Kiprah Nasi Padang Dalam Misi Diplomasi

Kiprah Nasi Padang Dalam Misi Diplomasi

Jakarta – Urusan diplomasi Kedutaan Besar Indonesia di luar negeri dalam menunjang pemasukan devisa Indonesia dinilai belum maksimal.

Popularitas Nasi Padang dengan Randang (rendang) dapat menjadi garda terdepan upaya diplomasi itu.

Executive Producer Bagindo KPS Productions, Roby Bagindo masih ingat bagaimana sejarah mencatat, hidangan makan Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 23 Agustus 1949 di Den Haag Belanda adalah Nasi Padang.

“Dari dulu Nasi Padang sudah popular. Video real dari arsip nasional maupun arsip Belanda melihatkan, waktu zaman KMB makanan Minang makan Indonesia sudah dimasak di sana. Pas lagi break orang-orang makan itu,” kata Roby Bagindo dalam ngobrol santai menyikapi tema webinar Nasi Padang Diplomasi Indonesia Untuk Dunia, Minggu (5/7/2020) malam.

Berjalan waktu, memang menurut Roby diplomasi terus berjalan. Namun, diplomasi baru sebatas program sesaat di setiap kedutaan besar, yang belum memiliki manfaat dan tujuan nyata terhadap tujuan kepentingan nasional.

“Alatnya sudah terjadi nih, kita sudah berdiplomasi, bahkan sudah sering sekali, tapi tujuanya mau apa, untuk apa? Ketika video makanan ini di-publish di negara lain, bisa ga orang memasak ulang, dimana bahan-bahannya ditemukan. Nah makanya itu jadi percuma, kalau kita bikin berbagai macam alat promosinya, tapi kita tidak menangkap manfaatnya,” kata Roby.

Roby mencontohkan, bagaimana pemerintah Norwegia giat melakukan diplomasi di Indonesia, dengan hanya satu tujuan memasarkan ikan Salmon. Dengan popularitas Nasi Padang dan Randang yang tengah naik, pemerintah seharusnya mengambil momentum itu untuk menindaklanjuti upaya diplomasi.

“Kalau kita belajar dari Norwegia, apapun upaya diplomasi mereka adalah meningkatkan perdagangan salmon di Indonesia. Kita sudah melakukan di segala lini, mulai dari media tradisional, digital, melakukan bermacam jenis diplomasi, namun setelah itu apa? Paling sederhana itu jualan bumbu lah di luar negeri. Jadi instrumen diplomasi bisa bergulir lebih lanjut,” ungkapnya.

Sementara itu, Founder Chief Culinary Officer at Kenalarasa Culinary Solutions, Arie Parikesit mengatakan, para diplomat Indonesia di luar negeri belum serius memperkenalkan masakan Indonesia.

“Memang sudah dimulai, tapi sifatnya baru sporadis. Kita inginya punya program, tahun ini mereka bikin acara berapa banyak. Pada akhirnya bumbu-bumbu, masakan Indonesia bisa masuk di sana. Bagaimana efek berantai kuliner menjadi pendapatan sebuah negara. Saat rendang di luar negeri ngetop, tidak berhenti di sana, harusnya ada pasta rendang, karena tidak semua orang punya waktu memasak, tapi mencoba lebih instan,” ungkapnya.

Ari menyebut, berbeda dengan kedutaan negara lain, kedutaan besar Indonesia tidak memiliki staf rumah tangga yang profesional untuk memperkenalkan satu masakan khas Indonesia di kedutaan tersebut.

“Saya pernah tanya dengan Menlu Retno Marsudi. Di semua Kedubes dan wisma Indonesia di luar negeri tentu punya staf rumah tangga, tukang masaknya. Tukang masak kita ini sifatnya masih pribadi, jadi sesuai seleranya Pak Dubes atau Bu Dubes yang bersangkutan saja. Di kedutaan lain sudah berbeda fungsinya, koki kedubes itu menjadi satu bagian dari promosi negara itu. Jadi kokinya bukan level rumah tangga, level profesional yang memang tugasnya mengenalkan masakan dan bahan-bahannya,” jelasnya.

Minang Food Consultant Reno Andam Suri mengatakan, semua praktisi, penggiat, dan pemerintah memang harus duduk bersama dalam rangka mencapai tujuan diplomasi dimaksud.

“Duduk bersama membicarakan tujuan. Kalau narasinya kuat, praktisi mumpuni, bisninya juga baik, pemasaran bagus, maka hasilnya juga akan baik. Jadi kokoh dulu tungkunya, apa yang mau kita masak di atasnya akan jadi maksimal,” ungkapnya.

Para penggiat berharap, pemerintah mendengar aspirasi mereka dan bersama berbuat mewujutkan tujuan diplomasi yang sudah dilakukan. Salah satunya dengan memaksimalkan promosi Randang dan Nasi Padang.

Webinar yang dibawakan oleh penggiat dan pengamat Ruang Kreatif Kota Pusaka, Asfarinal ini juga menghadirkan musisi sekaligus pencipta lagu Nasi Padang asal Norwegia, Audun Kvitland Rostad.

Kvitland yang jatuh cinta kepada Nasi Padang ini membuka webinar dengan menyanyikan lagu Nasi Padang. Webinar juga diikuti para pecinta kuliner Minang, termasuk penjual jajanan tradisional Minang di Jakarta, Bonchan.

rri.co.id