Mesjid Agung Pondok Tinggi ini disamping untuk kegiatan ibadah dan dakwah  juga  merupakan  salah satu aset seni dan kebudayaan yang bernilai tinggi yang harus  di lestarikan dan di rawat.

Selain masuk sebagai warisan budaya yang harus di lindungi dibawah  monument Ordonansi tahun 1931 dan Undang undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Cagar Budaya, Pemerintah Kota Sungai Penuh juga mengabadikan arsitektur bangunan Mesjid Agung kedalam lambang Kota Sungai Penuh,ini menunjukkan penghargaan dan penghormatan yang tinggi dari masyarakat dan pemerintah Kota Sungai Penuh terhadap warisan budaya mereka

mimbar-mesjid mimbar-mesjid-agung
(Mimbar dan Menara Mesjid Agung Pondok Tinggi Kota Sungai Penuh
)

Sejak  mulai didirikan  tanggal 1 Juni 1874  dana selesai pada tahun  1902 hingga tahun 1952 Masjid berarsitektur uniek dan spesifik ini bernama Mesjid Pondok Tinggi,pada saat kunjungan Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama Drs.H.Mohd Hatta pada tahun 1953 ke Kota Sungai Penuh,beliau melakukan kunjungan dan menyaksikan keindahan Mesjid Pondok Tinggi, di Mesjid yang indah ini  Wakil Presiden RI Drs.H.Mohd.Hatta dan para tamu bersama tokoh tokoh masyarakat melakukan Shalat.

Dalam  kunjungan ke Mesjid  tertua di Kota Sungai Penuh ini, Wakil Presiden RI melakukan dialog dan beramah tamah dengan masyarakat dan para tokoh tokoh adat  yang menunggu kehadiran beliau, dalam pembiacaraan yang bernuansa semangat kekeluargaan  Wakil Presiden menyatakan rasa kagumnya  terhadap kemegahan dan keindahan Masjid Pondok Tinggi

Untuk menjaga nilai nilai kearifan lokal dan untukmempertahankan diaroma keaslian dan untuk kepentingan penelitian,Wakil Presiden RI menyarankan agar bahagian atas /plafon mesjid agar dibairkan alami dan terbuka dan jangan diberi loteng, Wakil Presiden RI yang pertama Drs.H.Mohd Hatta menyatakan Mesjid Pondok Tinggi disempurnakan namanya menjadi”Mesjid Agung Pondok Tinggi”.Hingga saat ini Mesjid kebanggaan warga masyarakat Kota  Sungai Penuh itu masih terawat dengan baik dan dijadikan sebagai salah satu mascot kebanggaan masyarakat dan Pemerintah Kota Sungai Penuh.

  Tabuh-Larangan--terpanjang-di-Propinsi-Jambi

(Tabuh Larangan  terpanjang di Propinsi Jambi)

Pengamatan  penyusun, hingga saat ini di Propinsi Jambi Beduk/tabuk larangan tertua dan terbesar hanya terdapat di alam Kerinci(Kota Sungai Penuh) diantara Tabuh tersebut adalah Tabuh dan Beduk yang berada di Pondok Tinggi, Beduk/Tabuh ini digunakan  untuk melengkapi kebutuhan prasarana  rumah ibadah(Mesjid Agung) masyarakat membuat Beduk/Tabuh yang dgunakan untuk mengingat waktu tanda masuk shalat dan Tabuh dimanfaatkan untuk tanda peringatan /pemberitahuan kepada  masyarakat luas.Pada Beduk/Tabuh Larangan di Masjid Agung terdapat ukiran bermotif bunga”Teratai

Dibanyak lokasi sebagian besar  tabuh tabuh (Beduk Raksasa ) larangan terbuat dari bahan  kayu kayu besar jenis kayu Letoy dan Medang Jangkat yang berumur lebih dari 250-  Tabuh larangan ini diduga mulai dikerjakan pada masa awal penyebaran Agama Islam di Bumi Alam Kerinci, Tabuh Larangan ini pada masa lalu hingga saat ini hanya di gunakan pada hari Raya,Pelantikkan Pemangku Adat, pemberitahuan adanya serangan musuh atau tanda marabahaya..

