HUT Ngawi Ke-660, Boyong Pusaka dan Jamasan Pusaka

HUT Ngawi Ke-660, Boyong Pusaka dan Jamasan Pusaka

Dalam rangka memperingati Hari Jadi nya yang ke-660, Pemerintah Ngawi dalam Memasuki hari ke dua prosesi Hari Jadi Ngawi ke-660 dan seusai melaksanakan ziarah makam leluhur. Senin ( 2/07/2018 ), Pemerintah Kabupaten Ngawi mengadakan acara sakral yang dilakukan setiap tahun yakni prosesi jamasan dan boyong pusaka yang dilakukan di Kuncungan Pendopo Wedya Graha pada hari Selasa ( 3/07/2018 ). Pukul 08.00 Wib.

Jamasan Pusaka ini berupa dua buah tombak Tombak Kyi Singkir dan Kyai Songgolangit serta dua payung yakni payung Tunggul Wulung dan Tunggul Warono. Acara ini dipimpin langsung oleh Bupati Ngawi Budi Sulistyono yang diikut i anggota Stap Ahli, Kepala OPD, Forpimda sarimbit, KABAG, KABAN, KADIN, KAKAN, CAMAT,Ka. SD-SMP-SMA-SMK, Ka UPTD Pendidikan, Ka. UPT Puskesmas, dan sejumlah Pejabat eEelon 3 Kabupaten Ngawi.

Rangkaian acara diawali dengan tari Golek Sri Mangayun Oleh Sanggar Tari Eko Budaya Surakarta saat penjemputan pusaka (Boyong Pusoko) di dalam Pendopo Wedya Graha yang dilakukan oleh sesepuh Permadani (Luntara, Joko Dahono, Pudwiyanto) yang dipimpin Sugito anggota DPRD Ngawi sekaligus Ketua Permadani Cabang Ngawi .

Iringan pangasto pusoko, Ir. Yusuf Rosyadi .M.Si.(Tumbak Kyai Singkir ), Drs. Sugeng, M.Si (Tumbak Kyai Songgo Langit) , Drs. Sunarto (Songsong Kyai Tunggul Wulung), Drs.Yuli Prasetyo (Songsong Kyai Tunggul Warono) di ikuti oleh Ferkopinda (Bupati, Wabup , Ka. DPRD, KAJARI, KAPOLRES, DANDIM, PN, YON ARMED 12, SEKDA, Dan Ka. BANK JATIM.

Prosesi penyerahan pusaka dilakukan oleh pemangku adat kepada Bupati dan Wakil Bupati. Yang di iringi gending jawa dari Krawitan Mardi Budaya Surakarta menambah aura kesakralan prosesi. Selanjutnya melalui Bupati dan Wakil Bupati pusaka diserahkan kepada pejemput pusaka untuk dilakukan jamasan oleh panglolos pusoko , Dr. Pujo dan Gunawan di teras depan Pendopo Wedya Graha.

Bupati Budi Sulistyono beserta Unsur Forpimda berbaris bersama pejemput pusaka menuju teras depan pendopo Wedya Graha untuk mengikuti prosesi jamasan pusaka yang dilakukan oleh sesepuh agung . Puncak dari acara ini yakni penyerahan pusaka satu persatu untuk dilakukan jamasan di depan Pendopo Wedya Graha dengan diiringi doa keselamatan.

Setelah melakukan semua prosesi Jamasan Pusaka Bupati dalam sambutannya mengatakan , “Pada hari ini kita mengadakan jamasan pusaka Kyai Tundung dan kyai Songgo langi (Piadel kabupaten ngawi) yang tiap tahun di adakan jamasan / di bersihkan, setelah jamasan pusaka di bawa ke Ngawi Purba sebagai tempat bibit awit asal pemerintahan kabupaten Ngawi, setelah di leremkan satu malam dan tirakatan keesok harinya kembali di boyong ke pusat Pemerintahan yang baru (Pendopo Kabupaten) dengan mengunakan kereta kencana , untuk dua tahun sekali di adakan kirap pusaka“ .

Mengakhiri sambutannya Bupati menegaskan , “ Masyarakat harus tahu betul sejarah Kota Ngawi 660 Tahun yang lalu, Pemerintah awal mulai dari Dusun, Desa sampai tingkat Kabupaten mulai terbangun di beri pengakuan dari lingkup mataraman awal mula pemerintahan Ngawi, dan kita tidak boleh melupakan budaya adat istiadat, seperti Keris itu merupakan sesuatu kekuatan masyarakat pendahulu kita, maka kita harus uri-uri, melestarikan jangan sampai kita melupakan karena sejarah adalah perjalan manusia ke peredapan yang lebih baru “
Harapan Bupati Ngawi di akhir kegiatan Jamasan Pusaka, “ Dari sejarah yang terbangun di Kabupaten Ngawi, pendahulu kita membangun ngawi sudah selayaknya kita yang sudah di makmurkan sekian ratus tahun yang lalu oleh pendahulu kita / leluhur untuk meneruskan pembangunan itu, tentang keadilan hukum, ekonomi, dan Budaya “ jelasnya.

wartahukum.net/Image rri.co.id