Pagelaran Purnama Seruling Penataran, Melestarikan Seni dan Budaya

Pagelaran Purnama Seruling Penataran, Melestarikan Seni dan Budaya

Pagelaran Purnama Seruling Penataran bersama Dewan Kesenian Kabupaten Blitar sukses digelar, Sabtu (31/3/2018) malam. Acara berkelas internasional yang digelar di Candi Penataran dihadiri langsung oleh Bupati Blitar Rijanto.

Dalam Sambutannya Bupati Blitar Rijanto menyambut baik digelarnya acara Purnama Seruling Penataran (PSP) yang pelaksanaanya sempat terhenti selama satu tahun.

Meski tak lagi disokong APBD, PSP edisi 2018 dapat terlaksana secara mandiri berkat dukungan sponsor. Bupati berharap acara ini dapat memberikan edukasi, menumbuhkan, serta mengangkat kebudayaan lokal dan mancanegara.

“Saya ingatkan kepada semuanya saja bahwa Purnama Seruling Penataran ini dikemas untuk menggali budaya lokal, budaya luar daerah kita, dan budaya mancanegara. Malam hari ini ada seniman asal Argentina dan Costa Rica yang tampil. Dan semoga kedepan akan lebih banyak lagi seniman mancanegara yang ikut tampil di acara ini. Tak lupa kami ucapkan kepada para sponsor acara ini. Berkat sponsor acara ini sukses digelar,” kata Bupati Rijanto.

Lebih lanjut Bupati menyampaikan, acara Purnama Seruling Penataran  merupakan salah satu upaya dari Dewan Kesenian Kabupaten Blitar dalam menggalakkan wisata budaya. PSP edisi kali ini dihadiri tak kurang dari 1000 dari seluruh wilayah Indonesia. Di antaranya Malang, Surabaya, Jogjakarta, Solo, Bandung, Jakarta, dan Pontianak.

“Wisata di Blitar semakin tumbuh dan berkembang. Pagelaran PSP ini merupakan wisata budaya yang sangat ditunggu-tunggu. Disamping Kabupaten Blitar punya banyak destinasi wisata. Kawasan wisata di Nglegok ini ada Candi Penataran, Bukit Teletubbies dan wisata Ikan Koi. Semoga dengan perkembangan yang luar biasa ini taraf ekonomi masyarakat Kabupaten Blitar akan semakin meningkat,” tukas Bupati.

Sementara Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar, Wima Brahmantya, menjelaskan bahwa Purnama Seruling Penataran edisi kali ini digelar dengan mengembangkan tema cerita Panji. Di dalam cerita itu, tergambarkan kerinduan Panji Asmorobangun dan Dewi Candrakirana.  Tema Kidung Wuyung Sang Apanji merupakan penggambatan kerinduan Panji Asmorobangun kepada Dewi Candrakirana.

“Dalam hal ini, PSP dapat digambarkan sebagai Dewi Candrakirana yang cantik dan diperebutkan oleh banyak orang, yang salah satunya adalah Panji Asmorobangun yang digambarkan sebagai penonton setia PSP. Relasi Kerinduan inilah yang akan ditampikan oleh PSP tahun 2018 ini,” terang Wima Brahmantya.

Wima menambahkan, panji adalah cerita populer pada masa Kerajaan Kediri hingga Kerajaan Majapahit. Tak hanya dikenal di Nusantara, Panji juga terkenal hingga mancanagara seperti di Negara Malaysia, Thailand, Filiphina, hingga Kamboja.

“Panji itu adalah cerita made in Nusantara. Tidak seperti misalnya Ramayana, yang diadopsi dari India. Candi Penataran ini adalah salah satu  pustaka terbesar Panji, sebagaimana bisa kita saksikan di bagian-bagian relief candi,” terangnya.

Purnama Seruling Penataran edisi kali ini akan tetap mengusung format pakem yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Yaitu akan menampilkan seniman lokal Blitar, seniman nasional, seniman internasional, dan ditutup oleh sajian penampilan dari Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.

PSP 2018  menampilkan Dadak Merak Joko Suro dari Blitar, Rampak Cilempung dan Karinding dari Sunda, Christian Mejia dari Kostarika, Mallena Matos dari Argentina, Spesial perform Dewan Kesenian Kabupaten Blitar, dan 1.000 barong yang menampilkan barong-barong Nusantara seperti dari Ponorogo, Tulungagung, Banyuwangi, hingga Kalimantan Selatan.

“Semangat PSP untuk mengolaborasikan kesenian dari seluruh belahan dunia di Blitar adalah satu wujud penggambaran dari panggung persaudaraan dan perdamaian dunia. Dalam PSP kita undang seniman mancanegara supaya kita ingat bahwa kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang bisa berdiri tegak di depan persaudaraan dan perdamaian dunia,” tegasnya.

Seni dan budaya sambung Wima, berfungsi sebagai pemersatu diantara perbedaan suku-suku, ras, dan bangsa dari seluruh dunia.”Jika kita bicara tentang politik kita akan bicara tentang dominasi, jika kita bicara ekonomi seringkali ujungnya adalah dominasi. Tapi jika kita bicara tentang seni dan budaya maka kita akan belajar untuk mengenal, kita belajar untuk memahami, dan kita belajar untuk berbagi, karena dunia lebih membutuhkan lebih banyak cinta dan kasih sayang,” tandasnya.

blitartimes.com/Image m.jatimtimes.com