EKSPEDISI YANG MELAMPAUI EKSPEKTASI (Napak Tilas Spice Trade, Wallace Line, hingga Tsunami di Lingkar Ring of Fire))

EKSPEDISI YANG MELAMPAUI EKSPEKTASI (Napak Tilas Spice Trade, Wallace Line, hingga Tsunami di Lingkar Ring of Fire))

Ekspedisi Jalur Rempah 2018 dengan tema: “Sejarah Jalur Rempah dan Kekayaan Hayati Kie Raha” yang sedang berlangsung saat ini sejak tanggal 28 September hingga 10 Oktober mendatang di wilayah Ternate, Tidore, Jailolo dan Makaan oleh Kementerian Pendidikan RI merupakan kesempatan penting bagi para mahasiswa Indonesia untuk mengenal Moloku Kie Raha secara langsung dan lebih dekat sebagai negeri rempah. Banyak hal yang akan ditemukan: kebudayaannya, kekayaan alam (daratan maupun lautan). Negeri rempah tak sekedar tentang rempa-rempah melainkan kebudayaan, warisan pengetahuan (garis Wallacea) dan jejak peradaban masa lalu, bahkan tentang alam semesta dari kawasan ini sebagai ring of fire yang kaya akan potensi sekaligus “ancaman”.

Walikota Ternate Dr. Burhan Abdurahman, SH.MM saat acara pembukaan Ekspedisi Jalur Rempah 2018 bersama Kemendikbud RI di Ternate

Khusus tentang negeri rempah, banyak hal yang belum tergali, disana akan kita temukan tentang: rempah sebagai tanaman obat, komoditi bernilai jual, struktur dan lapisan sosial, institusi adat dan nilai budaya, jejak kolonialisme dan warisan feodalisme, konflik dan intergrasi, benturan peradaban dan silang budaya, hingga exotisme dan erotismenya yang melayarkan ribuan kapal Eropa menjelajahi samudera Nusantara dengan sejumlah navigator ulungnya. Realitas ini seolah menegaskan kepada dunia bahwa negeri rempah merupakan titik temu antara peradaban Timur dan Barat sekaligus sebagai miniatur titik simpul perkembangan budaya maritim dan agraris di Nusantara masa lalu.

Moloku Kie Raha sejak dahulu kala menjadi pusat perhatian dunia, selain alasan pokok karena memiliki rempah yang bernilai tinggi di pasar dunia saat itu juga karena kekayaan alam lainnya yang berlimpah. Setidaknya, masih segar dalam ingatan kita tentang Traktat Tordesilas (1494) yang mendorong  Francesco Serrao (Portugal) tiba di Ternate pada 1512 hingga 1575 terusir kembali akibat perlawanan rakyat setelah kematian Sultan Khairun di benteng Gam Lamo (Kastela). Demikian pula karena alasan Traktat Tordesilas sehingga tahun 1519 Ferdinand Magellan bersama 270 awak kapal mulai berlayar ke barat melintasi Samudera Atlantik tiba di Tidore pada tahun 1521 dan berhasil kembali ke Spanyol dengan menyisakan 18 awak pada 1522.

Moloku Kie Raha mulai menjadi rebutan dunia ketika penguasaan daerah koloni antara Portugis dan Spanyol sebagai daerah sumber rempah-rempah yang melahirkan dua poin kesepakatan berdasarkan perjanjian Saragosa pada 1529 yaitu: Maluku menjadi daerah di bawah pengaruh Portugis dan Spanyol harus meninggalkan Maluku kemudian memusatkan diri di Filipina. Pada segi lain, seorang naturalis Alfred Russel Wallacea menginjakkan kakinya untuk pertama kali di Ternate pada 18 Januari 1858 dan akhirnya menulis surat yang dikenal dengan Letter From Ternate ”On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type” kepada Charles Darwin yang menginspirasi lahirnya teori evolusi (Darwinisme) yang kita kenal saat ini.