Beduk-RaksasaBeduk/Tabuh larangan yang berusia lebih dari 250 tahun dapat kita temui di Luhah Datuk Singarapi Putih Kota Sungai Penuh, di dalam Masjid Agung, di Desa Maliki Air Rawang  Kota Sungai Penuh, Tabuh larangan tidak boleh dibunyikan,tabuh larangan hanya dibunyikan pada kondisi keadaan tertentu,Tabuh larangan  hanya di tabuhkan untuk memberitahu kepada  anggota Perbo kalo empat dalam negeri,perihal baik dan buruknya berita.

Pengamatan dan hasil action research penyusun,beduk dan Tabuh larangan terdapat di Rawang,Koto baru,pulau Tengah,Siulak,Sungai Penuh,Pondok Tinggi,sebahagian dari beduk/Tabuh kurang mendapat perawatan dari Dinas terkait,beberapa diantaranya  telah lapuk ditimpa air hujan dan dimakan usia.secara umum Beduk/Tabuh  diletakkan di halaman rumah gedang atau di tengah tengah dusun karena tabuh larangan berfungsi sebagai tanda pemberi peringatan..

Tabuh /Beduk di Pondok Tinggi terdapat dua buah, satu buah berada di sebelah kanan sayap bangunan .dan Tabuh Larangan berada di dalam ruangan,Tabuh Larangan ini dibangun jauh sebelum  Pembangunan Mesjid Agung Pondok Tinggi di laksanakan( Masjid di Bangun tahun 1874) sebelum di simpan di dalam Masjid,Tabuh Larangan ini berada di halaman rumah Gedang pada tahun 1974 di pindahkan kedalam ruangan  bagian pojok kanan Mesjid Agung  . Tabuh ini konon menggunakan kulit sapi betina dan pengikat menggunakan rotan, Tabuh berbentuk Selinder dan agar mengecil kebelakang memiliki panjang 7 Meter Garis tengah kulit 1,15Meter. Dan memiliki ragam hias bermotifkan Teratai.

Arsitektur trradisional suku Kerinci termasuk bangunan Mesjid Agung Pondok Tinggi  dan  rumah rumah larik yang ada di Kota Sungai Penuh merupakan  salah satu identitas yang mampu memberikan gambaran tentang tingkat kehidupan masyarakat di Kota Sungai Penuh pada masa lalu,Dalam arsitektur tradisional terkandung secara terpadu wujud ideal,wujud sosial dan wujud material suatu kebudayaan,karena wujud wujud kebudayaan itu dihayati dan diamalkan,maka melahirkan rasa bangga dan rasa cinta  bagi masyarakat pendukungnya.

Dalam arsitektur tradisional yang terwujud dalam bangunan Mesjid Agung Pondok Tinggi dan bangunan rumah rumah tradisional memiliki berbagai ragam  nilai nilaikearifan lokal, Bangunan Mesjid Agung yang dibangun hampir 2 abad yang lalu  yang dibangun dengan menggunakan bahan materialalam yang tersedia di Kota Sungai Penuh dan arsitek perancang dan pelaksana pembangunan Mesjid telah menunjukkan betapa tingginya daya cipta dan daya kreatif masyarakat di Pondok Tinggi pada waktu itu,meski dengan menggunakan sarana dan prasarana terbatas masyarakat telah mampu mewujudkan sebuah bangunan yang Agung.megah dan bernilai seni tinggi.

Nilai nilai kekeluragaan yang  erat dan sifat kegotong royongan dan rasa kesaatuan dan persatuan tinggi  telah menunjukkan bahwa mereka telah mampu mewujudkan sebuah bangunan yang saat itu sangat sulit untu Belakangan ini akibat dampak perkembangan zaman dan tekhnologi,  arsitektur tradisional suku Kerinci khususnya di Kota Sungai Penuh semakin tergerus dan mengalami perubahan,manusia sebagai penggerak utama perubahan semakin terdesak oleh alam dan lingkungannya,berbagai pengaruh tekhnologi  dan tuntutan perubahan zaman membuat arsitektur bangunan  rumah aslidi Kota Sungai Penuh semakin  tergeser dan terpinggirkan,dan di khawatirkan untuk abad mendatang  arsitektur tradisional  bangunan di Kota Sungai Penuh akan punah dan akan menjadi kenangan masa lalu. Sebuah harapan dari kalangan budayawan dan seniman agar Pemerintah  segera turun tangan untuk menyelamat dan merawat aset aset bangunan arsitektur tradisional yang masih tersisa

 Oleh: Budhi Vrihaspathi Jauhari & Nurul Anggraini Pratiwi