Lestarikan Warisan Leluhur, Gianyar Menuju Kota Pusaka

Lestarikan Warisan Leluhur, Gianyar Menuju Kota Pusaka

Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Gianyar ke-244 tahun 2015 dijadikan tongkatan  menuju “Gianyar Kota Pusaka”. Konsepsi ini dimaknai sebagai sebuah kebijakan dan langkah aksi Kabupaten Gianyar dalam melestarikan dan memberdayakan pusaka warisan leluhur untuk kesejahteraan masyarakat Gianyar.

Demikian disampaikan Bupati Gianyar Anak Agung Gde Agung Bharata pada acara jumpa pers di Kantor Bappeda Kabupaten Gianyar, Kamis (9/4). Dikatakan, tema ini ditetapkan sebagai wujud nyata Pemkab Gianyar atas cetak biru atau blue print “Revitalisasi Gianyar Menuju Kabupaten Unggul Dalam Bidang Seni Budaya” yang telah disusun oleh para budayawan, akademisi, praktisi dan tokoh-tokoh seni dan budaya yang ada di Kabupaten Gianyar. “Berbagai kegiatan perayaan diharapkan makin menggemakan Gianyar sebagai kota pusaka serta makin menggugah masyarakat untuk melestarikan dan menjaga pusaka yang ada di Kabupaten Gianyar ditengah gerusan globlisasi sehingga kedepan Gianyar makan kaya dengan pusaka,” terang Bupati Agung Bharata.

Berbagai aktifitas lomba, pagelaran dan pertunjukan punsudah mulai digelar dengan melibatkan komponen seni lukis, tari, tabuh, kerajinan dan kreatifitas seni yang menjadi nafas dan keseharian masyarakat Gianyar. Ragam kegiatan ini merupakan  visualisasi tekad Gianyar menuju Kota Pusaka.

Disebutkan, bahwa  momentum HUT Kota ke-244, merupakan salah satu media  bagia masyarakat   dalam mengenalkan kebudayaan Gianyar. Kendati Gianyar sudah dikenal luas di  seluruh dunia sebagai Kabupaten Seni dan Budaya  momentum HUT Kota  ke-224, juga dimanfaatkan sebagai penegasan sebagai kota pusaka. Dengan menggelar  acara spektakuler yakni melukis sepanjang 1 kilometer melibatkan  sekitar 500 seniman lukis pemula hingga maestro  di Jl. Kebo Iwa Gianyar.

I Wayan Geria, Ketua Tim Penyusuna Blue Print Gianyar menjelaskan, Kabupaten Gianyar sebagai kabupaten seni dan budaya memiliki pusaka yang beraneka ragam baik bersifat benda maupun non benda, dan tersebar di tujuh kecamatan. Kota Gianyar di masa lalu merupakan pusat pemerintah Kerajaan Gianyar dengan kota raja yang bersifat tradisional kemudian tumbuh dan berkembang berdampingan dengan pengaruh modernisasi tetapi tetap mempertahankan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan turun-temurun.

Untuk lebih mengukuhkan dan upaya penyelematan terhadap tinggalan-tinggalan tersebut, Gianyar telah terdaftar sebagai angggota JKPI (Jaringan Kota Pusaka Indonesia) nomor urut 38 serta mengusulkan Gianyar menjadi anggota P3KP (Program Pelestarian dan Penataan Kota Pusaka) Kementrian PU dan Perumahan Rakyat.

Sumber : balitribune.co.id