A.R. Wallace

Catatan penting dari kehadiran Wallace di Ternate adalah menegaskan Ternate sebagai episentrum peradaban dunia (khazanah berharga pengetahuan biologi modern). Sungguh Moloku Kie Raha meninggalkan jejak sejarah masa lalu yang begitu mendunia, sekali lagi bukan saja karena tanaman rempah semata melainkan keragaman flora dan fauna lainnya yang menanti kita untuk menggali kembali jejak kejayaan dan misteri kekayaan yang belum terungkap di negeri ini, termasuk melalui kegiatan Ekspedisi Jalur Rempah 2018 kini.

Harapan kita bersama, kegiatan ini menjadi langkah penting dalam melanjutkan tradisi intelektual Wallace dengan kehadiran para peserta dari kalangan mahasiswa untuk belajar banyak hal dari daerah-daerah yang disinggahi kemudian menuliskannya sebagai sumber informasi sekaligus referensi bagi mereka yang ingin mengetahui potensi dan peluang dari negeri Moloku Kie Raha dimasa mendatang. Berbagai latar belakang disiplin keilmuan para peserta ekspedisi (Geografi, Biologi, Sejarah, Sosiologi, Antropologi, Arsitektur, dll) merupakan modal penting bagi tercapainya tujuan penyelenggaraan kegiatan ini.

Bagi para mahasiswa biologi dan geografi misahlnya dapat memahami dengan belajar dari laboratorium alam Moloku Kie Raha tentang suksesi ekologi dari peristiwa letusan gunung merapi di Pulau Ternate (Gamalama) dan Makean (Kie Besi) pada beberapa waktu silam. Letusan tersebut pada kurun waktu tertentu dapat dikatakan letusan raksasa (supervulcano) yang mengubah sejarah hidup masyarakat setempat. Pola migrasi dan adaptasi dilingkungan baru sebagai daerah pengungsian memaksa bertahan hingga menyatu dengan warga setempat secara turun temurun sebagaimana yang terjadi pada masyarakat Pulau Makean di Kao Kabupatem Halmahera Utara saat ini.

Penulis saat di Danau Toba Sumatera Utara

Sekedar mengingatkan kita, letusan gunung Toba (74.000) tahun lalu, erupsi Tambora (1815) yang mengguncang dunia, letusan Krakatau (1883) yang membangunkan dunia, eruspsi Kie Besi di Makean (1975), erupsi Gamalama (1980), erupsi gunung Banda, gempa dan tsunami di Aceh (26/12/2004), dan terkini tsunami kota Palu beberapa hari lalu merupakan sebuah pelajaran untuk memahami situasi masyarakat negeri Moloku Kie Raha dimasa lalu dari strategi adaptasi terhadap bencana, pola migrasi, kelaparan, wabah penyakit serta kematian. Semua peristiwa yang disebutkan ini menjadi iktiar kita bersama sekaligus pelajaran penting begi kepentingan ilmu pengetahuan. Semua yang terjadi bukanlah sebuah kebetulan atau tanpa arti, melainkan sarat makna bagi mereka yang berpikir dan berilmu serta beriman tentunya.

Penulis saat di Puncak Gunung Gamalama Ternate & Puncak Gunung Banda Neira

Kedua gunung di Moloku Kie Raha yang disebutkan diatas merupakan lokasi kegiatan Ekspedisi Jalur Rempah, sekaligus menjadi bagian dari total 127 gunung aktif yang terletak di lingkaran cincin api (ring of fire) Nusantara. Dibalik semua peristiwa alam  tersebut, terkandung peluang untuk memajukan kebudayaan, merawat tradisi intelektual, melestarikan ekologi alam bagi generasi mendatang sekaligus investasi kepariwisataan. Alam tak bisa dilawan, belajar dan memahami seraya beradaptasi adalah cara efektif dari “sabda alam” jika tak mau disebut “bencana”. Energi dari patahan bumi tak dapat kita bendungi, hanya dengan do’a dan tetap waspada dengan secercah harapan bagi masa depan yang lebih baik. Di akhir tulisan ini perkenankan saya mengajak kita semua menyantuni dan  mendoakan para korban gempa dan tsunami kota Palu seraya bersama merangkai harap menepis ragu untuk sadari bahwa tiada yang sia-sia dari segala peristiwa dan cobaan ini. Semoga….!!!

 

Oleh: Rinto Taib

(Penulis Buku Ekspedisi Moti Verbond Merajut Nusantara & Pegiat Traveling))