SEJARAH SEBONGKAH NISAN DI MAKAM BELANDA (Bernstein: Antara Karir, Karya dan Akhir Hayat di Ternate)

SEJARAH SEBONGKAH NISAN DI MAKAM BELANDA (Bernstein: Antara Karir, Karya dan Akhir Hayat di Ternate)

Kolonialisme dalam berbagai sejarah peradaban manusia menuai kecaman, protes hingga dendam berkepanjangan yang tak berkesudahan jika kedua pihak tak mau untuk menyudahinya. Korban harta dan nyawa adalah konsekuensi dari praktik kolonialisme tersebut. Demikian halnya Bangsa Indonesia yang pernah berada pada era tersebut dimasa lalunya. Dibalik berbagai peristiwa kronik sejarah yang memilukan tersebut, perkembangan dunia keilmuan seolah mencari jalan untuk berkembang dikalangan ilmuan dan pencari pengetahuan. Beberapa nama mulai tampil ke permukaan ditengah dunia yang bergejolak. Hal ini tidak lepas dari rasa ingin tahu manusia iitu sendiri maupun dorongan ekonomi mengkomersilkan berbagai sumber daya yang ada.

Kolonialisme di Indonesia diawali dari kedatangan bangsa Eropa untuk mencari rempah sebagai barang berharga melebihi perhiasan emas dimasa itu. Tak hanya rempah-rempah yang dicari, segala hal yang memiliki nilai jual menjadi objek buruan bagi bangsa-bangsa imperium untuk menguasainya. Segala hasil alam dari tanaman dan tumbuhan (botani), hewan dari yang buas hingga unggas jinak terlebih hasil galian alam semisal tambang (baca Sawahlunto) menjadi rebutan untuk dikuasai.

Dibalik hasrat penguasaan, sejarahpun mencatat beberapa nama yang kini tersehor dalam ilmu pengetahuan modern dan sejarah dunia atas jasanya baik karena telah melaakukan penelitian dan mendokumentasikan keanekaragaman hayati sebagai cikal bakal dan memperkaya khasanah sejarah alam dan lain sebagainya. Nyaris diseluruh Nusantara, dunia flora dan fauna mendapat perhatian khusus baik dikalangan naturalis bangsa asing maupun pihak kolonial itu sendiri.

Nama besar dibalik keberadaan Kebun Raya Bogor misalnya, Caspar Georg Carl Reindwardt seorang botanikus Belanda yang diutus raja Wilem 1 menjejakkan kaki di Jawa pada tahun 1815 guna mempelajari sebanyak mungkin kekayaan alam tanah jajahan yang memiliki nilai dan peluang ekonomis. Dapat dipahami dalam perkembangannya menjadi cikal bakal lahirnya Kebun Raya Bogor yang telah eksis lebih dari 200 tahun saat ini setelah gagasan Reindwardt untuk menjadikan kawasan ini sebagai ‘S Lands Plantentuin karena dianggap ideal bagi pengembangbiakan dan pertumbuhan tanaman dengan banyaknya curah hujan serta iklim tropis daerah tersebut. Bagaikan gayun bersambut karena pada masa itu telah ada Hollandsche Maatschappij der Wetenschappen yaitu sebuah perkumpulan masyarakat sains di Belanda yang lebih fokus mempelajari, mengoleksi segala objek dan sumber-sumber pengetahuan dari setiap tanah jajahannya.

Dengan adanya perkumpulan semacam ini, kekayaan alam dari Kepulauan Nusantara semakin diburu sebagai sumber belajar yang menarik dengan segala potensi kekayaan yang dmiliki oleh setiap daerahnya tersebut. Dan, Ternate adalah salah satu daerah yang memiliki nilai signifikansi historis melalui bukti tinggalan sejarah berupa makam orang-orang yaang berjasa bagi ilmu pengetahuan khususnya biologi modern dan sejarah alam. Selain nama besar Alfred Russel Wallace yang pernah tinggal bertahun-tahun di kota ini, juga Heinrich Agathon Bernstein menggeluti dunia serupa dengan Wallace hingga kematiannya di kota ini kini lebih 154 tahun (1865 – 2019).

