1000 Penari Kolosalkan Tari “Bhone To Bungke” Peristiwa Sejarah Kerajaan Buton

1000 Penari Kolosalkan Tari “Bhone To Bungke” Peristiwa Sejarah Kerajaan Buton

Baubau – Penampilan tari kolosal oleh 1000 penari dalam Festival Keraton Kesultanan Buton (FKKB) yang dihelat di lapangan Lembah Hijau Kota Baubau, pada Rabu (16/10/2019), mampu menyedot perhatian warga hingga turis manca negara. 

Para penari yang merupakan pelajar SMP dan Madrasah Tsanawia se-Kota Baubau ini menampilkan tari tradisional Bhone To Bungke. Dengan diiringi penata musik The Arst Gonda Molagina, semakin membuat penonton larut dalam pertunjukan tari kolosal tersebut. 

Berdasarkan sinopsis, tarian Bhone To Bungke sendiri diilhami dari peristiwa sejarah masa lampau kerajaan Buton, tepatnya masa pemerintahan Raja Mulae, raja ke-5 dari kerajaan Buton. 

Pada masa kepemimpinan Raja Mulae, Kerajaan Buton saat itu mendapat perlawanan dari pasukan Kerajaan Tobelo yang ingin merampas hasil perkebunan masyarakat dan ingin menguasai kerjaan Buton. Saat itu, pasukan kerajaan Tobelo datang ke tanah Buton dipimpin panglima sakti bernama Labolontio. 

Saat pasukan Labolontio tiba di Bhone To Bungke, maka terjadilah pertempuran dan pasukan kerajaan Buton saat itu mengalami kekalahan. Mendengar hal tersebut, Raja La Mulae mengadakan syaembara dan bagi yang berhasil mengalahkan Labolontio, bila dia laki-laki maka akan dinikahkan dengan putrinya bernama Watampaidongi atau Wa Kaboroko. 

Syaembara  itupun terdengar oleh Latimba-Timbanga dan Raja Mulae mengizinkannya untuk mengikuti syaembara. Akhirnya Latimba-Timbanga berhasil mengalahkan Labolontio dengan memenggal lehernya. Raja Mulae pun menepati janjinya menikahkan putrinya dengan Latimba-Timbanga. 

Latimba-Timbanga inilah yang kemudian menjadi Raja Buton ke-6 yang memerintah sejak 1491 sampai 1511 Masehi dengan gelar Raja Kaimuddin. Dan menjadi Sultan Pertama di Kesultanan Buton yang bergelar Sultan Muh. Isa Kaimuddin Khalifatul Khamis yang memerintah dari tahun 1511-1537 Masehi. 

Tari Bhone To Bungke yang dikolosalkan oleh 1000 penari ditutup dengan membentuk konfigurasi Pesona Indonesia, PO-5 dan Festival Keraton Kesultanan Buton.

Penampilan itupun mendapat pujian dari Tenaga Ahli Sekretaris Bidang Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI, I Gusti Ngurah Putra,  yang turut menyaksikan penampilan tari kolosal itu mewakili Menteri Pariwisata. 

“Ini pertama kali saya melihat. Dirigen cukup terampil menggerakkan potensi penari yang ada. Garis komandonya begitu terarah. Kalau Kepala OPD mungkin gampang digerakkan pak Wali. Tapi, anak-anak sekolah ini tentunya karena partisipasi berdasarkan kesadaran,” ujar Ngurah Putra. 

Ia juga menuturkan, Festival Keraton Kesultanan Buton ini masuk dalam 100 kalender iven nasional 2019. Event tersebut dinilainya sudah setara dengan iven populer lainnya seperti Jember Fashion Carnaval, Banyuwangi Etnho Carnival dan Pesta Kesenian Bali.

“Jadi banyak aspek yang dinilai diantaranya efek ekonomi, kelestarian budayanya, komitmen Pemerintah daerah, dan dilaksanakan berkesinambungan,” pungkasnya. 

Selain penampilan tari kolosal yang di pusatkan di lapangan lembah hijau, juga ikut tampil 100 lebih peserta  karnaval budaya yang diikuti antara lain Pemerintah Kabupaten Bone, Paguyuban Jawa serta sejumlah Kerukunan Keluarga seperti Bombona, Bali, Karaengta, Makassar, Muna, Wakatobi, Sulawesi Selatan, Tolandona dan Toraja, yang menambah meriahnya Festival Keraton Kesultanan Buton 2019.

rri.co.id/Image tegas.co