Festival dan Selebrasi 100 Tahun Gong Kebyar

Festival dan Selebrasi 100 Tahun  Gong Kebyar

Bali sebagai jendela pariwisata Indonesia terus mempercantik diri agar daya tariknya semakin kuat khususnya pada budaya, alam, dan pelayanan dalam upaya meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia,  yang sebagian besar melalui Bandara Ngurah Rai Bali.

Dalam kunjungan kerja selama dua hari ke Bali, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya melakukan dialog dengan para tokoh pariwisata dan para pengurus Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Bali dan pengurus Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (BPPI) Bali. Pada kunjungan itu Menpar juga membuka Festival dan Selebrasi 100 Tahun  Gong Kebyar di kawasan Puri Saren Ubud.

Siaran pers Puskompublik Kementerian Pariwisata menyebutkan, Festival dan Selebrasi 100 Tahun  Gong Kebyar ini merupakan agenda budaya yang merefleksikan gaya kebyar yang berkembang 100 tahun lalu di Ubud Bali. Pada festival itu disuguhkan karya-karya monumental gebyar (seperti Kebyar Legong, Palawakya, Kebyar Pengeleb, dan Kebyar Ding Sempati) oleh para seniman tua yang piawai. Para seniman tua ini sebelum pentas memaparkan proses karya dan pengalaman mereka.

Pada kunjungan itu Menpar meninjau sejumlah fasilitas wisata budaya seperti Museum Puri Lukisan dan Museum Marketing 3.30 yang pada kesempatan itu sekaligus meresmikan MarkPlus Center for Tourism and Hospitality.

Arief mengatakan, Bali sudah lama dikenal wisatawan dunia sebagai the best destinations karena mempunyai keunggulan tiga hal yakni budaya (culture), alam alam (nature), dan pelayanan (hospitality).

“Keunggulan budaya (culture) kita akan kembangkan dalam produk wisata antara lain wisata heritage dan religi, wisata kuliner dan belanja, dan wisata kota dan desa,” katanya seraya menyebutkan pengembangan produk wisata yang mengandalkan kekuatan budaya memiliki porsi sekitar 60 persen.

“Ubud sudah lama dikenal oleh wisman dengan wisata pedesaan dan masyarakatnya kreatif  mengembangkan kesenian baik seni kriya atau lukisan, serta seni tari dan pertunjukan,” katanya.

Arief menjelaskan keunggulan alam akan dikembangkan dengan produk wisata bahari, wisata ekologi, dan wisata petualangan. Porsi pengembangan alam sebesar 35 persen, sedangkan buatan manusia dikembangkan sebagai wisata MICE, wisata olahraga, dan wisata kawasan terpadu porsinya sebesar 5 persen.

Ada lima besar produk wisata sebagai kontributor kunjungan wisman ke Indonesia, sebagaimana hasil dari survei PES (passenger exit survey) 2013 oleh Pusdatin Kemenpar yakni wisman yang melakukan wisata belanja dan kuliner (80 persen), wisata religi dan heritage (80 persen), wisata bahari (35 persen), wisata MICE (25 persen), dan wisata olahraga (5 persen).

Menurut Arief, tekad untuk mencapai target kunjungan 20 juta wisman pada 2019 perlu upaya perbaikan dan peningkatan sarana infrastruktur pariwisata, infrastrutur ICT, aksesibilitas (conectivity, seat capacity dan direct flight) serta regulasi di antaranya penyederhanaan perizinan serta kemudahan pelayanan visa.

“Dalam  rakor dengan Menko Kemaritiman belum lama ini telah disepakati untuk memberikan bebas visa kepada wisman dari pasar utama yakni Australia, Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, dan Rusia. Juga kemudahan perizinan bagi masuknya wisman kapal yacht  yang dapat meningkatkan peluang kerja  bagi  masyarakat Indonesia,” kata Arief.

Lembaga MarkPlus Center for Tourism and Hospitality yang diresmikan oleh Menpar merupakan lembaga pengembangan bisnis industri pariwisata dan hospitality  yang fokus pada peningkatan kapabilitas SDM melalui pembelajaran, pendalaman industri melalui penelitian yang komprehensif serta menyediakan solusi permasalahan bisnis melalui konsultasi.

Sumber : kompas.com