INTERNATIONALISME TERNATE (Signifikansi Sail & EWCO dalam Perspektif Kajian Strategis)

Walikota Ternate Dr. Burhan Abdurrahman bersama Dr. Audrey G. Tangkudung, S.S., M.Si (Sekolah Kajian Strategis dan Global) Universitas Indonesia, Peneliti Pusat Penelitian Sumber Daya Manusia dan Lingkungan Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (Dr. Bambang Marhaendra Djaja), Direktur Eksekutif Jaringan Kota Pusaka Indonesia (Asfarinal), Kepala Dinas Kebudayaan Kota Ternate (Rinto Taib, M.Si), dan Kepala Bappeda Kota Termate (Dr. Said Assagaf).

 

Oleh; Rinto Taib, M.Si
(Kepala Museum Rempah & Penggiat Kota Pusaka Indonesia)

Berbagai isu menarik yang berkaitan dengan sejarah, keilmuan, kebudayaan dan kepariwisataan menjadi topik hangat yang diperbincangkan dalam ruang meeting Dr. Audrey G. Tangkudung, S.S., M.Si (Sekolah Kajian Strategis dan Global) Universitas Indonesia, Salemba Jakarta bersama Walikota Ternate (Dr. Burhan Abdurrahman), Peneliti Pusat Penelitian Sumber Daya Manusia dan Lingkungan Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (Dr. Bambang Marhaendra Djaja), Direktur Eksekutif Jaringan Kota Pusaka Indonesia (Asfarinal), Kepala Dinas Kebudayaan Kota Ternate (Rinto Taib, M.Si), dan Kepala Bappeda Kota Termate (Dr. Said Assagaf).

Diskusi hangat yang dimulai sebelum shalat jumat hingga dilanjutkan usai makan siang pada Jum’at (23/10) menjadi momentum penting bagi pemerintah kota Ternate dimasa mendatang tentunya. Tiga hal penting yang diperbincangkan pada kesempatan ini antara lain: Pertama, Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan, Pemajuan Kebudayaan berbasis kearifan lokal dan pemberdayaan komunitas terlebih dimasa pandemic, Ketiga: Penempatan nilai signifikansi Ternate di Jalur Rempah melalui lembaga East West Cultural Observatory (EWCO) serta Ternate sebagai salah satu lingkup area Wallace Line (Coral Gardem). Ketiga tema yang diperbincangkan tersebut tentunya menjadi isu penting untuk menafsir ulang Ternate dimasa lalu, menagkap peluang dimasa kini dan mengembangkan potensi bagi masa akan datang. Signifikansi inilah yang menjadi prioritas kepemimpinan Walikota Ternate dimasa akhir jabatan nanti. Ketiga hal tersebut pula akan menempatkan Ternate sebagai aktor global terlebih jelang Sail Tidore yang akan digelar pada bulan April (pra Sail) maupun September mendatang (Sail).

Maket Bangunan East West Cultural Observatory di Ternate

Walikota Ternate saat diskusi tersebut memaparkan bahwa saat ini kita seolah melihat dan menganalisa sejarah negeri rempah khususnya Ternate hanya berfokus pada aspek perdagangan rempah semata dengan periode perjalanan waktu yang relatif lama, namun signifikansi pertukaran dan pencapaian pengetahuan, warisan sejarah, sastra dan budaya hingga keilmuan jarang sekali mendapat perhatian. Terlebih saat ini Pemerintah RI sedang menggeliat melakukan pengusulan Jalur Rempah (spice toute) untuk dinominasikan sebagai World Heritage. Sebagaimana kita ketahui tentang jalur rempah itu sendiri sebagai sebuah koridor bagi tempat berlalu lalangnya perdagangan dunia di Nusantara yang ditandai oleh kedatangan bangsa Portugis dan Spanyol kemudian Inggris, Belanda juga Jepang.

Walikota Ternate Dr. Burhan Abdurrahman bersama Dr. Audrey G. Tangjulung, S.S., M.Si di UI Jakarta

Pada prinsipnya, kekayaan sejarah masa lalu dan warisan keilmuan serta khazanah budaya Ternate tetap mendapat perhatian serius mengingat daerah ini merupakan daerah Kesultanan yang memiliki sejarah panjang dalam dinamika kerajaan-kerajaan di Nusantara maupun peradaban dunia dimasa lalu, Arab dan Gujarat juga Persia dan Tiongkok sebelum era kolonialisme Eropa.

Dengan demikian maka dalam konteks kekinian dan akan datang, berbagai pihak dari negara-negara tersebut sangatlah potensial dilibatkan untuk memperkuat jaringan dan kelembagaan sebagai upaya penguatan ekosistem kebudayaan Ternate dalam kencah internasional khususnya dalam hal share heritage maupun share history. Ikatan kesejarahan inilah yang bias menjadi narasi kemitraan dalam segala bidang pembangunan dimasa akan datang sebagaimana yang telah dan sedang dilakukan saat ini.

Untuk mewujudkan semua itu maka diperlukan SDM lokal yang handal serta komitmen dan keberpihakan bersama seluruh elemen masyarakat bukan saja pemerintah namun juga semua pemangku kepentingan. Dan untuk memenuhi pemenuhan kebutuhan SDM tersebut maka pemerintah Kota Ternate akan menjalin kerjasama dengan Universitas Indonesia dalam beberapa hal menuju pencapaian tujuan dimaksud. Langkah-langkah strategis yang akan dilakukan oleh kedua belah pihak akan diawali dengan adanya penandatanganan kerjasama yang direncenakan akan berlangsung dalam waktu dekat khususnya dalam urusan kajian-kajian strategis dan pendidikan.

Suasana pembahasan kerjasama dan pemantapan program East West Cultural Observatory di Sekolah Kajian Strategis dan Global UI Jakarta

Semua program yang akan disepakati tersebut meliputi upaya untuk meningkatkan peran dan partisipasi masyarakat sebagai ekosistem kebudayaan dalam upaya Pelestarian (Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan) Cagar Budaya sekaligus meningkatkan potensi sumber daya manusia (SDM) komunitas masyarakat dengan mengembangkan khazanah kekayaan warisan budaya berbasis keaarifan lokal dan semangat lokalitas.

Meningkatkan kompetensi dan kapasitas tenaga teknis urusan kebudayaan termasuk museum (edukator dan konservator) melalui kerjasama studi lanjut ke jenjang yang lebih tinggi serta menumbuhkembangkan kapasitas kemampuan komunitas lokal secara mandiri dan berkelanjutan dalam sektor kepariwisataan secara lebih luas dan berbasis kearifan local, semangat lokalitas dan komunitas terlebih ditengah pandemic Covid-19 saat ini. Hal yang disebutkan terakhir mendapat prioritas utama khususnya kalangan masyarakat luas yang terkena langsung dampak Covid-19.