VICTORIA JKPI (Catatan atas Penghargaan Kebudayaan 2018 & 1 Dekade JKPI)

VICTORIA JKPI (Catatan atas Penghargaan Kebudayaan 2018 & 1 Dekade JKPI)

Tanpa terasa berjalannya waktu, kota-kota pusaka yang bernaung dalam wadah Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) jelang memasuki usia ke- 10 tahun (satu dekade) di belantika urusan kepusakaan (heritage) Indonesia. Seiring berjalannya waktu pula, banyak manfaat yang dirasakan baik secara langsung maupun tidak langsung oleh para anggotanya yang kini telah mencapai 66 anggota jumlahnya yang terdiri dari kota dan kabupaten yang tersebar luas di Indonesia.

Sejak dideklarasikan pada tanggal 25 Oktober 2008 lalu di kota Solo dan  dilangsungkan di joglo belakang rumah dinas Walikota Solo Ir. Joko Widodo (kini Presiden RI). dengan beberapa tujuan antara lain:

  1. Mengembangkan kerja sama di antara kota-kota yang mempunyai pusaka alam dan pusaka budaya yang penting
  2. Mengembangkan kerja sama untuk melestarikan pusaka bersama para pemangku kepentingan
  3. Mendorong peran aktif  masyarakat dalam pelestarian pusaka dan pengembangannya yang positif dalam kehidupan bermasyarakat
  4. Menginventarisasi kekayaan warisan pusaka dari anggota JKPI
  5. Mengembangkan pemahaman keberagaman alam  dan  budaya untuk memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia
  6. Sebagai wadah promosi pusaka yang ada bagi anggota JKPI

Sebagai sebuah organisasi nirlaba, JKPI berkiprah tanpa mengenal lelah dengan berbagai program rutin serta pendampingan bagi anggotanya yang secara mandiri, berorientasi heritage, non komersial, bebas kepentingan dan intervensi politik praktis. Inilah salah satu faktor menentukan keberhasilan JKPI dalam godaan kepentingan elit politik lokal dan nasional yang berkutat pada Pilpres atau Pilkada dalam siklus lima tahunan. Fokus JKPI adalah bertumpu pada program pelestarian dan pengembangan pusaka bukan sekedar sebagai warisan semata melainkan modal membangun masa depan dalam perspektif pembangunan berkelanjutan dengan menjadikan kebudayaan dan heritage sebagai elemen dasar pembangunan.

Setelah sukses menyelenggarakan kongres pertamanya di kota Sawahlunto, Sumatera Barat pada oktober 2009, Kota Ternate kemudian dipercayakan sebagai tuan rumah penyelenggaraan Rakernas pertama  tepat pada Maret 2010 sebagai upaya untuk memperkuat program kerja dalam beberapa cakupan. Konsistensi mempertahankan serta meningkatkan kualitas program kerja terus dilakukan yang secara langsung atau tidak langsung berdampak pada kualitas program kelembagaan masing-masing daerah anggotanya. Kota Ternate adalah salah satu dari sejumlah anggota yang merasakan langsung manfaat dari kehadiran JKPI ini.

Implementasi program JKPI serta program pendampingan kota pusaka yang terus digalakkan secara sinergis bersama pemerintah daerah serta lintas kementerian terkait telah secara signifikan berdampak langsung bagi masyarakat. Berbagai capaian tersebut merupakan buah dari semangat dan kerja keras setiap aktor dan pelaku pembangunan yang berperan sebagai objek sekaligus subjek melalui kegiatan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait yang diawasi langsung oleh kepala daerahnya.

Program kota tematik Ternate sebagai kota Pusaka misalnya adalah didasari atas tiga pertimbangan, pertama: Kota Ternate memiliki keunikan pusaka yang khas dan otentik sebagai karakter yang kuat. Kedua, Ternate sebagai spirit pengembangan kota-kota tematik di wilayah Indonesia Timur. Ketiga, Kota Ternate dapat menjadi studi kasus yang unik dan menarik terkait isu ancaman kebencanaan, terutama dengan keberadaan kota Ternate berada di bawah kaki gunung api Gamalama dan menjadi salah satu Ring of Fire (cincin api).

