Makam Keramat “Jere Kulaba” Memiliki Batu Nisan Tertinggi di Pulau Ternate

Makam Keramat “Jere Kulaba” Memiliki Batu Nisan Tertinggi di Pulau Ternate

TERNATE – Sebagai salah satu pintu masuk agama Islam di �wilayah timur Indonesia, Ternate memiliki sejumlah peninggalan budaya dan sejarah yang berhubungan dengan perkembagan Islam di bumi Rempah-rempah itu. Tak terkecuali tempat-tempat yang kini �dikramatkan dan dipercaya mempunyai nilai magis.

Salah satunya yakni makam-makam keramat yang oleh warga lokal disebut jere.

Jika sebuah makam disebut “jere“, sudah bisa dipastikan bahwa pemilik makam alias orang tersebut, bukan karena ditanam oleh manusia melainkan dipercaya berdiri dengan sendirinya.

Salah satu dari sekian jere yang ada di Ternate yakni Jere Kulaba. Dinamakan Jere Kulaba karena letaknya di desa Kulaba (sekarang sudah berstatus kelurahan, red), yang merupakan pintu masuk kecamatan Pulau Ternate yang jaraknya sekitar 10 Km dari pusat kota.

Berdiri di kaki gunung Gamalama dan terletak diantara dua lereng gunung Gamalama, Jere tersebut oleh warga sekitar dipercaya telah ada sejak tahun 1705.

Untuk mencapai Jere Kulaba bukan sesuatu yang sulit. Cukup dengan berkendaraan baik roda dua maupun empat bisa langsung ke lokasi.

Jika dari pusat kota, anda bisa menggunakan kendaraan alternatif seperti ojeg untuk sampai tujuan. Tapi, bila naik angkot, anda akan diturunkan di perkampungan warga yang selanjutnya dilanjutkan dengan jalan kaki atau dengan ojeg menuju ke lokasi. Lebih enak jika menggunakan kendaraan sendiri.

Sebelum memasuki area Jere, anda mesti ber-siloloa (mohon izin, red) dengan penjaga jere yang lokasi rumahnya tepat di jalan masuk menuju Jere. Meskipun tak bertemu langsung, cukup menitipkan salam pada anak cucu beliau, anda sudah bisa langsung menuju ke lokasi Jere.

Jalannya yang beraspal licin karena jarang dilalui kendaraan dan sedikit berlumut serta menanjak, membuat anda harus sedikit ekstra hati-hati jika menggunakan kendaraan sendiri terutama sepeda motor. Jaraknya kurang lebih 400 meter dari perkampungan tepat di atas desa Kulaba.

Setiba di gerbang Jere, anda diwajibkan untuk melepaskan alas kaki dan mengucapkan salam saat hendak masuk. Lalu, selanjutnya, anda boleh melakukan ritual seperti membersihkan, menaruh bunga-bungaan, memanjatkan doa serta ritual lainnya lazimnya orang berziarah ke kuburan.

Jere Kulaba sendiri memiliki satu makam utama dan tiga makam pendamping. Ketiganya diperkirakan adalah keluarga dari tokoh yang dikubur di makam utama tersebut.

Ketiga makam pendamping itu tersusun di sebelah kanan atas Jere utama. Termasuk, terdapat satu jere lain yang terletak sedikit menjauh sekitar lima meter yang disebut sebagai Jere Pusa.

Disebut Pusa, yang sama artinya dengan pusar atau bekas potongan ari-ari manusia, karena bentuk makamnya yang melingkar dan terdapat lingkarang kecil di tengah makam. Jere Pusa ini dipercaya konon merupakan dodomi (ari-ari) dari pemilik makam utama.

Tinggi batu nisan jere utama sendiri sekira mencapai 170 cm atau setinggi orang dewasa. Tinggi Jere itu sebelumnya dipercaya selalu bertambah tinggi. Namun, semasa pendudukan Jepang di Ternate pada perang dunia kedua, nisan jeer tersebut sempat tertembak hingga patah. �

Sejak saat itulah, batu nisan tersebut tidak lagi bertambah tinggi. Bekas patahan sampai sekarang masih terlihat dan sempat disambung kembali semasa pemerintahan Sultan Djabir Sjah atau ayah dari Mudaffar Sjah, Kolano (sultan, red) saat ini.

Salah satu keistimewaan Jere tersebut menurut cerita turun temurun yakni tidak terkena sapuan lava panas dari magma gunung saat Gamalama meletus di pertengahan abad 19 lalu. Sisa-sisa lava yang kemudian membeku dan membentuk gumpalan batu-batu raksasa seluas kurang lebih empat hektar di samping desa Kulaba yang oleh warga disebut dengan nama Batu Angus, hingga sekarang masih terdapat itu hanya berjarak kurang lebih 1 Km dari Jere tersebut.

“Padahal saat itu, lahar gunung menggenangi hampir seluruh desa. Tapi anehnya, Jere tersebut justru lolos dari hantaman lahar panas. Inilah salah satu keajaiban dari Jere tersebut. Juga karena adanya Jere yang letaknya tepat di atas desa kami. Kampung ini lolos dari terjangan lahar panas gunung,” ujar Abdullah Nifu, penjaga atau juru kunci Jere Kulaba.

Sayangnya, hingga kini, Abdullah yang merupakan generasi ketiga dalam keluarganya yang sudah turun temurun jadi penjaga, tidak tahu persis nama dari orang “suci” yang “mendiami” makam tersebut. �

“Tidak ada yang tahu namannya karena tidak ada yang pernah menguburnya. Jere itu muncul secara tiba-tiba pada tahun 1705. Hanya dari cerita kakek saya, di dalam makam itu adalah salah satu yang dipercaya merupakan para Auliyah yang menyebarkan Islam di Ternate,” ujar kakek berusia 80 tahun yang sudah 30 tahun ditugasi Sultan Ternate untuk menjaga Jere itu.

Selain itu, dengan berziarah ke Jere tersebut dipercaya bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit, terutama yang sudah kronis, hingga menyembuhkan kemandulan. “Tidak sedikit yang pernah kesini. Mereka umumnya selain berziarah, juga minta agar saya doakan supaya cepat disembuhkan, termasuk bisa memperoleh anak bagi yang sudah lama menikah namun belum juga beroleh keturunan,” tambah Nifu.

Untuk prosesi doanya sendiri tak muluk-muluk. Cukup dengan membaca doa di makam utama, dengan menyediakan nasi kuning plus dua butir telur yang sudah didadar dan rebus. Kegunaannya, nasi dan telur, plus air putih yang diberi mantera itulah yang akan dibawa pulang untuk dimakan si sakit atau yang punya hajatan.

Umumnya, mereka yang minta didoakan itu kembali dengan membawa hasil yang menggembirakan. Selain karena penyakitnya bisa sembuh.

“Semua itu tergantung keyakinan dan keihklasan. Tapi kembali pada kuasa Allah Ta’ala. Segala yang terjadi itu hanya dengan izin-Nya jua,” ujarnya sedikit memberi nasihat.

Menurut Nifu selain Jere sering didatangi masyarakat umum, tak sedikit juga pejabat yang datang minta untuk didoakan.

“Pastinya saya tolak jika minta jabatan. Itu pesan dari orang-orang tua kami bahwa cukup melayani mereka yang minta disembuhkan dari sakit dan mereka yang sudah lama menikah namun belum memiliki keturunan,” tegas Nifu.

Sumber : okezone.com