Kota Sawahlunto Menuju World Heritage

Kota Sawahlunto Menuju World Heritage

Peluang Kota Sawahlunto menjadi world heritage (warisan dunia) sudah semakin di depan mata. Setelah ditetapkannya kota ini sebagai Warisan Nasional oleh Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Mengah Republik Indonesia, Anies Rasyid Baswedan Ph.D pada tanggal 29 Desember 2014 lalu, peluang untuk pengajuan menjadi warisan dunia juga terbuka luas.

Hal itu dibuktikan dengan terpilihnya Kota Arang untuk mewakili Indonesia dalam pengajuan warisan dunia ke UNESCO tahun 2015 ini. Terpilihnya Sawahlunto dalam pengajuan warisan dunia tersebut dilihat dari kesiapan kota yang memiliki visi “Sawahlunto Mejadi Kota Wisata Tambang yang Berbudaya tahun 2020” ini sebagaimana yang telah diprasyaratkan oleh UNESCO melalui Ditjen Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah RI.

Keputusan kesiapan Kota Sawahlunto untuk mewakili Indonesia dalam pengajuan warisan dunia ini langsung disampaikan oleh Dirjen Kebudayaan, Prof. Kacung Marijan, Ph.D pada pengumuman hasil presentasi tentative list kesiapan kota dalam pengajuan warisan dunia di ruang rapat Dirjen Kebudayaan, 21 Januari 2015 lalu. Terdapat 9 warisan (daerah) yang ikut dalam presentasi tersebut, diantaranya Bada Neira, Toraja, Muara Jambi, Kota Tua Semarang, Sangkulirang-Kalimatan Timur, Sijunjung, Kota Tua Jakarta dan Sawahlunto.

Kacung Marijan dalam membacakan hasil presentasi tersebut mangatakan terdapat dua daerah yang dipandang telah siap untuk diajukan sebagai warisan dunia, yaitu Kota Tua Jakarta dan Kota Sawahlunto sendiri. Kedua derah ini diminta untuk mempersiapan seluruh kelengkapan dokumen pengajuan sebagaimana yang telah disyaratkan. Mengingat dalam pengajuan hanya dibolehkan satu warisan saja, maka Kacung menekankan kepada kedua daerah ini mana yang lebih siap.

Diakhir acara, perwakilan Kota Tua Jakarta menyatakan mengundurkan diri dikarenakan belum siapnya dokumen pengajuan yang diminta. Disamping itu, Kota Tua Jakarta juga belum tercatat sebagai Warisan Nasional sebagaimana salah satu syarat untuk pengajuan warisan dunia harus terlebih dahulu terdaftar sebagai warisan nasional.

Terpilihnya Kota Sawahlunto dalam pengajuan warisan dunia ini tidak terlepas dari pejuangan pemerintah kota jauh-jauh hari. Banyak daerah-daerah yang mengajukan warisan dunia yang tidak melengkapi regulasi pengelolaan warisan dalam upaya pelestarian. Untuk Sawahlunto sendiri, mulai dari visi dan misi hingga badan pengelola sudah diundangkan baik dalam bentuk Perda, Perwako maupun SK Walikota. Inilah yang membuat Kota Kuali ini dipandang siap dalam pengajuan warisan dunia.

Pengajuan Sawahlunto sebagai warisan dunia tidak menempatkan seluruh kawasan Kota Sawahlunto, melainkan hanya satu kawasan saja sebagaimana objek warisan yang diajukan “Kota Lama Tambang Batubara Sawahlunto”, yang hanya meliputi bekas kota lama peninggalan Kolonial Belanda saja.

 

Kota Lama Sawahlunto

Kawasan Kota Lama Sawahlunto adalah bekas kota tambang yang dibangun oleh pemerintah Kolonial Belanda dalam penambangan batubara. Kota lama ini terletak di pusat kota Sawahlunto sekarang, dengan cakupan deliniasi seluas 89 ha.

Kawasan ini sudah mencerminkan aktivitas penambangan batubara Sawahlunto secara keseluruhan dulunya. Dimana infrastruktur tambang batubara berada di kawasan ini, mulai dari area industri, pasar, pemukiman, perkantoran, maupun area penambangan.

Kawasan kota lama peninggalan Kolonial Belanda inilah yang diajukan pemerintah Kota Sawahlunto untuk dijadikan warisan dunia. Dan kawasan ini pula lah tercatat sebagai Warisan Nasional yang ditandatangani oleh Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah RI.

Tidak hanya infrastruktur tambang saja yang dijadikan warisan dunia, sejarah lahirnya kota tambang tertua di Indonesia ini juga menjadi nilai penting dalam pengajuan dukumen. Keberadaan Orang Rantai dulunya menjadi nilai tersendiri dalam dokumen, dimana terjadinya eksploitasi tenaga kerja serta adanya pelanggaran HAM yang dilakukan Kolonial Belanda saat itu.

Orang Rantai yang merupakan tawanan pemerintah Kolonial Belanda yang berada di beberapa penjara di Indonesia dan dikirimkan ke Kota Sawahlunto untuk dipekerja paksakan sebagai buruh tambang batubara ini dipandang berbeda dengan kota tambang lainnya di dunia. Perbedaan ini lah yang menjadi salah satu keunikan untuk dijadikan warisan dunia disamping masih terjaganya peninggalan infrastruktur tambang peninggalan Kolonial Belanda.

