Kongres Kebudayaan Pemuda Indonesia

Kongres Kebudayaan Pemuda Indonesia

Siang itu,hujan membasahi Jakarta. Namun terasa panas. Bukan karena di ruangan tidak ada pendingin ruangan. Disebuah hotel berbintang terjadi perdebatan alot yang terjadi sejak pagi hari. Mereka, para peserta kongres Kebudayaan Pemuda Indonesia tidak puas dengan jalannya kongres yang berlangsung sejak tanggal 6 hingga 9 November.

Kongres hari terakhir yang seharusnya memasuki agenda kesimpulan dan ikrar pemuda terpaksa batal. Salah seorang peserta dari Maluku mengungkapkan kekecewaannya pada panitia. Hal yang sama juga dikeluhkan oleh hampir semua peserta. Menurut mereka kongres ini gagal dan hanya membuang buang uang saja. Tak pelak, perdebatan dengan moderator Yudi Latief pun tak terhindarkan.

Hingga Direktur Sejarah dan Nilai Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Endjat Djaenudradjat pun ikut menenangkan situasi yang semakin memanas. Situasi pun kemudian sedikit terkendali usai Endjat memberikan nasihat. Menurutnya para peserta harus lebih pintar mengendalikan diri,mengelola emosi. “Dimana-mana ada deadlock itu biasa. Saya nggak malu. Saya malu kalau pemuda Indonesia tidak dapat menggapai Indonesia emas ke depannya nanti,” jelas Endjat.

Sedangkan para peserta bersikukuh bahwa ini bukan kongres,tetapi hanya pertemuan budaya dengan perwakilan daerah seluruh Indonesia. Seperti yang diungkapkan Arif perwakilan dari propinsi NAD menginginkan adanya pertemuan di tingkat daerah masing-masing lalu diadakan kongres kembali. “Kami tidak mau seperti ini. Kami mau damai,kami capek konflik terus,” ujar Arif dengan mata berkaca-kaca.

Sementara ketua panitia, Marcella Zalianty menjelaskan kongres ini sejak awal untuk memberikan inspirasi bagi para pemuda untuk berbuat terbaik bagi Indonesia. “Tetap senang,perbedaan persepsi ini jangan jadi deadlock, tanpa do nothing,” ujar Marcella.

Selanjutnya Marcella mempersilahkan para peserta kongres untuk menindaklanjuti apa yang telah didapat selama mengikuti kongres. Meski sempat memanas acara penutupan kongres berlangsung damai dengan penutupan dilakukan oleh Direktur Sejarah dan Nilai Budaya Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan, Endjat Djaenudradjat kemudian diakhiri dengan berbagai tarian dari berbagai daerah.

(Nurakhmayani)