Toleransi Muslim & Tionghoa di Makam Sunan Gunung Jati

Toleransi Muslim & Tionghoa di Makam Sunan Gunung Jati

Indonesia itu aslinya damai, bukan negeri yang bertabur fitnah. Mau bukti? Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon adalah tempat turis Muslim dan Tionghoa berbagi objek wisata yang sama. Hio dan doa tahlil hanya berbeda ruang.

Cirebon adalah salah satu kota wali. Kota ini adalah tempat salah satu Wali Songo yaitu Sunan Gunung Jati menyebarkan dakwah Islam. Makam Sunan Gunun Jati di utara Kota Cirebon adalah objek wisata religi yang tidak pernah sepi peziarah. makam ini merupakan kompleks yang cukup luas. Konturnya adalah sebuah bukit. Makam Sunan Gunung Jati ada di bagian puncak dan selebihnya ratusan makam keluarga Kesultanan Cirebon.

Sunan Gunung Jati memang salah satu pendiri Kesultanan Cirebon. Sejak pagi buta, sudah ada 3 rombongan besar peziarah, dari Madura, Surabaya dan Semarang. Para turis tidak bisa melihat langsung makam Sunan Gunung Jati.

Mereka hanya diantar pemandu sampai Pintu Pasujudan yang sebenarnya ada di kaki bukit. Ada teras yang cukup luas untuk berdoa bersama. Makam Sunan Gunung Jati masih cukup jauh dari situ.

“Pintunya hanya dibuka Jumat usai Salat Subuh dan usai Salat Jumat. Tidak lama dan itupun peziarah tidak bisa masuk ke dalam. Hanya melihat di dalam ada apa,” ujar Amak, seorang petugas jaga di makam.

Nah, di samping teras di depan Pintu Pasujudan, jika turis berjalan terus, akan berjumpa dengan pintu gerbang lain dengan dekorasi ala kelenteng. Ada banyak tempat dupa dan bahkan tempat bakaran dupa yang besar. Jika Pintu Pasujudan berornamen bulan sabit, maka di pintu sebelahnya berornamen atap bangunan China.

“Itu pintu ke makam putri China, istri Sunan Gunung Jati,” jelas Amak.

Rupanya, istri Sunan Gunung Jati adalah putri Ong Tien Nio, putri Kaisar China. Sunan Gunung Jati sempat berdakwah di Tiongkok sebelum pulang ke tanah kelahirannya di Cirebon. Putri Ong Tien ikut ke Cirebon dengan membawa aneka keramik China berkapal-kapal.

“Itu sebabnya makam Sunan Gunung Jati dan juga keraton banyak dihias dengan keramik China. Itu maharnya putri buat kanjeng sunan,” jelasnya.

Amak menjelaskan banyak warga Tionghoa juga berziarah ke makam Sunan Gunung Jati. Namun biasanya mereka bersembahyang di depan pintu gerbang makam Putri Ong Tien. Pagi itu, saya hanya melihat dua warga Tionghoa yang berziarah, jumlahnya kalah jauh dengan peziarah muslim yang datang dalam rombongan besar.

“Umat Muslim dan yang Tionghoa sama-sama berkunjung ke sini, kami sudah biasa dikunjungi orang Tionghoa juga. Banyak juga Tionghoa Muslim datang ke sini,” kata dia.

Tidak ada saling senggol dan saling curiga. Umat Muslim dan Tionghoa datang dengan niat yang sama yaitu berwisata religi, mengenang sejarah nan harmonis antara mereka yang pernah ada di Cirebon. Seorang wali penyebar agama Islam, beristrikan seorang putri dari Negeri Tiongkok.

Sumber : detik.com