Mengenal Sejarah Kota Tua Jakarta

Mengenal Sejarah Kota Tua Jakarta

Ibukota Jakarta banyak menyimpan nilai sejarah dan budaya. Salah satu lokasi yang menyimpan nilai itu adalah kawasan wisata Kota Tua di Pinangsia, Tamansari, Jakarta Barat.

Seperti halnya kawasan kota lama  di beberapa kota di Indonesia, Kota Tua Jakarta kini juga dijadikan  tempat wisata sejarah. Tempat wisata sejarah ini  menyimpan berbagai informasi berharga terkait sejarah kota tersebut. 

Ada sejumlah bangunan tua bersejarah yang wajib dikunjungi saat berkunjung di kawasan itu. Bangunan tersebut di antaranya Museum Fatahillah, Museum Bank Indonesia, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Wayang, Toko Merah, serta Pelabuhan Sunda Kelapa.

Banyaknya bangunan bersejarah di kawasan wisata Kota Tua Jakarka, menjadikannya sebagai tempat yang memiliki nilai edukasi bagi pengunjung.

“Di sini banyak museum yang mengedukasi para pengunjung tentang sejarah Kota Jakarta. Terutama bagi wisatawan muda. Selain itu, gaya bangunan yang merupakan peninggalan zaman penjajahan Belanda, menjadi daya tarik tersendiri sebagai lokasi swafoto yang keren,” ujar Ega Patria, salah satu pengunjung asal Madiun yang datang ke lokasi tersebut bersama teman-temannya.

Saat berkunjung ke Kota Tua Jakarta, pengunjung  dikenakan biaya per objek.  Tiket masuk Kota Tua Jakarta diberlakukan dan dibedakan pada setiap objek wisata yang ada di kawasan tersebut.

Pada Museum Fatahillah, misalnya harga tiket sebesar Rp5.000 per orang dewasa dan Rp3.000 untuk mahasiswa. Sedangkan pengunjung anak-anak dan pelajar dikenai tiket Rp2.000. Museum ini buka setiap hari dari jam 9 pagi hingga 3 sore. 

Selain populer, museum Fatahillah memiliki nilai sejarah yang begitu kuat. Berdasarkan catatan sejarah, pada masa penjajahan Belanda, gedung ini pernah digunakan sebagai balai kota, pengadilan, kantor catatan sipil, hingga tempat Dewan Kotapraja.

Museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah Nomor 1 Pinangsia, Tamansari, Jakarta Barat, ini banyak dikunjungi oleh para wisatawan domestik maupun mancanegara pada saat akhir pekan ataupun liburan.

Gedung ini secara resmi diserahkan kepada Pemeritah Provinsi DKI Jakarta pada 1968. Kemudian gedung tersebut diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin.

Museum Fatahillah menyimpan beberapa koleksi barang sejarah berupa benda asli maupun replika. Di dalamnya ada replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Kota Jakarta, furnitur-furnitur antik, koleksi keramik, gerabah, prasasti, dan lain sebagainya.

Setelah puas mengujungi Museum Fatahillah, pengunjung bisa bersantai di Taman Fatahillah. Taman itu merupakan sebuah lapangan di kawasan Kota Tua Jakarta dan berdekatan dengan Museum Fatahillah dan Museum Wayang.

Para pengujung bisa duduk bersantai di taman tersebut yang telah direnovasi beralaskan batu. Pengunjung juga bisa menyewa sepeda dan bermain sepeda keliling taman tersebut.

Di sekitar Taman Fatahillah juga banyak terdapat tempat makan dan minum yang sangat nyaman. Banyak pula tempat berjualan yang menyediakan aneka barang oleh-oleh khas Jakarta.

Jika cuaca sangat cerah, para pengunjung bisa duduk bersantai di Taman Fatahillah menikmati senja bersama teman, saudara, ataupun orang terdekat sampai puas.

ANTARA