Wujudkan Singaraja Kota Pusaka Perlu Kajian Tim Ahli Cagar Budaya

Singaraja – Kabupaten Buleleng menyimpan segudang kekayaan pusaka warisan kerajaan dan pemerintah kolonial Belanda yang mendukung diwujudkannya Singaraja sebagai Kota Pusaka. Sebagai Ibukota Sunda Kecil di masa lalu, Singaraja memiliki warisan tangible (benda berupa struktur bangunan colonial dan pelabuhan), warisan intangible (tradisi, tarian, adat, budaya dan kuliner) serta kekayaan berupa pemandangan alam bukit dan pantai yang tersebar di seluruh wilayah Buleleng.

Hal itu menjadi fokus diskusi para wartawan di Buleleng yang terwadahi dalam Komunitas Jurnalis Buleleng (KJB) di penghujung tahun 2019, dilaksanakan di Gedung Mr. I Gusti Ketut Pudja Eks Pelabuhan, Jumat (20/12/2019).

Akademisi, Dr I Made Pageh dalam pemaparannya mengungkapkan, berbicara pusaka tentu erat kaitannya dengan warisan sehingga Kota Pusaka harus diklasifikasi. Bila bicara soal sejarah nama Buleleng dan Kota Singaraja, menurut Pageh tidak lepas dari warisan Kerajaan Buleleng, yakni berkaitan dengan Raja I Gusti Anglurah Panji Sakti dan keberadaan Desa Panji di Kecamatan Sukasada.

Buleleng juga memiliki warisan kerajaan seperti Bali Aga yang ada di wilayah SCTPB, Sembiran, Catur Desa Tamblingan. Hingga Buleleng dipecah belah oleh Belanda, sehingga munculah Puri Kauhan dan Puri Kanginan serta keberadaan Pelabuhan Buleleng yang merupakan salah satu pelabuhan terbesar di Indonesia pada jamannya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, I Wayan Sudiarba mengungkapkan dengan modal sejumlah warisan budaya dari Kolonial Belanda berupa bangunan sepanjang Kota Singaraja, Buleleng juga sudah tergabung dalam Jaringan Kota Pusaka Indonseia (JKPI) sejak tahun 2011. Sebagai tindak lanjut, pemerintah kabupaten diharapkan segera membentuk Tim Ahli Cagar Budaya untuk merumuskan secara teknis pewujudan Singaraja sebagai Kota Pusaka.

“Cagar budaya yang kita miliki di Buleleng ini kan banyak sekali yang utamanya benda. Sementara untuk menetapkan itu sangat terbatas, kita tidak punya tim, sehingga belum bisa kita tetapkan. Kalau itu sudah bisa ditetapkan sebagai kekayaan nasional, cagar budaya, itu wajib hukumnya dilindungi sebagai kekayaan daerah dan kekayaan nasional. Saat ini kewenangan kita hanya menginvetarisasi dan menverifikasi, belum menetapkan,” ungkapnya.

Setelah dibentuk, Tim Ahli Cagar Budaya bisa mengkaji secara detail apa saja dampak ekonomi dan wisata terhadap pembentukan Singaraja sebagai Kota Pusaka. Terlebih, Buleleng memiliki jejak sejarah dari Raden Soekemi, ayahanda dari Presiden pertama RI, Bung Karno. Modal ini digadang-gadang menjadi kekuatan untuk mewujudkan Kota Singaraja sebagai Kota Pusaka Kebangsaan.

Nanang Asparinal, Direktur Eksekutif Jaringan Kota Pusaka Indonesia mengatakan, melihat dari beberapa peninggalan sejarah di daerah ini dirasa sangat tepat untuk mendukung terwujudnya Singaraja sebagai Kota Pusaka. Untuk mewujudkan hal itu, menurut Nanang sangat bergantung pada komitmen kepala daerah serta legalisasi sesuai UU Cagar Budaya.

“Kalau kepala daerah sudah punya komitmen langkah kdepan sudah enak. Bagaimanapun juga harus ada legalisasinya sesuai UU Cagar Budaya. Nah, dalam rangka itu Kabupaten Buleleng harus memiliki Tim Ahli Cagar Budaya yang disertifikasi oleh kementerian, nah tadi nampaknya pak bupati akan mengambil langkah-langkah strategis untuk itu. Kedua adalah produk-produk hukum bagaimana menetapkan kawasan terus batasannya seperti apa, zona zona pusakanya sepeti apa. Kalau bisa nanti konteks dengan RTRW dan RDTR Kabupaten Buleleng sehingga lebih mudah diajukan ke pusat,” jelasnya.

Sementera itu Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana menyatakan, Singaraja Kota Pusaka lebih tepat mengarah pada warisan kolonial dan untuk mewujudkannya masih diperlukan proses panjang.

“Kita mau susun bersama dulu, sebab ini kan masih rancu. Tapi kalau Kota Singaraja harus kolonial karena memang tidak bisa dicampuradukan,” tegasnya.

Dalam Diskusi Akhir Tahun KJB Buleleng juga diserahkan penghargaan KJB Award kepada Ketua Umum KONI Buleleng, Nyoman Artha Widnyana dan mantan Bupati Buleleng Drs Ketut Wiratha Sindhu yang diterima langsung istri almarhum, Nyonya Mas Wiratha Sindhu.

rri.co.id