JEJAK WALLACE DI PASAR MALAYU (Destinasi Digital & Transformasi Kota Pusaka)

JEJAK WALLACE DI PASAR MALAYU (Destinasi Digital & Transformasi Kota Pusaka)

Pasar Melayu merupakan sebuah konsep transaksi dagang ala Ternate masa lalu di era kolonial Portugis ketika menguasai kawasan sebuah benteng yang kemudian diubah namanya oleh Belanda menjadi Fort Oranje. Benteng Malayo yang kini telah bertransformasi menjadi benteng Oranje adalah bukti sejarah komunitas Malayu yang menjadikan kawasan sekitar benteng tersebut sebagai pusat transaksi dan bisnis perdagangan termasuk niaga rempah yang ramai pada masanya. Berbagai jenis dagangan meramaikan aktivitas transasksi jual beli sekaligus suguhan menarik dari berbagai atraksi pada hari Minggu (28/10) kemarin.

Dentuman suara drumband terdengar semakin mendekat, saya pun beranjak meninggalkan obrolan singkat dengan seorang juru pelihara cagar budaya yang menetap dalam benteng tersebut. Sembari mencari sumber dan arah bunyian tersebut, sayapun segera menghidupkan handphone yang baru saja dimatikan guna menghemat daya bateray yang semakin tak berdaya, hanya dengan satu tujuan agar dapat mengabadikan momen tersebut melalui foto ataupun vidio.

Decak kagum menyelimuti, kala mengetahui bahwa bukan sekedar bunyian group drumband namun juga peserta pawai (karnaval) dengan busana unik dan menarik juga fashionable. Balutan busana para peserta pawai tersebut ternyata bukan sekedar pawai biasa melainkan peserta lomba dengan keragaman custom beragam corak atau motif yang diselenggarakan oleh GENPI atau Generasi Pesona Indonesia Provinsi Maluku Utara sebagai rangkaian Launching Pasar Malayu atau destinasi digital yang didukung oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dan Pemerintah Kota Ternate tersebut.

Para peserta lomba nampaknya tidak hanya orang dewasa melainkan anak-anak yang nampak anggun dan mempesona dengan balutan busana beragam corak warna dan motif, dari penampilan bidadari kayangan bersarung kepakan sayap burung “Goheba Dopolo Rumdidi” (Garuda berkepala dua, lambang kesultanan Ternate) hingga berbusana ala prajurit perang bangsa Romawi zaman dahulu. Dari busana pengantin wanita khas Ternate hingga burung Bidadari yang elok dan terkenal di belantara hutan Halmahera khususnya Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata.

Untuk hal yang disebutkan ini, pasar Malayu Fort Oranje seolah membawa kita menyusuri lorong waktu untuk berinteraksi sembari berkoumikasi lewat dialog imajiner bersama Alfred Russel Wallace dan Ali Wallace, sang penemu burung Bidadari (Semioptera Wallacei) yang juga dikenal dengan Cenderawasih jenis baru dan dianggap sebagai penemuan terbesar Wallace. Balutan asesoris yang menutupi tubuh seorang peserta lomba menyerupai kepakan burung Bidadari tersebut nampak tampil beda dengan peserta lainnya karena asesoris yang digunakan terlihat lebih besar dari peserta lain dengan warna yang tidak terlalu menyolok dan didominasi warna hijau layaknya warna dominan burung bidadari pada umumnya. Momentum ini pula seolah mengantarkan kita bernostalgia atas jejak Wallace.

Ada beberapa pesan yang dapat kita petik dari pementasan sang peserta lomba bertemakan burung bidadari tersebut, bahwa: Pertama, pesan ekologis bagi kita untuk melindungi keberlangsungan spesies burung endemik (langka) beserta habitat alamnya agar tetap lestari. Kedua, pesan edukatif bahwa kita patut mewarisi tradisi keilmuan dari seorang Wallace untuk terus menggali, mengkaji dan mengembangkan keanekaragaman kekayaan flora dan fauna bagi kepentingan ilmu pengetahuan.Ketiga, bahwa kekayaan keanekaragaman flora-fauna yang kita miliki sesungguhnya menyimpan sejuta misteri yang mengasah kreatifitas kita untuk dikembangkan sebagai sebuah karya seni termasuk seni pertunjukan yang dipentaskan di ajang Pasar Malayu Fort Oranje tersebut.