Heinrich Agathon Bernstein, seorang naturalis juga penjelajah asal Jerman kelahiran 22 September 1828 yang wafat di Ternate pada 19 April 1865. Berbeda dengan naturalis lain yang memilih Ternate sebagai “dapur” untuk megolah hasil penemuannya selama menjelajah di beberapa pulau di bagian Timur Indonesia seperti Alfred Russel Wallace. Menetap di Indonesia sejak tahun 1855 dan menjadi seorang kolektor museum sejarah alam di Leiden pada tahun 1859 untuk berbagai jenis flora dan fauna. Sebagaimana yang dilakukan seorang Alfred Russel Wallace yang menjelajahi wilayah Nusantara pada awal 1850-an hingga awal tahun 1860-an. Bernstein melakukan perjalanan ke Maluku dan memilih untuk tinggal di Ternate sejak tahun 1860. Koleganya Hermann Schlegel yang menjabat sebagai direktur museum di Leiden sangat berharap bahkan tak segan mendesak Bernstein untuk melakoni sebagaimana yang dilakukan Wallace sejak tiba di Ternate pada tanggal 18 Januari tahun 1858.

Menurut George Beccaloni, bahwa Bernstein menjadi salah satu kolektor sejarah alam paling sukses yang bekerja di Indonesia pada abad ke-19. Mengutip Jansen (2008), diperkirakan Bernstein telah berhasil mengumpulkan 4.645 kulit burung, sekitar 1.000 telur dan 354 sarang burung untuk Museum di Leiden, ditambah 181 mamalia, 212 reptil, 211 jenis ikan, 588 moluska, 10.215 serangga. Dengan jumlah koleksi yang fantastis tersebut maka tidak mengherankan kalau apa yang dikatakan Jansen selanjutnya bahwa “Kulit burung saat ini ada di berbagai museum di seluruh dunia, termasuk London, New York, Wina, Paris dan Genoa. Hal ini terjadi karena adanya pertukaran diantara beberapa koleksi yang dilakukan oleh pihak Museum di Leiden.” Hal semacam ini biasanya menjadi lumrah terjadi berdasarkan hubungan kerjasama yang terjalin antar masing-masing pihak pengelola museum tersebut.

Hingga kini, para turis dan peneliti asing hilir mudik mencari jejak makam Bernstein di Ternate namun sayangnya belum dapat ditemukan secara pasti. Kamatiannya yang tergolong diusia masih muda menyisahkan pilu yang mendalam bagi kalangan pecinta flora dan fauna, kolektor museum dan juga bagi pegiat sains dan riset keilmuan moderen masa kini. Meninggal dunia di usia 36 tahun yaitu tepat pada tanggal 19 April 1865 sebagaimana ditulis Jansen (2008) yang mengutip dari Veth (1879), bahwa ia “… meninggal karena abses hati dan dimakamkan di Batanta atau Ternate”. Lokasi makam saat ini sangat sulit ditemukan karena telah terjadi banyak perubahan dikawasan tersebut. Perubahan ini lebih bersifat non alamiah atau dapat saya pastikan sebagai dampak dari vandalisme. Hilangnya struktur tertentu pada kawasan makam yang populer dikenal sebagai Makam Belanda tersebut.

Meskipun demikian kita masih beruntung untuk melakukan penelitian secara lebih mendalam guna menemukan makam yang sebenarnya. Salah satunya adalah dengan menjadikan gambar ilustrasi (lukisan) Rosenberg (1875) sebagai referensi utama yang memberikan gambaran tentang lokasi dan letak makam Bernstein. Setidaknya terdapat beberapa asumsi menurut saya sebagai berikut:

Pertama: Monumen atau Nisan di permakaman sebagaimana tampak pada gambar tersebut adalah hanya terdapat di kawasan makam Belanda Kelurahan Kalumpang Ternate. Sebagaimana beberapa monumen berbentuk obelisk yang terdapat di tempat pemakaman orang Belanda seperti di Kebun Raya Bogor: Ary Prins (1816-1867), dan lain sebagainya.

Kedua: Posisi lukisan makam Bernstein berada tepat membelakangi gunung Gamalama dan samping selatannya terdapat sebuah monumen yang saat ini berbentuk obelisk masih dapat kita temukan sebagaimana yang dilukis. Hal ini memberikan isyarat bahwa letak makam semestinya ditemukan berada pada posisi sebagaimana nampak pada lukisan tersebut.

Ketiga: Besar kemungkinan makam yang dimaksud adalah sebagaimana tampak pada sisa-sisa struktur yang masih dapat dikenal saat ini yang ditandaai dengan: (a). Adanya material besi yang tersisa pada makam sebagai bagian pagar yang melingkar pada induk makam (monumen). Menurut penuturan seorang warga setempat bahwa besi-besi tersebut masih utuh hingga tahun 2000, kemudian diambil dan digunakan oleh orang-orang sebagai bahan baku membuat pedang ketika terjadinya konflik SARA saat itu; (b). Masih terdapatnya monumen berbentuk obelisik yang berada dekat pada sudut selatan makam tersebut.