Disamping cerita Orang Rantai, akulturasi budaya barat dengan timur yang terjadi dulunya juga menjadi bagian dalam pengajuan dokumen. Akulturasi budaya tersebut hingga kini masih hidup ditengah-tengah kehidupan masyarakat Sawahlunto. Tidak hanya itu, kelompok ‘Tunggal Sekapal’ yang lahir dalam budaya masyarakat kota kini masih berkembang. Kesemuanya melahirkan kebudayaan baru yang unik serta dipandang berbeda dengan budaya di daerah lain di Sumatera Barat.

 

Pekerjaan Berat

Diajukannya Kota Lama Tambang Batubara Sawahlunto sebagai warisan dunia ke UNESCO oleh Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah RI tidak serta merta memberikan kepuasan kepada pemerintah Kota Sawahlunto. Justru dengan pengajuan ini akan memberikan pekerjaan yang lebih banyak lagi dalam upaya pelestariannya. Sebab jika sudah menjadi warisan dunia, Kota Lama Sawahlunto tidak hanya milik pemerintah kota namun sudah menjadi milik dunia.

Meski demikian, jika menjadi warisan dunia dengan sendirinya Kota Sawahlunto akan menjadi salah satu destinasi dunia nantinya. Untuk mewujudkan itu semua diperlukan pekerjaan yang berat, baik oleh pemerintah kota maupun masyarakatnya. Masyarakat Sawahlunto sendiri adalah kunci bisa tidaknya kota ini menjadi warisan dunia. Bagaimanapun, upaya pelestarian warisan secara keseluruhan berada di tangan masyarakat, pemerintah daerah hanya melahirkan regulasi semata yang akan dijalankan secara bersama dengan masyarakat.

Walikota Sawahlunto, Ali Yusuf S.Pt beberapa waktu lalu mengatakan akan fokus dalam pelestarian warisan kota yang ada. Ali mengatakan, upaya pelestarian tidak hanya berada di tangan pemerintah namun lebih diminan oleh masyarakat. Sebab, hampir 80 persen cagar budaya yang ada di Kota Sawahlunto ditempati oleh masyarakat. “Untuk itu kita mengajak kepada seluruh masyarakat Kota Sawwahlunto untuk selalu menjaga cagar budaya yang ada. Hal ini sekaligus mendukung visi misi kota kita yaitu kota tambang yang berbudaya,” katanya.

Saat ini kata Ali Yusuf, pemerintah kota akan berupaya mengembangkan cagar budaya bungker Masjid Agung. Diduga kata Ali, bungker yang berada dibawah masjid ini terhubung dengan Lubang Tambang Mbah Soero. Ada sekitar 1,5 km panjang lubang yang menghubungkan bungker dengan Lubang Tambang Mbah Soero. “Saat ini kita telah melakukan kerjasama dengan Universitas Gajah Mada untuk melakukan penelitian awal,” tambah Ali.

Kepala Kantor Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto, Evrinaldi, S.Si, dalam presentasinya pada pengajuan tentative list 21 Januari 2015 lalu mengatakan Sawahlunto mempunyai keunikan dibanding dengan kota tambang lainnya di dunia. Untuk itu dia yakin, kota ini bisa terdaftar sebagai warisan dunia di UNESCO nantinya.

Jika dilihat dengan kondisi sekarang, Kota Lama Sawahlunto yang diajukan sebagai warisan dunia ini tidak mengalami perubahan yang signifikan. “Hampir 90 persen bangunan peninggalan Kolonial Belanda yang ada di Sawahlunto masih terawat dengan baik. Begitu juga dengan budaya yang lahir, masih hidup ditengah-tengah masyarakat,” katanya.

Sekarang tambah Evrinaldi bagaimana kita terus memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang arti pentingnya pelestarian serta manfaat apa yang akan didapatkan oleh masyarakat jika menjadi warisan dunia nantinya. Ia berharap, masyarakat yang mendiami cagar budaya untuk dapat mempertahankan kondisi bangunan yang ditempati dengan tidak merubah bentuk bangunan. “Kami di kantor Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman akan terus melihat perkembangan pembangunan, khususnya di kawasan Kota Lama Sawahlunto. Kami berharap masyarakat proaktif untuk bersama-sama mengontrol serta melestarikannya,” tambah Evrinaldi.

Diharapkan, dengan keseriusan yang dibangun oleh pemerintah Kota Sawahlunto bersama masyarakatnya, Kota Lama Tambang Batubara Sawahlunto diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Dengan demikian, Sawahlunto nantinya akan menjadi salah satu destinasi dunia yang ada di Sumatera Barat.

 

Teks Foto:

Foto 1 : Suasana presentasi tentative list pengajuan dokumen world heritage ke UNESCO di ruang pertemuan Ditjen Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah RI, di Jakarta.

Foto 1

 

Foto 2 : Kepala Kantor Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto, Evrinaldi didampingi Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Batusangkar, Fitra Arda saat presentasi di depan Dirjen Kebudayaan, Kacung Marijan.

Foto 2

 

Foto 3 : Dirjen Kebudayaan, Kacung Marijan yang juga sebagai penilai saat mendengarkan presentasi Kota Sawahlunto.

Foto 3

 

Foto 4 : Tim kerja pembuatan dokumen warisan dunia Sawahlunto foto bersama dengan Dirjen Kebudayaan, Kacung Marijan.

Foto 4

 

Foto 5 : Peta sebaran cagar budaya yang berada di Kota Lama Sawahlunto.

Foto 5b

Foto 5a

 

by : Adrial