Walikota Ternate Dr. Burhan Abdurahman, SH.MM dalam sambutannya mengapresiasi panitia penyelenggara karena dianggap telah membantu pemerintah kota Ternate untuk memanfaatkan benteng Oranje sebagai salah satu ruang pusaka bagi upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Mengawali sambutannya, Walikota meneriakkan yel-yel khas Genpi yang disahut khalayak ramai dengan “Gassss”. Menurut Walikota bahwa : “Kehadiran benteng ini bukan sekedar nostalgia sejarah masa lalu tapi benteng ini juga harus memberikan dampak bagi kesejahteraan masyarakat kota Ternate. Karena itu berbagai upaya terus dilakukan oleh Pemerintah Kota Ternate guna menjadikan benteng ini menjadi suatu tempat yang memberikan dampak ekonomi, dampak seni dan dampak budaya, dampak sosial kepada masyarakat kota Ternate”.

Tambahnya, “Saya punya cita-cita dan dari awal dan punya komitmen bahwa setelah benteng ini direvitalisasi maka akan diserahkan kepada komunitas kota Ternate untuk dimanfaatkannya. Akan ada bermacam-macam atraksi seni, panggung budaya sepanjang tahun. Benteng ini direvitalisasi untuk memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat kota Ternate. Benteng ini akan menjadi pusat destinasi digital untuk pertama kalinya di Provinsi Maluku Utara dan Pemerintah kota Ternate akan support kegiatan-kegiatan generasi muda  dan kepentingan masyaralat kota Ternate ke depannya”.

Mengakhiri sambutannya, Walikotapun berpesan bahwa Ternate kaya akan potensi wisata sejarah, panorama alam, spot diving yang cukup indah, kuliner yang enak dan ini akan terus dibina dan dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dari sambutan Walikota tersebut menurut penulis adalah benar-benar sebuah mimpi yang menjadi nyata sekaligus merupakan capaian keberhasillan (succes story) yang luar biasa dari kepemimpinan beliau sebagai Walikota Ternate selama dua periode (2010-2015) dan (2015-2020) mendatang. Keberhasilanya untuk mengubah sebuah warisan (heritage) yang memiliki nilai historis monumental bagi perjalanan sejarah bangsa sekaligus bukti atas perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia di bumi Moloku Kie Raha yang kini di hidupkan kembali (revitalisasi) semata-mata bagi kepentingan masyarakat termasuk pula untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini sejalan dengan semangat Undang-Undang No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan Undang-Undang No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Akhirnya sebagai penutup tulisan ini, dapat penulis simpulkan bahwa sebagai salah satu daerah yang memiliki keragaman kekayaan destinasi di kawasan Indonesia Timur maka, kota Ternate kini semakin menggeliat laju pembangunan kepariwisataan dan kebudayaanya  melalui berbagai terobosan sang pemimpin Dr. H. Burhan Abdurahman, SH.MM atas dukungan dan partisipasi stakeholder serta masyarakat secara meluas. Penyelenggaraan pasar Malayu tahun 2018 kini sesungguhnya hanyalah tonggak awal bagi sebuah upaya bersama memprogramkan pengembangan pariwisata dengan terpadu dan terstruktur berbasis komunitas di era digital sebagai sebuah visi futuristik pariwisata Ternate masa depan, yaitu pariwiisata yang berbasis pada peran komunitas kaum milenial guna mengelola semua potensi lokal sebagai medium digital destination.

Hal ini sejalan dengan trend perkembangan kepariwisataan akhir-akhir ini yang memunculkan destinasi digital dikalangan milenial yang menunjukkan kemajuan luar biasa serta dampak fantastis bagi devisa negara yang bersumber dari sektor pariwisata. Hal ini turut didorong oleh berbagai tren promosi dari kalangan komunitas, pemerintah baik pusat hingga daerah maupun berbagai kalangan profesional hingga personal dari gelaran even kepariwisataan dan kebudayaan yang seolah turut melegitimasi keabsahan sektor kebudayaan dan pariwisata sebagai fondasi ekonomi sekaligus menjadi pintu dan jendela pembangunan masyarakat dimasa akan datang.

Tepukan tangan, sorak sorai, serta canda tawa para pengunjung Pasar Malayu seolah memberi kesan suksesnya hajatan tersebut sekaligus memberi tantangan penuh semangat kepada para pengunjung untuk terus berkunjung ke tempat bersejarah ini. Terik mentari nampak makin meredup seolah berpamitan melepas senja dihantarkan para noni-noni Belanda yang memilih bersemayam dibalik kemegahan bangunan Fort Oranje yang nampak mempesona sembari berbisik: “Kini kota ini benar-benar menjadi Pusaka, peliharalah agar tidak kembali menjadi Pusara”.

            Salam Kebudayaan  !

            Salam Pesona Indonesia !

Oleh: Rinto Taib (Traveller & Pegiat Kota Pusaka)