PERADABAN MARITIM DI TELUK PERSIA (Belajar dari Kota Pantai Bersejarah di Iran: Bagian I)

PERADABAN MARITIM DI TELUK PERSIA (Belajar dari Kota Pantai Bersejarah di Iran: Bagian I)

Kish Island tak sekedar sebuah pulau atau kota pesisir di Republik Islam Iran dengan batasan wilayah geografisnya semata melainkan sebuah jejak kejayaan peradaban Persia yang berpengaruh dimasa lalu hingga masa kini. Dengan luas wilayahnya 35 mil persegi dan garis pantainya 844 mil dibagian Selatan pantai Iran atau bagian Utara teluk Persia. Panorama alam pantai sepanjang jalan dapat diamati begitu indah dan mempesona dengan hamparan pasir putih dan terumbu karang disepanjang garis pantai.

Banyak hal menarik yang dapat dinikmati oleh wisatawan kala berkunjung ke tempat ini. Meski menjadi kota modern dengan tampilan berbagai fasilitas pusat perbelanjaan serta resort mewah namun jejak sejarah masa lalu tetap terpelihara dengan baik. Inilah salah satu pelajaran penting dalam tata kelola sebuah kota: “beradaptasi dengan zaman tanpa harus kehilangan identitas kota”.

Pagi itu tepat hari Sabtu (16/02) jarum jam menunjukkan pukul 04.30 kami menuju Bandara dengan bertolak dari Espinas Hotel tempat kami menginap dengan jarak tempuh sekitar 30 menit lebih. Setibanya dibandara, kami harus menunggu beberapa lama ditemani secangkir Capucino dengan menu sarapan kue basah khas Tehran yang nikmat rasanya. Tepat pukul 8.00 pesawat diterbangkan menuju Kish dan tiba tepat pukul 09.14 waktu setempat. Kami disambut seorang mahasiswa asal Indonesia yang sedang studi di Kish Island dan bersedia membantu menemani kami selama seharian di kota indah ini.

Tiba di bandara Kish Islands

Setelah pesawat mendarat, kamipun perlahan menapaki tangga turun pesawat dengan decak kagum dan merasa lebih senang karena suhu dan cuaca di kota ini tak jauh beda dengan Ternate daerah asal kami. Semi khatulistiwa membuat cuaca lebih hangat dari Tehran tempat kami semula berada. Panas Matahari mulai sedikit terasa meskipun suhu udara tidak sehangat di kota asal namun juga tidak sedingin di Tehran membuat perjalanan ini begitu istimewa.

Mobil lokal yang digunakan

Perjalananpun dimulai. Dijemput dengan sebuah mobil yang lumayan representatif untuk sebuah fun trip sekaligus field study. Sang supir yang sulit berbahasa Inggris menjelaskan dalam bahasa Persia selama perjalanan kemudian dibantu penerjemahannya oleh Ibu Yanti, seorang dari staf KBRI di Tehran yang dengan senang hati turut memberikan penjelasan / pegetahuan tambahan selama obrolan diatas pesawat. Destinasi pertama yang kami singgahi adalah sebuah situs Gua Karang bentukan alam sejak lebih dari dua milenium silam yang juga merupakan warisan dari kekaisaran Achaemenid.

Wisatawan di Karizkish

Ya, Karizkish adalah sebuah kanal kuno (saluran air) yang telah diubah menjadi kota bawah tanah dengan fasilitas mini bar (resto) maupun museum yang menarik bagi pengunjung. Sebagai sebuah museum, tempat ini menyediakan berbagai jenis koleksi keramik hingga peralatan rumah tangga serta alat tangkap ikan masyarakat setempat pada masa lalu. Selain itu juga dilengkapi dengan peta sebaran keramik Persia pada masa lalu yang seolah tak kalah menariknya dengan sejarah jalur sutera maupun jalur rempah yang umumnya diketahui orang.

Bagian dalam Karizkish yang menarik untuk dikunjungi

Seusai menyusuri setiap lekuk bangunan Gua ini, kamipun melanjutkan ke destinasi menarik lainnya yaitu benteng peninggalan Portugis yang dibangun pada tahun 1507. Portugis pernah menguasai kota Hormuz dan Kish di teluk Persia pada masa lalu dengan bukti peninggalan sejarah yang terdapat disini adalah berupa bangunan benteng dan meriamnya. Kini semua warisan masa lalu dan tata kelola haritage di kota ini diatur oleh otoritas setampat yang juga disebut: Kish Free Zone Organization.

Foto & Narasi Oleh:

Rinto Taib, MSi (Pegiat Kota Pusaka)