Ilustrasi (lukisan) Rosenberg (1875) tentang makam Bernstein di Ternate

Dari hasil penelitian lapangan telah kami lakukan pengukuran pada lokasi sebuah makam yang diduga kuat adalah makam Bernstein. Makam tersebut sebagaimana tampak dibawah ini:

Dugaam Makam Bernstein dalam Kawasan Makam Belanda di Ternate

Guna memperkuat dugaan kami, data pengukuran pada lokasi tersebut adalah 166 cm x 142 cm, tinggi tiang pada empat sudut berukuran 55 cm dengan ukuran ketebalan tembok pada setiap sisinya adalah 17 cm. Makam ini berada tepat pada jarak 190 cm dari fondasi pagar gerbang masuk kawasan makam. Letak makam berada di sisi kiri tepi jalan dengan jarak 175 cm. Dari segi letak yang berdekatan dengan monumen pada sisi kirinya maupun tinggalan sisa besi yang melingkar pada dinding pagar makam tersebut. Meskipun diakui bahwa terdapat sekitar berjumlah 5 (lima) monumen serupa di kawasan makam Belanda namun kuat dugaannya bahwa makam Bernstein adalah yang nampak berdekatan dengan monumen sebagaimana pada poin (c) tersebut diatas.

Diantara beberapa makam dalam kawasan ini, makam diataslah yang memiliki kesamaan dengan ilustrasi lukisan yang disebutkan sebelumnya. Dari segi letak yang berdekatan dengan monumen pada sisi kiri makam tersebut maupun tinggalan sisa besi yang melingkar pada dinding pagar makam tersebut. Meskipun diakui bahwa terdapat sekitar berjumlah 5 (lima) monumen serupa di kawasan makam Belanda tersebut namun kuat dugaannya bahwa makam Bernstein adalah yang nampak berdekatan dengan monumen sebagaimana nampak pada foto berikut ini:

Monumen di kawasan Makam Belanda

Rekomendasi

Untuk membuktikan lebih lanjut tentang kebenaran letak makam Bernstein maka beberapa rekomendasi untuk perlu kita lakukan kedepan adalah sebagai berikut:

(a).    Melakukan studi arkeologis melalui eskavasi pada lokus yang diduga kuat guna menemukan bekas fondasi monumen yang terletak dalam pagar makam tersebut (lihat Ilustrasi lukisan Rosenberg – 1875).

(b).    Melakukan penataan kawasan secara menyeluruh baik dari segi ruang (lanscape) maupun regulasi sehingga tidak terjadi kerusakan serta aksi vandalisme yang cenderung menghawatirkan.

(c).    Membangun pagar keliling kawasan makam namun tetap membuka ruang akses dibawah sebuah unit pengelola kawasan makam Belanda dan Cina bila perlu melibatkan masyarakat sekitar kawasan sehingga merasa memiliki bersama.

(d).    Menempatkan petugas juru pelihara untuk menjaga kebersihan dan keamanan pada kawasan makam.

(e).    Melakukan pendataan (inventarisasi dan registrasi) tentang jumlah dan siapa saja yang dimakamkan dalam kawasan makam Belanda tersebut.

(f).    Menghidupkan kawasan bersejarah tersebut untuk berdampak ekonomi dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar.

(g).     Meningkatkan peran serta atau pelibatan masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan kawasan bersejarah ini sebagai sebuah destinasi wisata sejarah misalnya melalui peran komunitas pemuda atau kelompok sadar wisata (Pokdarwis), dan lain sebagainya.

(h).    Mempromosikan makam Belanda ini sebagai warisan heritage atau salah satu pusaka kota Ternate melalui berbagai kegiatan Heritage Trail sebagai salah satu titik kawasan penting dalam program jelajah kota pusaka untuk dilakukan secara rutin dan berkelanjutan baik oleh pemerintah, komunitas maupun masyarakat luas.

(i).    Menyiapkan regulasi sebagai payung hukum atas keberadaan makam Belanda dan Cina tersebut melalui Perda ataupun Surat Keputusan Walikota sebagai Cagar Budaya.

Demikian beberapa hal penting untuk kita pikirkan bersama guna menemukan solusi bersama terkait situs sejarah penting di kota ini yang sarat dengan berbagai peristiwa sejarah masa lalunya. Realitas ini seolah turut mempertegas nilai penting atau signifikansi historis dan identitas kota ini sebagai episentrum peradaban ilmu pengetahuan modern sekaligus sebagai titik nol jalur rempah yang akan diusulkan sebagai warisan dunia UNESCO.

Oleh: Rinto Taib, MSi