5 Bangunan Bersejarah di Surabaya Simpan Jejak Hari Pahlawan

Foto: sunojoyo.com

Surabaya memiliki berderet jejak pertempuran Surabaya yang kemudian ditandai sebagai Hari Pahlawan. Berikut gedung-gedung bersejarah itu.

Belanda belum mau pergi begitu saja setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration) membonceng tentara Inggris (sekutu) masuk Indonesia.

Rupanya, niat mereka bukan hanya untuk melucuti tentara Jepang yang menyerah pada Amerika Serikat setelah peristiwa bom atom Hiroshima dan Nagasaki. NICA dan Inggris juga ingin melanggengkan kekuasaan Belanda di Nusantara.

Rakyat Indonesia tidak tinggal diam. Mereka melawan dengan segala cara, sehormat-hormatnya. Dengan peralatan apa saja, termasuk bambu runcing.

Salah satu perlawanan paling monumental terjadi di Surabaya pada 10 November 1945 yang disebut sebagai pertempuran Surabaya. Kini, momen itu diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Momen itu masih meninggalkan jejak berupa bangunan fisik di Kota Pahlawan.

Berikut deretan bangunan bersejarah yang terkait pertempuran Surabaya waktu itu:

1. Hotel Majapahit

Dulu, Hotel Majapahit bernama Hotel Yamato. Di sinilah momentum perobekan bagian biru bendera Belanda menjadi bendera Indonesia dalam pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.

Hotel Majapahit berada di Jalan Tunjungan Nomor 65, Surabaya. Biasanya, hotel ini mengadakan teatrikal perobekan bendera Belanda di Hari Pahlawan.

Pembangunan Hotel Majapahit ini diprakasai LM. Sarkeis, pengusaha berkebangsaan Armenia dan diresmikan pada tahun 1912 dengan nama hotel Oranje.

Barulah pada masa pendudukan Jepang, namanya diganti dengan Hotel Yamato. Kini, hotel itu masuk daftar cagar budaya.

2. Gedung Internatio

Gedung Internatio merupakan tempat tewasnya pimpinan tentara Inggris, Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby. Banyak orang yang mengira bahwa Mallaby tewas di Jembatan Merah, tapi sebenarnya peristiwa ini terjadi di sekitar area Gedung Internatio.

Gedung Internatio, yang dibangun pada 1920 tersebut, pada waktu itu menjadi markas tentara sekutu. Sementara itu, pembunuh Mallaby masih misteri sampai saat ini.

Kematian Mallaby itulah yang memicu pertempuran Surabaya pada 10 November 1945 itu.

Di dekat Gedung Internatio terdapat Gedung Cerutu dan Gedung Polwiltabes Surabaya. Gedung Cerutu merupakan kantor perusahaan tebu.

Adapun Gedung Polwiltabes Surabaya unik karena sejak awal di masa penjajahan Belanda dibangun untuk kantor polisi, begitu pula setelah pendudukan Jepang. Di bawah gedung itu terdapat penjara bawah tanah yang disebut-sebut menghubungkan gedung itu dengan penjara Kalisosok.

3. Jembatan Merah

Jembatan Merah melintas di atas Kali Mas. Jembatan itu menghubungkan Surabaya sebelah timur dan sebelah barat. Sebelah timur merupakan area pedagang dan pelaut asing yang kini merupakan kawasan pecinan dan kawasan komunitas Arab. Sementara itu, di sebelah barat dulu merupakan kawasan pemerintahan kolonial Belanda.

Dari sejumlah informasi, jembatan itu dibangun atas kepentingan militer. Saat pertempuran melawan tentara Belanda dan Sekutu, para arek-arek Suroboyo bertahan di kawasan Jembatan Merah.

4. Tugu Pahlawan

Tugu Pahlawan sengaja dibangun untuk memperingati momen pertempuran Surabaya yang kemudian dijadikan Hari Pahlawan. Lokasinya ada di tengah Taman Kebonrojo, di seberang kantor Gubernur Jawa Timur.

Di kawasan ini terdapat patung Soekarno dan Hatta lengkap dengan semboyan dari mereka, di antaranya Merdeka atau Mati. Tugu Pahlawan diresmikan oleh Presiden Sukarno pada 10 Nopember 1952.

5. Museum 10 Nopember

Di dekat Tugu Pahlawan ada piramida dari kaca dan di bawahnya ada Museum 10 Nopember. Museum ini menyimpan patung peraga dan ukiran yang menggambarkan peristiwa 10 November 1945.

Selain itu, Museum 10 Nopember juga menyimpan rekaman pidato Bung Tomo dan rekaman suara Bung Tomo saat menolak ultimatum tentara sekutu yang mengharuskan rakyat Surabaya menyerah.

travel.detik.com