KOTA PUSAKA:TANTANGAN & HARAPAN (Catatan Dari Rakernas Ke-8 JKPI di Siak Sri Indrapura, Riau)

KOTA PUSAKA:TANTANGAN & HARAPAN (Catatan Dari Rakernas Ke-8 JKPI di Siak Sri Indrapura, Riau)

Oleh: Rinto Taib, M.Si

(Plt. Kadis Kebudayaan Kota Ternate & Kepala Museum Rempah-Rempah Kota Ternate)

Rapat Kerja Nasional Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) ke-8 yang berlangsung di Kabupaten Siak Provinsi Riau sejak (19-23/12) terbilang berlangsung sukses baik secara kualitas gagasan yang dilahirkan maupun kuantitas jumlah para peserta yang hadir dari berbagai daerah anggotanya yang berjumlah lebih dari 70 Kabupaten Kota se Indonesia. Beberapa daerah yang ikut dalam forum rapat kerja nasional yang berlangsung di Kantor Bupati Siak tersebut antara lain: Kota Ternate, Ambon, Jepara, Palembang, Banda Aceh, Buton Selatan, Blitar, Bau-Bau, Sambas, Walikota Banda Aceh, Karang Asem, dll. Turut dalam rapat tersebut, Direktur JKPI, Tim ahli Pak Gaura, pimpinan OPD dari beberapa daerah anggota JKPI serta pihak media.

Meski berlangsung ditengah pandemi covid-19, Festival Kota Pusaka dan Rakernas ini dapat dikatakan sebagai role mode atau contoh sukses bagi daerah-daerah yang akan menyelenggarakan event bertaraf nasional dan internasional ditengah ancaman bahaya pandemi yang masih berlangsung saat ini. Semangat dan peran serta dari panitia penyelenggara selaku tuan rumah maupun kehadiran peserta yang turut serta bersama kepala daerah dan instansi terkait juga tim keseniannya sebagaimana Kepala Dinas Kebudayaan Kota Ternate yang datang bersama Bpk. Walikota Dr. Hi. Burhan Abdurrahman beserta Ibu dan rombongan tim kesenian yang turut mengambil bagian dalam pagelaran tari dengan menampilkan tarian Soya Sisi bertujuan untuk membagi pengalaman terkait pembinaam, pelestarian dan perlindungan warisan kebudayaan termasuk Cagar Budaya di masa akan datang bagi daerah masing-masing,

Walikota Ternate Dr. H. Burhan Abdurrahman bersama Isteri dan Plt. Kadis Kebudayaan Kota Ternate (penulis), Kepala Bappeda Kota Ternate serta Tim Kesenian Dinas Kebudayaan Kota Ternate di Istana Siak.

Selain itu, festival kota pusaka dan sejumlah rangkaian Rakernas ini juga bertujuan untuk mempengaruhi perhatian pemerintah pusat dalam kebijakan pemajuan kebudayaan serta program pembangunan secara lebih luas khususnya pada bidang kebudayaan yang mencakup pula didalamnya urusan Cagar Budaya sebagaimana mampak pada pilihan tema Rakernas ke-8 ini yakni: Masa Depan Kota Pusaka, Tantangan dan Harapan sebagai turunan dari tema besarnya penyelenggaraan kegiatan ini bertajuk: Merajut Pusaka Indonesia, Menyapa Dunia.

Salah satu dari rangkaian kegiatan Rakernas adalah forum rapat bersama (Raker) yang dilaksanakan pada Minggu, (20/12) dengan diawali sambutan Bupati Siak Sri Indrapura dan dipandu langsung oleh Direktur JKPI Asfarinal IAI untuk membahas beberapa hal yang dianggap penting antara lain: menetapkan mars JKPI, melakukan evaluasi keaktifan anggota serta iuran anggota, pemberian penghargaan kepada para deklarator JKPI yang berjumlah 12 orang kepala daerah yang mendorong dan berperan penting bagi kelahiran JKPI pada tahun 2008 silam di kota Solo saat Jokowi menjabat sebagai Walikota Solo ketika itu.

Plt. Kepala Dinas Kebudayaan (penulis), mewakili Walikota Ternate menyerahkan Cenderamata kepada Bupati Siak di Panggung Utama Rakernas JKPI

Pemberian penghargaan ini juga telah dibahas ketika pelaksanaan Pra Rakernas yang diselenggarakan di Karang Asem Bali pada awal tahun silam. Peserta pada forum ini juga meminta masukan dari para sesama anggota untuk mengangkat peran dan fungsi JKPI bagi daerah-daerah anggota. Sawahlunto dan Kota Ambon misalnya yang telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia perlu didorong peranannya oleh semua stakeholder terkait tentunya dengan melibatkan serta peran komunitas, pemerintah pusat, daerah hingga ke tingkat seluruh lapisan elemen sosial ditingkat lokal, nasional dan internasional. Hal ini dipandang penting ditengah daerah-daerah anggota JKPI semakin menggeliat secara bersama-sama berusaha keras untuk mengusulkan berbagai potensi pusakanya untuk diakui oleh UNESCO sebagai warisan dunia. Kota Bogor misalnya yang focus pada keberadaan Kebun Raya Bogornya, demikian pula kota-kota lainnya yang saat ini sedang mempersiapkan segala persyaratan berupa dosir pengusulannya.

Demikian pula yang dilakukan oleh tuan rumah kabupaten Siak Sri Indrapura yang akan menyiapkan dosir yang berisikan materi–materi serta dokumen yang diperlukan bersama JKPI ikut mendorong guna menuju pengakuan UNESCO sebagai warisan dunia tentunya. Meskipun harus diakui bahwa untuk mendapatkan pengakuan sebagai kota Warisan Dunia melalui prosedur dan mekanisme penetapan yang berlaku saat ini bukanlah hal mudah. Oleh sebab itu maka Kabupaten Siak sendiri terus berupaya dan memperoleh bantuan pemerintah pusat untuk restorasi dan akselerasi percepatan pembangunan sebagaimana sebagai kawasan cagar budaya tingkat Provinsi Riau saat ini. Kedepannya sangatlah diperlukan kerjasama dan siniergisitas melalui berbagai lintas lementerian seperti PU-PR, Kehutanan, Kemendikbud, Kementerian Pariwisata, dll.

Suasana forum rapat Rakernas JKPI di gedung Bupati Siak bersama Direktur Jendral JKPI Asfarinal IAI

Dalam diskusi rapat kerja nasional ini turut pula dibahas bagaimana peran dan sikap dari masing-masing daerah untuk mendorong terwujudnya semacam Kawasan Strategis Kota Pusaka Indonesia sebagaimana kawasan strategis Pariiwisata Indonesia dibawah kementerian Pariwisata yang telah berjalan. Selain itu juga dibentuk Tim yang ditunjuk untuk melakukan fungsi kordinasi dengan kementerian guna mengakomodasi kepentingan daerah anggota JKPI yang terdiri dari perwakilan masing-masing kawasan Indonesia Timur, Indonesia Barat dan Indonesia Tengah. Rapat kerja Nasional ini juga memutuskan beberapa hal penting, salah satu diantaranya adalah: program kerjasama JKPI dengan lembaga perguruan tinggi sebagaimana program kerjasama dengan Universitas Indonesia untuk meningkatkan SDM local yang saat ini tengah dirintis.