Cerita Pembantaian Belanda di Balik Tari Gandrung Banyuwangi

Cerita Pembantaian Belanda di Balik Tari Gandrung Banyuwangi

Setiap kali perayaan HUT Kabupaten Banyuwangi selalu digelar Tari Gandrung Sewu. Dalam setiap kali pementasannya, tarian khas Kabupaten, Banyuwangi, Jawa Timur, ini dimainkan oleh ribuan para penari, baik laki maupun perempuan. Makanya disebut Tari Gandrung Sewu.

Festival Tari Gandrung Sewu yang digelar di Pantai Boom, Banyuwangi, adalah yang kali ketiga, terhitung sejak Tahun 2012 hingga 2014 ini. Sejak Abdullah Azwar Anas memimpin kabupaten berjuluk The Sunrise of Java itu, tarian rakyat tersebut kerap menghiasi rangkaian acara HUT Kabupaten Banyuwangi.

Menurut cerita masyarakat Banyuwangi, kata Gandrung bermakna terpesonanya masyarakat agraris di Bumi Blambangan, sebutan lain Banyuwangi, kala itu kepada Dewi Sri, Sang Dewi Kesuburan atau Dewi Padi, yang kerap membawa kesejahteraan.

Kemudian, Tari Gandrung dimainkan sebagai wujud rasa syukur sehabis panen raya di Tanah Osing. Seni Tari Gandrung disajikan dengan iringan musik khas perpaduan budaya antara Jawa dan Bali.

Saking populernya seni tari yang didominasi orkestra khas daerah paling timur Pulau Jawa ini, Banyuwangi diidentikkan dengan Gandrung. Banyuwangi juga dijuluki Kota Gandrung, selain julukan-julukan lainnya, seperti Bumi Blambangan, Tanah Osing, dan The Sunrise of Java.

Jika ditengok dari sisi sejarah, seperti yang dikisahkan masyarakat sekitar, salah satunya Warto. Kata, lelaki berusia 62 tahun ini, kesenian Gandrung muncul bersamaan dengan dibabadnya Alas (hutan) Tirtagondo atau Tirta Arum, untuk membangun Ibu Kota Blambangan pengganti Pangpang (Ulu Pangpang).

Dari catatan sejarah, ide pembangunan ibu kota yang baru itu, berasal dari Temenggung Wiroguno I atau Mas Alit yang kemudian dilantik sebagai bupati pada tanggal 2 Februari 1774 di Ulupangpang.

“Aslinya (awal mula), tari Gandrung dimainkan kaum lelaki yang membawa peralatan musik perkusi berupa kendang dan beberapa rebana. Mereka setiap hari berkeliling mendatangi tempat-tempat yang dihuni oleh sisa-sisa rakyat Blambangan sebelah timur, waktu itu,” kata Warto dengan logat Jawa-nya, di sekitar Pantai Boom, tempat digelarnya Festival Tari Gandrung Sewu.

Dikisahkan, konon, sekitar Tahun 1767, ketika pasukan Kompeni atau Belanda yang di-back up prajurit Mataram dan Madura, menyerang dan meluluhlantahkan Blambangan yang dipimpin Mangwi.

Sumber : merdeka.com