3 Kunci Agar Pariwisata Bali Bertahan dan Berkelanjutan

3 Kunci Agar Pariwisata Bali Bertahan dan Berkelanjutan

Bali merupakan salah satu destinasi wisata yang tersohor bagi banyak wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara.

Bali juga bisa dibilang salah satu tulang punggung pariwisata di Indonesia. Oleh karena itu, pariwisata Bali diharapkan terus berkelanjutan.

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati mengatakan, pariwisata Bali yang berkelanjutan perlu bersinergi antara alam, budaya, dan manusia atau masyarakat Bali.

“Apa yang menjadi daya tarik pariwisata Bali adalah alam, manusia, dan budaya Bali,” kata pria yang akrab disapa Cok Ace.

Hal ini disampaikan dalam acara webinar Road Map to Bali’s Next Normal Webinar Session #7 yang diselenggarakan Bali Tourism Board dan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali, Jumat (10/7/2020).

Ia mencontohkan, dalam pengembangan pariwisata Bali, selain masyarakat Bali, budaya setempat juga perlu diikutsertakan.

Oleh karena itu, pariwisata Bali, khususnya budaya, harus didefinisikan sebagai pariwisata yang berbasis kemasyarakatan.

“Jadi, ketika pariwisata budaya itu menjadi beban bagi masyarakat pendukungnya, maka pariwisata budaya itu sendiri akan ditinggalkan oleh para pendukungnya,” jelasnya.

Konsep serupa juga pada pariwisata alam di Bali.

Menurut dia, jika Bali hanya memanfaatkan terus-menerus alamnya untuk kegiatan pariwisata, tetapi tidak memperhatikan keseimbangan, maka alam Bali akhirnya tidak menarik lagi.

Keindahan filosofi Bali

Lebih jauh, Cok Ace mengatakan, pengembangan pariwisata Bali harus melihat keindahan filosofi Bali.

Selama ini, kata dia, pariwisata Bali belum menurunkan keindahan filosofi dari beragam acara berkaitan dengan upacara-upacara budaya yang dilaksanakan dan menjadi daya tarik wisata.

“Kita selalu melihat dari segi keindahan fungsi dan bentuknya saja, sedangkan keindahan filosofi jarang kita lihat,” kata Cok Ace.

“Keindahan fungsi misalnya ada kawasan permukiman, pariwisata, hutan lindung. Lalu keindahan bentuk, misalnya sawah-sawah dengan terasering, laut dengan pantainya, gunung, dan lain sebagainya,” terangnya.

Cok Ace menjelaskan konsep dari keindahan filosofi pariwisata Bali. Menurut dia, keindahan filosofi Bali menekankan konsep Dewata Nawa Sanga yang berangkat dari ajaran agama Hindu.

Dewata Nawa Sanga, kata dia, adalah sembilan dewa yang berada pada sembilan mata angin yang memberikan kekuatan serta corak pada alam di sekitarnya.

“Sembilan dewa ini adalah Dewa Wisnu, Sambhu, Iswara, Mahesora, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sankara, dan Siwa,” ujarnya.

Pembagian dewa-dewa ini, lanjutnya, juga ada dalam filosofi Rumah Bali yang mana memiliki fungsi berbeda di setiap bangunannya.

“Misalnya di utara, ada Dewa Wisnu itu ada Bale Daja atau Meten, artinya privat atau tempat barang berharga. Lalu di timur laut, ada Pemraja atau sembahyang dengan dewanya Sambhu, dan lainnya,” pungkasnya.

travel.kompas.com