Masjid Raya Baiturrahman, Saksi Bisu dan Kekuatan Rakyat Aceh

Masjid Raya Baiturrahman, Saksi Bisu dan Kekuatan Rakyat Aceh

Masjid Raya Baiturrahman menjadi saksi bisu saat ratusan ribu masyarakat Aceh, diganggu ketenangannya oleh peristiwa gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada tahun 2004 lalu. Masjid ini menjadi keajaiban yang luar biasa saat itu mengingat sebagian besar bangunan hancur akibat hebatnya guncangan gempa.

26 Desember 2004 lalu, kondisi di sekitar masjid itu sudah bak lautan. Ketinggian air mencapai 3 meter akibat hempasan gelombang tsunami. Sementara disudut kota lainnya, mayat mulai berserakan, mobil hanyut terbawa air dan bangunan porak-poranda.

7 Tahun berlalu, kini wajah masjid itu sudah kembali megah. Meskipun pada Rabu (11/4) lalu, sempat terlihat kepanikan di sekitar masjid akibat guncangan gempa berkekuatan 8,5 SR.

Warga Aceh berbondong-bondong lari ke masjid untuk menyelamatkan diri. Raut panik, trauma, dan takut jelas terpancar daru raut wajah mereka.

Para jamaah dari berbagai sudut kota berbondong-bondong memadati Masjid Baiturrahman untuk menunaikan ibadah salat Jumat. Benar-benar suasana khidmat dan tenang, terasa di masjid luasnya mencapai 4760 m2.

Masjid megah ini terletak di pusat kota Banda Aceh. Masjid ini dibangun pada tahun 1292 tepatnya dimasa pemerintahan Sultan Alaidini Mahmudsyah I yang kemudian diperluas oleh Sultan Iskandar Muda.

Pada masa perang Aceh dengan Belanda tahun 1837, masjid ini merupakan markas pertahanan rakyat Aceh yang berhasil direbut dan dibakar habis oleh tentara Belanda. Pada saat itu, Mayjen Kholer pemimpin serangan Belanda tewas tertembak di dahi oleh pasukan Aceh di pekarangan Masjid Raya.

Untuk mengenang peristiwa heroik ini, dibangun monumen kecil tepatnya di bawah pohon Geulumpang. Beberapa tahun kemudian, untuk meredam kemarahan rakyat Aceh, pihak Belanda melalui Gubernur Jendral Van Der Heijen membangun kembali Masjid Raya ini dengan peletakan batu pertamanya oleh Teuku Kali Malikuk Adil pada tanggal 9 Oktober 1879.

Hingga Saat ini, masjid ini telah mengalami lima kali renovasi dan perluasan (1879-1993). Masjid ini merupakan salah satu masjid terindah di Indonesia yang memiliki tujuh kubah, empat menara dan satu menara induk.

Ruangan dalam berlantai marmer buatan Italia. Masjid itu dapat menampung hingga 9 ribu jamaah.

merdeka.com/Image