Tari Gambuh, Sejak Abad ke-15 Sampai Pesta Kesenian Bali 2019

Tari Gambuh, Sejak Abad ke-15 Sampai Pesta Kesenian Bali 2019

Sejumlah seniman membawakan sendra tari Gambuh dalam pagelaran kesenian di Pesta Kesenian Bali ke-41, Denpasar, Bali.

Untuk diketahui, drama tari klasik Bali yang biasa ditampilkan untuk mengiringi ritual agama Hindu tersebut merupakan salah satu dari sembilan tari Bali yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda.

Gambuh adalah teater dramatari Bali yang dianggap sebagai sumber segala jenis tari klasik Bali karena paling kaya akan gerak-gerak tari khas Bali. Dengan begitu, tarian ini dinilai banyak kalangan sebagai yang paling tinggi mutunya.

Tari Gambuh diperkirakan muncul sekitar abad ke-15 dengan lakon bersumber pada cerita Panji. Gambuh sendiri totalitas berbentuk teater (teatrikal) karena di dalamnya terdapat jalinan unsur seni suara, drama dan tari, seni rupa, sastra, dan lainnya.

Gambuh dipentaskan dalam upacara-upacara Dewa Yadnya seperti odalan, upacara Manusa Yadnya seperti perkawinan keluarga bangsawan, upacara Pitra Yadnya (ngaben) dan lain sebagainya, diiringi gamelan Penggambuhan yang berlaras pelog Saih Pitu.

Tokoh yang biasa ditampilkan dalam Gambuh adalah Condong, Kakan-kakan, Putri, Arya/Kadean-kadean, Panji (Patih Manis), Prabangsa (Patih Keras), Demang, Temenggung, Turas, Panasar, dan Prabu.

Dalam memerankan tokoh-tokoh tersebut, penari Gambuh pada umumnya menggunakan dialog bahasa Kawi, kecuali tokoh Turas, Panasar dan Condong yang berbahasa Bali, baik halus, madya, atau kasar.

Hingga kini, Gambuh abadi dan aktif di beberapa desa, seperti Kedisan (Tegallalang, Gianyar), Batuan (Gianyar), Padang Aji dan Budakeling (Karangasem),
Tumbak Bayuh (Badung), Pedungan (Denpasar), Apit Yeh (Tabanan), Anturan dan Naga Sepeha (Buleleng).

Sekarang, melalui event Pesta Kesenian Bali ke-41, Denpasar, Gambuh dibawakan dalam beberapa serial, dari dua sampai tiga penari.

rri.co.id