5 Cagar Budaya Yang Masih Difungsikan di Kota Madiun

5 Cagar Budaya Yang Masih Difungsikan di Kota Madiun

MADIUN – Keberadaan cagar budaya di tengah-tengah kehidupan modern, sudah selayaknya dipertahankan. Pasalnya, cagar budaya merupakan kekayaan budaya Indonesia yang penting bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, serta ilmu pengetahuan.

Di Kota Madiun ini terdapat banyak sekali cagar budaya yang sampai sekarang masih berdiri dengan kokoh lho! Bahkan beberapa diantaranya masih dimanfaatkan sebagai tempat pemerintahan, sekolah, bahkan peribadatan.

BALAIKOTA
Keberadaan bangunan Balaikota tak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya Kota Madiun. Setelah Pemerintah Hindia-Belanda mengesahkan berdirinya Gemeente (kota) Madiun pada 20 Juli 1918 yang lalu.

Gemeente tentunya membutuhkan kantor untuk menjalankan urusan pemerintahan. Maka dari itu dibangun gedung balaikota yang menghabiskan dana sekitar 129.225 gulden.

Dari sejumlah referensi. Pembangunan gedung ini berdampak pada dibuatnya jalan penghubung antara Jalan Resident (Jalan Pahlawan) dengan jalan Ingeluiyf (sekarang Jalan Dr.Soetomo). Sedangkan jalan penghubung diberi nama jalan Raadhuis (sekarang dikenal dengan nama Jalan Perintis Kemerdekaan)

BAKORWIL
Gedung Badan Koordinator Wilayah (Bakorwil) ini terletak di Jalan Pahlawan Kota Madiun. Diyakini bangunan ini berdiri sejak abad ke 19. Sebab rumah bergaya indische empire ini menjadi ciri bangunan pada masa itu.

Bakorwil sendiri, dulunya merupakan rumah dinas residen (pemimpin sebuah karisidenan). Struktur residen merupakan bentukan pemerintah Hindia-Belanda yang bertahan hingga 1950.

Sekarang, Bakorwil digunakan sebagai rumah Dinas Bakorwil Madiun, instansi bagian Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

SMPN 1 MADIUN
Pada zaman Hindia-Belanda, sekolah yang berada di Jalan Kartini itu diketahui sebagai MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs).

MULO adalah sekolah setara SMP yang menggunakan bahasa pengantar Bahasa Belanda. Di Karisidenan Madiun, sekolah ini merupakan satu-satunya sekolah yang ada.

Salah satu contoh ciri model bangunan lama di sekolah tersebut adalah bentuk jendela kayu yang panjang. Bukan hanya itu saja, pintu-pintu kayunya juga berbentuk kupu tarung yang tinggi rata-rata mencapai 2,46 meter.

SMPN 3 MADIUN
Sekolah ini dulunya bernama Kartini School lalu berganti nama menjadi SMPN 3 Kota Madiun pada 1950. Jauh dari itu, bangunan gedung sekolah ini sudah ada sejak 1915 silam.

Dulu, beberapa pejabat pribumi memikirkan sebuah wadah untuk memberikan akses pendidikan bagi anak-anak perempuan Jawa, terutama yang berasal dari keluarga terpandang. Akhirnya pemikiran tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk organisasi Wiloetomo.

KLENTENG HWIE ING KIONG
Adanya tempat peribadatan ini adalah bukti, bahwa keberagaman di Kota Madiun sudah berlangsung sejak lama.

Singkat cerita, pada 1887 seorang istri Residen Belanda yang berstatus penguasa tertinggu wilayah Madiun menderita penyakit serius. Lalu datanglah Kapiten Liem Koen Tie menawarkan bantuan untuk menyembuhkan penyakit istri Residen Belanda.

Alhasil, penyakit yang diderita istri Residen Belanda tersebut sembuh. Sebagai ungkapan syukur dan terima kasih Sang Residen Belanda, memberi kemudahan kepada perhimpunan masyarakat Tionghoa dan dibangunlah klenteng pada 1887.

Sampai sekarang, klenteng yang berada di Jalan HOS Cokroaminoto ini masih difungsikan sebagai tempat peribadatan dan menjadi ikon tersendiri di Kota Madiun. Perjalanan sejarah Kota Madiun sangat panjang dan terekam apik melalui bangunan bangunan yang dijadikan sebagai cagar budaya.

madiuntoday.id