SIAK MENUJU KOTA WARISAN BUDAYA DUNIA Jelang Rakernas JKPI dan Festival Pusaka Nusantara

SIAK – Jaringan Kota Pusaka Indonesia disingkat JKPI merupakan sebuah jaringan antarkota di Indonesia. Saat ini, Jaringan Kota Pusaka Indonesia beranggotakan 70 Kabupaten/Kota di Indonesia. Jaringan ini didirikan dengan tujuan menjaga kelestarian benda cagar budaya (BCB) peninggalan sejarah di Indonesia. Setelah tahun lalu, Karangasem, Bali sebagai tuan rumah, maka pada April 2020, Rapat Kerja Nasional (Rakernas) VIII JKPI dan Festival Pusaka Nusantara 2020, Festival Budaya Internasional akan dihelat di Kota Siak.

Seluruh kegiatan akan dipusatkan di Gedung Daerah Sultan Syarif Kasim II dan sejumlah tempat seperti Tangsi Belanda, Lapangan Siak Bermadah dan Sungai Siak. Bupati Siak Drs H Alfedri MSi, yang juga sabagai Ketua Presedium JKPI 2020, mengatakan persiapan untuk suksesnya seluruh iven terus dilakukan dan digesa.

“Kami ingin, Siak menjadi tuan rumah yang baik dan sukses menggelar iven ini,” jelasnya. Arah iven ini pada akhirnya nanti diharapkan Siak menjadi Kota Warisan Budaya Dunia, dengan sejumlah benda cagar budaya yang dijaga dan dirawat keberadaannya. Selain itu menjaga Kota Siak tetap aman, damai, layak untuk orang tua, anak dan orang orang yang berkebutuhan khusus atau pe nyandang disabilitas.

Hal ini penting, karena Siak telah menjadi Kota Wisata yang menjadi salah satu pilihan wisatawan untuk berkunjung. Baik hanya sekedar kunjungan untuk melihat benda cagar budaya maupun sebagai edukasi bagi para pelajar. Sebagaimana dijelaskan Bupati Siak beberapa waktu lalu di Jakarta, Rakernas VIII JKPI dan Festival Pusaka Nusantara 2020, akan digelar selama empat hari dimulai pada Jumat-Senin (3-6/4) mendatang.Adapun rangkaian kegiatan dan acara dijelaskan Ketua Presidium ini adalah, penjemputan peserta di Bandara Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru pada Jumat (3/4) pagi. Selanjutnya berangkat menuju Kota Siak melintasi Maredan dengan jarak sekitar 108 kilometer. Dari bandara, peserta nantinya dibawa ke Gedung Lembaga Adat Melayu Siak. Di sana akan dilakukan penyambutan dengan kompang, silat, makan sirih serta dijamu dengan minuman selamat datang dejanggo, dan pemakaian tanjak. Tidak hanya sampai di situ, penyambutan dilanjutkan dengan tepuk tepung tawar, sebelum akhirnya pada petang hari para tamu dihantarkan ke Hotel Grand Mempura untuk beristirahat.

“Sebelum acara pembukaan yang akan digelar di Lapangan Siak Bermadah, sekitar pukul 19.30 WIB, digelar makan malam di Tangsi Belanda,” jelas Alfedri. Makan malam disiapkan dengan menu warisan budaya yang benar benar bagian dari sejarah perjalanan Siak. Ikan ikan khas Sungai Siak, bumbu bumbu dari alam negeri Siak, demikian juga dengan nasi dari beras yang ditanam di sejumlah kecamatan penghasil gabah.

Setelah makan malam di Menpura, menyeberang dari Tangsi Belanda ke tepian Sungai Jangan atau Sungai Siak dengan menggunakan speedboat untuk mengikuti malam pembukaan di Lapangan Siak Bermadah. “Kami melakukan ini, agar peserta dan tamu undangan benar benar merasa berada di dimensi berbeda,” ungkapnya.

Siak Bermadah merupakan yang berada di tepian Sungai Jantan dengan panggung yang megah. Di sanalah penampilan seni dan budaya sebagai pembuka iven yang akan digelar pada Sabtu (4/4) di Gedung Daerah Sultan Syarif Kasim II. Sejumlah kegiatan mulai dari Rakernas VIII, sampai pameran manuskrip kuno serta bazar dipusatkan di Gedung Daerah. Sementara seminar pengenalan budaya untuk para pelajar SMP, SMA dan mahasiswa digelar di Gedung Kesenian, dengan pembicara sejumlah kepala daerah anggota JKPI. Untuk pawai budaya Kota Pusaka Nusantara di hari yang sama yaitu, Sabtu (4/4) sekitar pukul WIB, dimulai. Ada pun rute pawai budaya dimulai dari depan Istana Asyerayah Alhasyimiyah melintasi jalan dekat Siak Bermadah dan berakhir di depan Klenteng Hock Siu Kiong.

Di hari yang sama ditaja juga sejumlah kegiatan untuk para perempuan dan ibu, berupa seminar, materinya tentunya tentang menjaga budaya. Usai pawai budaya, petang harinya ada Festival Sungai Siak. Nantinya sejumlah perahu yang sudah dihias disiapkan untuk menelusuri Sungai Jantan. Tak berhenti sampai di situ, malamnya di Gedung Daerah digelar pagelaran budaya Festival Kota Pusaka Indonesia. “Seluruh anggota JKPI akan menampilkan seni dan budayanya masing masing. Dan kegiatan itu tentunya akan menjadi inspirasi bagi siapa saja yang menyaksikan,” ungkap Bupati.

Keesokan harinya pada Ahad (5/4) pagi, sambil berolahraga dilakukan penanaman pohon. Pemkab Siak melakukan penanaman pohon secara rutin pekan kedua setiap bulannya. Acara dilanjutkan dengan seminar internasional dengan tema Masa Depan Kota Pusaka, Tantangan dan Harapan. Adapun pembicaranya Director General ICHCAP, Wali Kota Hedeilburg, UNESCO, Kementerian PU Tarukim, Kemendikbud dan lainnya. Malamnya dilanjutkan dengan pagelaran budaya Festival Kota Pusaka sekaligus penutupan pagelaran. Keesokan harinya pada Senin (6/4) ada tur kota, melihat destinasi cagar budaya sebagai warisan untuk generasi berikutnya.Dan tengah hari kepulangan peserta ke daerah masing masing.

m.riaupos.co/Image haluanriau.co