“Festival Arakan Pengantin” Meriahkan Hari Jadi Ke-245 Kota Pontianak

“Festival Arakan Pengantin” Meriahkan Hari Jadi Ke-245 Kota Pontianak

PONTIANAK – Dalam rangka memeriahkan kegiatan hari jadi (harjad) ke-245 Kota Pontianak pada 23 Oktober 2016, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Pontianak akan menggelar Festival Arakan Pengantin pada Minggu (9/10/2016).

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Pontianak Hilfira Hamid mengatakan, saat ini berbagai persiapan sudah mulai dilakukan pihaknya untuk menyukseskan kegiatan itu.

Untuk rute festival sendiri akan dimulai dari Museum Negeri menuju Masjid Raya Mujahidin. “Festival ini akan diikuti oleh peserta dari enam kecamatan yang ada di Pontianak,” ujar Hilfira, Rabu (5/10/2016).

Selain dari enam kecamatan itu, juga dimeriahkan peserta perwakilan dari BUMD dan Sanggar Serumpun dengan total jumlah delapan kelompok peserta arakan pengantin.

“Pada saat yang bersamaan juga ada 18 pasangan calon pengantin yang berasal dari enam kecamatan akan mengikuti nikah massal. Jadi, nanti peserta festival akan mulai berarak mulai dari halaman Museum Negeri melalui Jalan Ahmad Yani menuju Masjid Raya Mujahidin,” ujar Hilfira.

Pihak penyelenggara, menurut Hilfira, sudah berupaya mengundang sejumlah daerah serumpun maupun provinsi lainnya untuk turut mengirimkan peserta dalam kegiatan arakan pengantin ini. “Namun, mereka tidak bisa mengikuti kegiatan ini lantaran keterbatasan anggaran dari pemerintah daerah masing-masing,” ujarnya.

Meski tak diikuti peserta dari luar Pontianak, negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam sudah memberikan konfirmasi untuk hadir sebagai tamu undangan.

Festival Arakan Pengantin merupakan upaya pelestarian adat istiadat yang menjadi tradisi dalam pernikahan, khususnya pengantin Melayu Pontianak. Sejatinya, arak-arakan pengantin itu adalah mengantar mempelai pria menuju ke rumah mempelai perempuan.

“Karena ini bentuknya festival, sehingga kita ikut sertakan mempelai perempuannya dalam arakan pengantin supaya lebih menarik,” ujarnya.

Dalam arak-arakan ini juga menyertakan kedua mempelai pengantin, orang tua dari kedua belah mempelai, pengiring-pengiringnya dilengkapi dengan barang-barang antaran serta diiringi alunan musik tradisional berupa tahar maupun tanjidor.

Pengantin laki-laki mengenakan pakaian Telok Belanga, sedangkan perempuan mengenakan baju Kurung. Pengiring-pengiring yang mengantar calon pengantin membawa berbagai perlengkapan dalam prosesi pernikahan adat melayu. Barang-barang antaran isinya antara lain, jebah berisi sirih, pinang, kapur, tembakau, gambir dan bunga rampai.

Selain itu, juga ada uang asap, perhiasan emas, pakaian, alat-alat dan bahan kecantikan, seperangkat perlengkapan tidur seperti selimut, seprei dan lainnya, seperangkat alat dan perlengkapan mandi, barang-barang kelontong serta seperangkat alat shalat.

Tak ketinggalan, dari berbagai barang hantaran tadi, juga dihiasi dengan pokok telok, yaitu menyerupai pohon kecil dengan tangkai-tangkai yang masing-masing terdapat telur dan hiasan berwarna-warni.

Selain pokok telok, pokok manggar, yang tangkainya terbuat dari lidi dilapisi kertas warna-warni dan ditancapkan pada bagian batang pisang atau buah nanas yang sudah ditusuk tongkat kayu untuk ditancapkan di halaman rumah mempelai wanita.

“Semua barang dan perlengkapan barang antaran ini dikemas semenarik mungkin,” kata Hilfira.

Festival yang digelar rutin setiap tahun dalam memperingati Harjad Kota Pontianak ini diharapkan bisa menjadi daya tarik wisata dan mampu memikat minat wisatawan untuk melihat langsung bagaimana adat istiadat prosesi pernikahan dalam budaya Melayu Pontianak.

“Kita juga telah melakukan promosi dalam berbagai bentuk, baik itu media massa, website, bahkan kita juga tempatkan banner yang memberikan informasi terkait festival Arakan Pengantin ini,” pungkasnya.

travel.kompas.com