Berbagai terobosan terus dilakukan tanpa mengenal lelah dibawah kepemimpinan Dr. Burhan Abdurahman, SH.MM semenjak periode pertama kepemimpinannya (2010-2015) maupun periode kedua (2015-2020). Setidaknya, raihan apresiasi atas prestasi bidang kebudayaan yang pernah diraih antara lain Penghargaan Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, yang diterima langsung oleh Drs. M. Tauhid Soleman, MSi (Sekda Kota Ternate) didampingi penulis pada (22/9/2015) lalu di Jakarta.

Dalam pembacaaan saya, peran pemerintah kota Ternate dalam mempertahankan identitas kota sebagai kota Pusaka dilakukan dengan memelihara ingatan kolektif, mempertahankan ikatan sejarah, menjaga hubungan batin penduduk dengan ruang hidup mereka, dan mengangkat martabat penghuni kota melalui upaya revitalisasi cagar budaya serta nilai-nilai budaya yang telah dilakukan secara maksimal selama ini bersama JKPI. Yang terkini adalah program East West Cultural Observatory sebagai produk tindaklanjut gagasan cerdas dari pada kurun empat tahun silam tentang Museum Timur Barat dari hasil diskusi Dr. Burhan Abdurahman, SH.MM (Walikota Ternate), Asfarinal, IAI (Direktur eksekutif FKPI) dan Taufik Razen (Staf ahli bidang Multikultural Kemenpar RI).

Menindaklanjuti gagasan brilian tersebut, pada tanggal 27 Agustus lalu, Bpk. Dr. Burhan Abdurahman, SH.MM (Walikota Ternate) didampingi Ketua Bappelitbangda Kota Ternate (Dr. Said Assagaf), penulis bersama Bpk. Ir. Arifin Umasangadji,  MTP (Staf Ahli Walikota) berdiskusi secara mendalam untuk mematangkan program Museum Timur Barat sebagaimana gagasan awal yang terlahir pada tiga tahun silam. Hasil diskusi tersebut mengerucut pada sebuah nama yang disebut East West Cultural Observatory.

Simpulan saya dari diskusi ini bahwa Museum Timur Barat telah kadaluarsa dan tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan peluang Ternate untuk tampil dalam tatanan dunia global saat ini. Terkadang, megangkat kejayaan warisan kolonial tidak pada porsinya dapat dianggap sebagai sikap mengagungkan bangsa kolonial dimasa lalu, sehingga kita harus lebih responsif dengan kebutuhan dunia global yang lebih sesuai dengan keunggulan Ternate sebagai salah satu lokus penting dalam peta keilmuan modern. A. R. Wallace adalah salah satu tokoh ilmuan yang secara langsung bersinggungan dengan Ternate dan dikenal dunia karena The Letter from Ternate yang ditulisnya kepada Charles Darwin pada tahun 1858 dan mengilhami Darwin untuk melahirkan Teori Evolusi yang terkenal itu.

Potensi ini yang lebih tepat untuk diangkat sesungguhnya, mengingat kondisi Museum daerah yang dikelola Pemda seperti Museum Rempah dalam Benteng Oranje masih minim koleksi, Museum Sultan Iskandar Muhammad Djabir Sjah yang dibangun tahun 2010 hingga sekarang masih kosong, demikian pula kondisi koleksi Museum Memorial Kesultanan Ternate yang hingga saat ini, semuanya belum memiliki sumber daya manusia seperti tenaga teknis serta manajemen pengelolaan sebagaimana amanat UU Cagar Budaya No. 11 tahun 2010 ataupun Peratura Pemerintah No. 66 Tentang Museum.

 

Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi 2018 yang telah menempatkan JKPI sebagai salah satu nominatornya adalah sebuah  kado istimewa bagi internal JKPI jelang kongres ke-10 (dasa warsa) di Solo pada Oktober mendatang. Semoga JKPI terus eskis dan berkiprah serta menjadi agen pemajuan kebudayaan sekaligus menjadi lokomotif dalam meningkatkan pemahaman dan apresiasi daerah Kota dan Kabupaten sebagai anggotanya maupun masyarakat Indonesia secara lebih luas terhadap nilai-nilai budaya bagi masa depan bangsa dan negara Republik Indonesia tercinta. Braco JKPI, Victoria JKPI.

Salam Kebudayaan !

Oleh: Rinto Taib