Goa Jepang di Perkebunan Teh Kaligua Brebes

BREBES – Perkebunan Teh Kaligua, memiliki historis panjang bagi masyarakat di wilayah selatan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Dari masa penjajahan kolonial Belanda, hingga masa penjajahan Jepang.

Dalam catatan sejarah, Perkebunan Teh Kaligua yang berlokasi di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes itu, ada sejak 1889.

Kemudian perkebunan teh tersebut, diambil paksa oleh kolonial Jepang pada 1942. Sejarawan Wijanarto mengatakan keberadaan perkebunan teh di Brebes menjadi hal yang menarik.

Lantaran, Brebes yang dikenal sebagai wilayah perkebunan tebu, ternyata juga memiliki perkebunan teh. Ia mengatakan, kehidupan masyarakat di Perkebunan Teh Kaligua menjadi rebutan pada saat agresi militer pertama sebelum kependudukan Jepang.

Area perkebunan itu oleh Jepang, kemudian didirikan sebagai pabrik senjata. “Di situ ada lokasi yang dikenal dengan nama Goa Jepang.

Itu peninggalan semasa Jepang. Itu juga akan menjadi bukti bahwa ada proses pengambil alihan ketika Jepang masuk ke Indonesia,” kata Wijanarto.

Wijanarto menjelaskan, Goa Jepang di Perkebunan Teh Kaligua adalah pabrik senjata yang lokasinya di area pegunungan. Jepang memanfaatkan are perkebunan tersebut untuk kamuflase.

Hal itu terbukti dengan rasionalisasi yang dilakukan Jepang terhadap pabrik-pabrik manufaktur di Jawa untuk kepentingan mereka.

Wijanarto mencontohkan, rela-rel di pabrik gula yang tidak berfungsi akan dicabut untuk dilebur. Kemudian itu digunakan untuk membuat amunisi mereka.

“Di situ juga untuk persembunyian. Untuk kegiatan tahanan dan eksekusi bagi mereka yang melakukan pembangkangan,” ujarnya.

Wijanarto menilai, bangunan Goa Jepang di Perkebunan Teh Kaligua itu luar biasa. Menurutnya, keberadaan Goa Jepang di Perkebunan Teh Kaligua itu sangat penting bagi sejarah.

Ia mengatakan, diperlukan upaya dari pengelola untuk menghidupkan Goa Jepang sebagai wisata historis. Untuk saat ini sudah ada diorama dan patung.

Wijanarto mengatakan, kekurangananya adalah belum adanya pemandu wisata yang berkompeten. Ia menilai, pemandu wisata yang disediakan mestinya yang memang berkompeten di bidang sejarah.

“Menjadi menarik sekali karena ada rekonstruksi diorama. Tapi sayangnya di situ tidak ada guide-nya,” ungkapnya.

tribunnews.com