Gunung Kapur Ciampea, Destinasi Wisata Alternatif di Bogor

triptrus.com

Bogor – Kota Bogor menyimpan banyak destinasi alam yang mempesona. Salah satu yang bisa jadi alternatif adalah Gunung Kapur Ciampea.

Gunung Kapur Ciampea, terletak di Kota Bogor dengan ketinggian 385 mdpl. Waktu yang dibutuhkan dari kaki gunung untuk sampai ke puncaknya hanya 20menitan. Gunung ini memiliki tiga puncak yaitu puncak Batu Roti,Lalana dan Galau.

Puncak Batu Roti menyuguhkan pemandangan Kota Bogor 360 derajat tanpa dihalangi oleh pepohonan. Selain itu, di sekitar gunung ini terdapat beberapa gua, yaitu Gua AC dan beberapa goa lainnya yang belum memiliki nama. Gua AC menyuguhkan keseruan air di dalamnya dan kelelawar di dinding gua yang bisa kita jelajahi.

Mendaki di Gunung Kapur Ciampea tidak membutuhkan peralatan yang sempurna dan biaya yang besar. Kita hanya perlu membayar Rp 5.000 untuk uang masuk di pos pertama. Peralatan yang diperlukan cukup sepatu, ransel, konsumsi makanan ringan dan air secukupnya. Akan tetapi, jika kita akan berkemah, maka kita membutuhkan peralatan dan biaya yang lebih besar.

Sejarah Gunung Kapur Ciampea

Gunung Kapur Ciampea ini bukan cuma menyuguhkan panorama memukau bagi pecinta alam, tetapi juga menyimpan sejarah peradaban manusia. Bahkan, jejak Kerajaan Tarumanegara juga ditemui di kawasan Gunung Kapur yang terbentuk dari lautan dangkal. Beberapa arca masih ditemui di gunung ini, termasuk gua-gua yang diduga jadi persembunyian para raja tempo dulu.

Di puncak Gunung Kapur, punggungan hingga kaki ter­hampar benda-benda berni­lai sejarah sebagai warisan peradaban purba Sunda. Salah satunya warisan Kera­jaan Tarumanegara abad ke-5 Masehi. Ini ditandai pene­muan arca peninggalan Prabu Purnawarman yang tersebar di Gunung Kapur pada 1971.

Tokoh masyarakat setempat, Abdul Rojak (59), mencerita­kan bahwa Gunung Kapur merupakan salah satu pening­galan Kerajaan Purnawarman dan sering disebut Gunung Panenjoan, yakni tempat melihat suatu wilayah. Konon, tempat itu dijadikan bukit pengintai yang bisa melihat keadaan di wilayah sekeliling.

Sejak 1978, warga sekitar banyak menemukan arca dan prasasti Kerajaan Purnawar­man. Arca yang dibuat itu dikenal dengan patung 5, 4, 3, 2 dan 1. Konon bentuk pa­tung yang dibuat merupakan wujud peringatan atau pesan bahwa di tempat tersebut pernah ditempati atau di­huni kelompok masyarakat Pajajaran.

Adapun yang dapat diketa­hui dari patung-patung batu atau arca tersebut antara lain memiliki nama sebagai iden­titasnya. Sangiyang Cupu Manik, Sangiyang Dewa Braja, Sangiyang Mustika Dewa Domas dan Sangiyang Agung Dewa Suci. “Kalau cerita orang dulu, arca itu adalah keturunan dari Sri­nuhun Dar Niskala Watu Sri Baduga Maha Raja Mulawar­man Siliwangi,” bebernya.

Tak hanya arca, ada pula batu hitam sebesar rumah dan karang gantung. Namun pada 1979, batu itu akhirnya dihancurkan. Sedangkan ka­rang gantung berukuran 20 meter banyak digunakan untuk berteduh ketika hujan. Menurut cerita orang tua dulu, itu merupakan batas wilayah Bogor. Bahkan salah satu ciri khas Gunung Kapur Ciampea yakni ditemukannya karang bintang mirip benda-benda di dasar laut. “Infor­masinya aliran dari Gunung Kapur sampai ke Kebun Raya Bogor dan lokasi tempat is­tirahatnya para raja zaman dulu,” bebernya.

Ketua Baraya Kujang Paja­jaran (BKP) Kabupaten Bogor Ahmad Fatir membenarkan adanya bekas peradaban manusia yang tersimpan di Gunung Kapur Ciampea. Pe­ninggalan ini diperkuat dengan jarak gunung itu dengan Situ Prasasti Kaki Gajah Raja Be­sar Tarumanegara, Prabu Purnawarman di Muara Sungai Cianten, Cibungbu­lang, yang hanya 1 km saja. “Di sana ada puluhan arca. Sayang arca itu tidak terawat,” kata Ahmad.

Bahkan, anggota Batalion-14 Kopassus RA Fadilla Grup 2 Batalion 14 Kemang Kopka Darmawan juga pernah me­nemukan sebuah situs tua ‘Batu Nangtung’ (batu ber­diri, red) di atas Gunung Ka­pur Cibodas.

Diduga arca itu memang ada hubungannya dengan kerajaan tertua di Indonesia. Menurut data dari beberapa komunitas yang pernah me­neliti, terdapat lebih dari 20 arca yang tersebar di area gunung tersebut. Namun, arca itu sebagian sudah rusak, sebagian hilang dan seba­gian dibawa ke Museum Pa­sir Angin.

Tak cuma kaya sejarah, men­urut Darmawan, area Karst tersebut menyimpan po­tensi alam yang berdampak pada kehidupan warga. “Gu­nung ini kurang lebih dikeli­lingi 22 gua yang memiliki sumber air bawah tanah. Beberapa sudah dinamai tapi ada juga yang belum. Mungkin dulunya jadi tempat persemedian raja-raja, tapi sekarang gua-gua ini betul-betul jadi warisan yang per­lu dijaga dan dirawat,” beber Darmawan.

Sementara berdasarkan hasil penelitian mahasiswi Institut Teknologi Bandung (ITB), Citra Nurwani, dengan judul Penelitian Geologi Dae­rah Ciampea disebutkan bahwa Gunung Kapur Ciam­pea secara keilmuannya ter­bentuk dari proses sedimen­tasi laut dangkal.

Tak heran jika di kawasan Gunung Kapur dirinya juga banyak menemukan fosil biota laut, seperti kerang-kerangan. “Ya memang Gu­nung Kapur itu merupakan dasar laut. Proses ini terben­tuknya bisa 23 juta tahun lalu,” sebut Citra.

Sedangkan soal keberadaan 22 gua yang mengelilingi Gu­nung Kapur, Citra menjelas­kan bahwa hal itu terjadi karena adanya proses pelaru­tan batu gampir akibat ter­kena hujan. Kondisi ini ter­jadi dalam jangka waktu berkepanjangan.

“Dalam istilah geologi itu dinamakan karstifikasi. Ibarat es batu, kalau disiram air terus akan bolong. Cuma bedanya dalam batu kapur butuh wak­tu jutaan tahun sehingga ba­nyak gua-gua di sana,” urainya.

travel.detik.com/bogordaily.net